Orasi Ilmiah
Pengukuhan Guru Besar
Bidang Ilmu Pendidikan Kewarganegaraan
Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Jakarta
Bismillahirrahmaanirrahim
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bapak Pimpinan Sidang Senat Universitas Negeri Jakarta
Para Anggota Senat Universitas Negeri Jakarta
Bapak-bapak dan Ibu-ibu Pimpinan Universitas Negeri Jakarta yang saya hormati
Bapak-bapak dan Ibu-ibu Dosen, Karyawan, Mahasiswa,
Handai Taulan dan Para Undangan yang saya kasihi.
Ahamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT karena atas berkat dan limpahan rahmat-Nya maka kita semua berada dalam keadaan sehat wal’afiat dan berkesempatan hadir di tempat yang berbahagia ini untuk mengikuti rapat senat terbuka UNJ dalam rangka Orasi Pengukuhan Guru Besar atas nama saya sendiri yang telah diangkat menjadi Guru Besar di UNJ pada 1 Januari 2008.
Secara khusus, saya pribadi mengucapkan terima kasih yang tulus kepada Rektor UNJ, Bapak Dr Bedjo Sujanto, M.Pd., Ibu Prof. Dr. A. Suhaenah Suparno, Ketua Komisi Akademik Senat UNJ serta seluruh Anggota Senat UNJ, dan kepada Panitia Penyelenggara Orasi Pengukuhan ini, atas kepercayaan, penghargaan dan kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menyampaikan Orasi Pengukuhan Jabatan Guru Besar di depan Rapat Senat Terbuka UNJ, dan para undangan serta hadirin yang saya muliakan.
Ucapan terima kasih saya tujukan kepada Bapak Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi yang telah memperkuat usulan Senat UNJ, memberi pengakuan dan penghargaan sehingga saya dapat memangku jabatan ini, dan kepada Bapak Menteri Pendidikan Nasional yang telah mengeluarkan keputusan dan menetapkan jabatan akademik untuk saya.
Hadirin yang saya hormati
Dengan kerendahan hati saya mohon perhatian dan kesabaran beberapa saat dari bapak-bapak dan ibu-ibu untuk mengikuti dan mendengarkan orasi saya yang berjudul: Pembentukan Karakter Bangsa Sebagai Esensi Pendidikan Kewarganega- raan. Judul ini sengaja dipilih berdasarkan minat dan bidang kajian keilmuan yang saya tekuni selama ini, yang sesuai dengan Surat Keputusan Pengangkatan saya sebagai guru besar dalam bidang Ilmu Pendidikan Kewarganegaraan.
Mengapa saya tertarik dengan judul ini? Judul ini sangat menarik untuk saya kemukakan karena fenomena dan fakta empiris yang diberitakan di mass media akhir-akhir ini merupakan gambaran realita kehidupan bangsa Indonesia yang sampai saat ini masih mengalami krisis multidimensi. Jika keadaan ini dibiarkan berlarut-larut, kita akan sulit mengejar ketertinggalan dalam upaya mencapai Millenium Developments Goals (MDG’s), yaitu: (1) menghapuskan tingkat kemiskinan dan kelaparan; (2) mencapai Pendidikan Dasar secara Universal (3) mendorong kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan ; (4) mengurangi tingkat kematian anak; (6) memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya; (7) menjamin pembangunan berkelanjutan dan pelestarian lingkungan; dan (8) mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan (United Nations Development Group, 2003). Tujuan ini dapat tercapai jika didukung oleh masyarakat dan bangsa yang berkualitas atau SDM Indonesia yang unggul.
Realita menunjukkan, di dalam kehidupan sehari-hari masih saja ditemukan orang cerdas tetapi kurang arif, orang kaya tetapi tidak dermawan, orang berkuasa tetapi tidak amanah, tokoh masyarakat tetapi tidak memberi teladan, pemimpin tetapi tidak berpihak pada kepentingan bersama (rakyat banyak), saling menjatuhkan, pencurian benda-benda kuno yang menyimpan sejarah, pengeboman, dan tindakan-tindakan anarkis-destruktif lain yang sangat merugikan kelanjutan kehidupan bangsa. Untuk itulah peran pendidikan sangat penting, sebagaimana tersirat dan tersurat dalam Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1 ayat 2 dikatakan bahwa: Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.
Dalam pasal 3, dikatakan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Hal ini dijelaskan lebih lanjut dalam standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan dasar yang bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Selanjutnya standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan menengah umum bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut (PP. 19 tahun 2005). Dengan kata lain, pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi kecerdasan intelektual, spiritual, sosial, dan moral peserta didik, sebagai potensi karakter bangsa.Hal ini mengandung pesan bahwa pendidikan kewarganegaraan ikut mengambil peran strategis dalam membentuk karakter bangsa.
Sehubungan dengan hal tersebut maka saya mencoba menguraikan beberapa hal yang terkait dengan esensi pendidikan kewarganegaraan dalam pembentukan karakter bangsa.Esensi Pendidikan Kewarganegaraan adalah pembangunan watak dan karakter bangsa. Seperti dikemukakan oleh Malik Fajar, bahwa Pendidikan kewarganegaraan merupakan wahana pengembangan kemampuan, watak dan karakter warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab (Fajar, 2004: 6-8).
Istilah yang sering digunakan selain pendidikan kewarganegara- an adalah civics. Istilah civics hampir sama maknanya dengan kata citizenship. Pengertian kata Civics dalam hal ini merujuk pada ilmu kewarganegaraan yang membicarakan hubungan antara:
(a) Individu dan perkumpulan yang terorganisir (organisasi sosial, organisasi ekonomi, dan organisasi politik);
(b) Individu dan negara.
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan satu di antara tradisi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial yakni citizenship tranmission. Saat ini citizenship tranmission telah berkembang menjadi tiga aspek pendidikan Kewarganegaraan (citizenship education), yakni aspek akademis, aspek kurikuler, dan aspek sosial budaya (Winataputra, 2004). Pendidikan kewarganegaraan merupakan bidang kajian yang menghubungkan berbagai dimensi ilmu seperti psikologi, sosial budaya, ilmu politik dan ilmu pendidikan yang relevan. Hal ini berimplikasi terhadap proses pendidikan bagi warga negara Indonesia dalam konteks sistem pendidikan nasional.
Pendidikan kewarganegaraan adalah:
- bidang kajian yang ditopang oleh berbagai disiplin ilmu dan pengetahuan yang relevan, seperti: ilmu politik, hukum, sosiologi, antropologi, psikologi, filsafat dan agama yang digunakan sebagai landasan untuk melakukan kajian-kajian terhadap proses pengembangan konsep, nilai, dan perilaku demokrasi warga negara.
- kemampuan dasar yang akan dicapai adalah kemampuan intelektual dan sosial (berpikir, bersikap, bertindak, serta berpartisipasi dalam hidup bermasyarakat);
- sebagai upaya pengembangan daya nalar (state of mind);
- pendekatan pembelajaran yang digunakan lebih inspiratif dan partisipatif dengan menekankan pada pelatihan penggunaan logika,penalaran, perenungan, pengalaman kehidupan, dan pembentukan karakter;
- sebagai pembangunan karakter bangsa yakni proses pengembangan warganegara yang cerdas dan berdaya nalar tinggi (civic intelligence), tanggung jawab (civic respon- sibility), dan partisipasi (civic participation); dan
- laboratorium pembentukan watak, untuk memperoleh pemahaman, sikap, dan perilaku yang berkarakter.
Hadirin yang saya hormati
Selanjutnya marilah kita simak, hakikat dari tujuan Pendidikan Kewarganegaraan dalam mendidik warga negara yang baik, yang mencakup: (1) peka terhadap informasi baru yang dijadikan pengetahuan dalam kehidupannya; (2) terampil dalam menyerap informasi; (3) mampu mengorganisasi dan menggunakan informasi; (4) mampu membina pola hubungan interpersonal dan partisipasi sosial; dan (5) dapat menjadi warga negara yang memiliki komitmen terhadap nilai-nilai karakter bangsa.
Terkait dengan nilai-nilai kemanusiaan dan karakter bangsa, dalam buku “Credibility” karya Kouzes dan Posner (1993) seperti yang dikutip Soemarno (2004) ditemukan 200 ciri karakter, dan empat di antaranya menempati urutan teratas. Empat karakter tersebut adalah:
(1) kejujuran; (2) pandangan ke depan; (3) memberi inspirasi dan (4) keahlian. Jika dipahami lebih dalam, keempat ciri ini sudah lama dicontohkan oleh sikap dan perilaku Nabi Muhammad SAW yaitu: (1) jujur dan benar; (2) terpercaya; (3) keterbukaan; dan (4) cerdas, arif dan bijaksana.
Apakah karakter itu ? Dalam buku yang sama dijelaskan bahwa karakter adalah alasan-alasan yang disadari atau tidak disadari mengapa seseorang menunjukkan perilaku tertentu.Selanjutnya Freud memaknai karakter sebagai sistem upaya yang melandasi perilaku. Dengan pengertian ini dapat dijelaskan bahwa karakter bangsa adalah alasan-alasan yang disadari atau tidak disadari yang menjadi pedoman perilaku seseorang sebagai bangsa. Dengan kata lain nation character adalah jiwa dan prinsip spiritual yang menjadi sebuah ikatan bersama baik dalam hal kebersamaan maupun dalam hal pengorbanan sebagai sebuah bangsa.
Bung Karno pada sejarah masa lalu sangat memperhatikan dan mendukung upaya pembangunan karakter bangsa Indonesia yang ditanamkan dan diwujudkan sebagai karakter bangsa yang mencerminkan dorongan hati nurani setiap individu sebagai bangsa Indonesia, dalam kesadaran multikultural yang tidak mungkin dilebur sebagai karakter tunggal atau melting pot.
Adapun nilai-nilai karakter bangsa yang perlu ditransformasi- kan kepada siswa didik sedini mungkin disarikan dari beberapa sumber bacaan, antara lain:
- Keimanan dan Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa;
- Jujur yaitu memiliki sikap dan sifat yang luhur sebagai warga negara dan merupakan suatu keniscayaan. Kejujuran merupakan kunci bagi terciptanya keselarasan dan keharmonisan hubungan antar warga negara dengan negara, memiliki misi dalam mengentaskan kemiskinan dan dalam meningkatkan kesejahteraan bersama ;
- Adil adalah menempatkan sesuatu secara proporsional. Tujuan yang baik tidak akan diwujudkan dengan cara-cara yang tidak adil. Penggunaan cara-cara yang tidak adil adalah bentuk pelanggaran hak asasi dari orang yang diperlakukan tidak adil.
- Rasa hormat dan tanggung jawab terhadap sesama warga negara terutama dalam konteks adanya pluralitas masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai etnis, suku, ras, keyakinan/agama, dan ideologi politik (komitmen bersatu),turut bertanggung jawab menjaga keharmonisan hubungan antar etnis serta keteraturan dan ketertiban negara yang berdiri di atas dasar pluralitas tersebut (Bhineka Tunggal Ika);
- Sikap kritis terhadap kenyataan empiris (realitas sosial, budaya, dan politik) maupun terhadap kenyataan supra empiris atau metafisik (agama, mitologi, kepercayaan). Sikap kritis juga harus ditunjukkan pada diri sendiri.
- Sikap kritis pada diri sendiri itu tentu disertai sikap pemahaman terhadap pendapat yang berbeda;
- Sikap terbuka didasarkan atas kesadaran akan pluralis- me dan keterbatasan diri yang akan melahirkan kemam- puan dalam menahan diri, tidak secepatnya menjatuh- kan penilaian atau pilihan;
- Rasional yaitu memiliki kemampuan dalam mengambil keputusan secara bebas dan logis.Ini merupakan hal yang harus dilakukan. Keputusan-keputusan yang di-ambil secara rasional akan melahirkan sikap yang tegas dan pemikiran yang logis.
- Cerdas dan arif yakni memiliki Inteligensi jamak. Inteligensi merupakan kemampuan untuk memecahkan persoalan dan dapat menghasilkan produk dalam suatu seting yang bermacam-macam dalam situasi yang nyata. Intelegensi seseorang bukan hanya diukur dengan tes tertulis, melainkan lebih tepat diukur melalui cara bagaimana orang itu memecahkan persoalan dalam kehidupan yang nyata secara cerdas dan bijak (arif).
Nilai-nilai karakter bangsa yang dipaparkan di atas didukung oleh Michele Borba (2008) dengan menggunakan istilah kecerdasan moral dan karakter. Tujuh kebajikan utama dalam membangun kecerdasan moral dan karakter bangsa yang kuat: (1) empati: memahami dan merasakan kesedihan/ penderitaan orang lain; (2) nurani: merasakan dan menerapkan cara berprilaku yang manusiawi; (3) kontrol diri: mengendalikan pikiran dan tindakan agar dapat menahan dorongan dari dalam atau mencegah dorongan dari luar sehingga dapat bertindak benar; (4) rasa hormat: menghargai orang lain dengan berlaku baik dan sopan; (5) kebaikan hati: menunjukkan kepedulian terhadap kehidupan dan perasaan orang lain; (6) toleransi: menghormati martabat dan menghargai hak semua orang meskipun keyakinan berbeda antara satu dan yang lain; dan (7) keadilan: berpikir terbuka, tidak berat sebelah, bertindak adil/ berpihak pada yang benar.
Hadirin yang saya hormati
Selanjutnya bagaimana cara mentransformasikan nilai-nilai karakter bangsa. Hakikatnya siswa dilatih untuk memfungsikan secara efektif anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang dibawa sejak lahir yaitu: (1) panca indera; (2) naluri; (3) akal: rasional, imajinasi, kreativitas; dan (4) hati nurani. Melalui pembelajaran pembentukan karakter (latihan dan pembiasan diri) untuk melakukan penanjakan keempat fungsi tersebut.
Dalam hal pengetahuan yang dicapai, pada tingkat tertinggi Al-Ghazali menyebutnya dengan akselerasi atau penanjakan ilmu (Mi’raj) pada manusia yang berpengetahuan yaitu menghamba- kan diri kepada-Nya. Maslow menyebutnya dengan Motive Self Transedental yang dalam tujuan Pendidikan Kewarganegaraan adalah meningkatkan Iman dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagai nilai karakter bangsa yang pertama dan ter-utama.
Segenap guru, termasuk guru pendidikan kewarganegaraan, me- miliki peran strategis dalam menginternalisasi dan mensosiali- sasikan nilai-nilai karakter bangsa, sesuai amanah dari Peratur- an Menteri Pendidikan Nasional No. 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru, yaitu:
(1) memahami substansi Pendidikan Kewarganegaraan yang meliputi pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge), nilai dan sikap kewarganegaraan (civic disposition), dan keterampilan kewarganegaraan (civic skills); (2) menye-lenggarakan pembelajaran yang mendidik; (3) bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia; (4) menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat; (5) menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa; (6) menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri; (7) menjunjung tinggi kode etik profesi guru. Hal ini diperkuat lagi dalam menerapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan, yang harus memuat nilai-nilai karakter bangsa dalam setiap mata pelajaran.
Terutama bagi guru mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan diharapkan mampu mengimplementasikan pembentukan karakter bangsa yang selaras dengan lingkungan lokal, nasional, dan internasional. Implikasinya diharapkan akan mewujudkan masyarakat madani Indonesia yang memiliki nilai-nilai esensial antara lain: (1) mempunyai respek terhadap kehidupan; (2) menghormati Hak Asasi Manusia; (3) mewujudkan kesetaraan dan keadilan; (4) saling menghormati dan toleran; (5) saling mengayomi; dan (6) integritas. (Kantor Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, 1999). Harapan ini adalah sebuah keniscayaan apabila kita ingin menyelamatkan bangsa dari krisis multidimensi. Moga-moga harapan ini menjadi kenyataan. Amien.
Hadirin yang saya hormati
Satu langkah tepat agar bangsa ini selamat dari krisis karakter kita perlu melakukan refleksi terhadap pendidikan pembentukan karakter bangsa pada siswa. Alice Miller dalam bukunya The Drama of The Gifted Child, memaparkan bahwa: (1) semua anak dilahirkan untuk tumbuh, berkembang, untuk hidup, mencintai dan untuk dapat mengungkapkan kebutuhan serta perasaan-perasaan mereka, demi perlindungan diri mereka; (2) anak-anak memerlukan rasa hormat dan perlindungan dari orang dewasa yang akan menanggapi mereka dengan serius, mencintai mereka, dan secara jujur membantu mereka untuk berorientasi kepada dunia. Apabila kebutuhan-kebutuhan vital itu tidak terpenuhi atau bahkan mendapatkan perlakuan sebaliknya maka integritas mereka akan rusak selamanya. Suasana lingkungan (sosial) ini akan memperkuat dalam mengembangkan potensi internal siswa. Adapun potensi internal siswa yang perlu dirangsang perkembangannya antara lain adalah kreativitas, konsep diri (pengendalian diri, kepercayaan diri, dan harga diri ) , bakat,minat, dan intelegensi jamak.
Secara rinci intelegensi jamak (Multiple Intellegences) meliputi: (1) kecerdasan bahasa (Linguistic Intelligence); (2) kecerdasan logika matematika (Logical Matematical Intelligence); (3) kecerdasan keruangan (Spatial Intelligence); (4) kecerdasan kinestetik (Bodily Kinestetic Intelligence); (5) kecerdasan musik (Musical Intelligence); (6) kecerdasan interpersonal (Interpersonal Intelligence) ; (7) kecerdasan Intra personal (Intrapersonal Intelligence); 8) intelegensi lingkungan dan (9)inteligensi eksistensial.
Hadirin yang saya hormati
Program strategis yang perlu dilakukan (Citizenship Education), adalah saling bersinergi antar berbagai komponen bangsa termasuk guru untuk mempersiapkan generasi masa depan bangsa yang berkarakter, yakni : (1) membantu per-tumbuhan jati diri bangsa, baik secara individual maupun kultural dan bersama-sama memahami kekuatan-kekuatan yang menyatukan ataupun yang memecah belah masyarakat; (2) melibatkan siswa dalam observasi dan partisipasi baik di sekolah maupun di masyarakat; (3) menjernihkan isu-isu kritis baik lokal maupun global; (4) mengembangkan perspektif siswa berdasarkan pengalaman hidupnya yang memungkinkan untuk melihat diri sendiri dalam konteks dunia yang luas; (5) mempersiapkan siswa untuk membuat keputusan berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi; dan (6) mengembangkan jiwa ke- pemimpinan bagi warga negara untuk berpartisipasi dalam pembangunan bangsa (Standard Course of Study and Grade Level Competenzies K-12 Social Studies, Nort Carolina).
Hadirin yang saya hormati
Ijinkanlah pada kesempatan ini saya memberikan Ucapan terima kasih kepada Guru kehidupan saya, Habib Muhammad Husein Aly Idrus beserta ibu yang telah membimbing dalam mencari dan menemukan kebenaran hakiki. Selanjutnya pada kesempatan ini pula saya akan menyapa guru-guru yang telah mendidik saya dari SD Karanganyar Indramayu, PGA 4thn Kandanghaur Indramayu, dan PGA 6 thn Putri Plered Trusmi Cirebon, para guru besar yang telah mendidik saya di perguruan tinggi sehingga saya dapat memperoleh jabatan Guru Besar di Universitas Negeri Jakarta.
Dengan hormat pula saya menyapa; Bapak. Drs. Kreshna Siregar, Bapak Prof. Dr. Jujun Suriasumantri, Ibu Prof. Dr. Toeti Soekamto, Ibu Prof. Dr. Maftuchah Yusuf (almarhumah), Bapak Prof. Dr. I Made Putrawan dan Prof. Dr. Lysna Lubis yang telah mendidik dan membimbing saya dalam penyelesaian program S1, S2 dan S3. Saya sangat berhutang budi kepada beliau-beliau yang telah memberikan kasih sayang kepada saya lewat pembimbingan dalam segala hal.
Sebagai penutup, pada kesempatan yang berbahagia ini saya menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua Ibunda Fatmawati dan Ayahanda Sirodjuddin (Almarhum) yang telah mengasuh dan membesarkan saya dengan penuh kasih sayang, Untuk suami dan anak-anak tercinta, saya sangat berterima kasih atas ketulusan, keikhlasan dan pengertian, serta selalu menerima saya apa adanya, selalu memberi semangat untuk saya dalam mencapai jabatan guru besar ini.
Akhirnya kepada Bapak Dekan FIS UNJ Dr. Achmad Husen, M.Pd. dan seluruh pimpinan Fakultas, Ketua Jurusan Ilmu Sosial Politik Dra. Etin Solihatin, M.Pd. serta seluruh teman-teman dosen di Jurusan Ilmu Sosial Politik, Fakultas Ilmu Sosial saya pun sangat berhutang budi dan berterima kasih atas segala bantuan dan dorongan yang diberikan kepada saya. Kepada semua nama yang saya sebutkan di atas dan semua panitia dan handai taulan serta seluruh hadirin saya mengucapkan terima kasih diiringi doa : Ya Allah ya Tuhanku, bukakanlah jalan menuju ridho Mu, berilah kasih sayang-Mu kepada mereka, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Amin! Jika ada tutur kata, sikap dan perilaku saya yang kurang berkenan di hati Ibu, Bapak, serta hadirin yang saya muliakan, mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya.
Kata bijak yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi kita semua : tanamkanlah buah pikiran dan prilaku baik maka kita akan menuai tindakan yang baik, tanamkan tindakan dan kita akan menuai kebiasaan, tanamkan kebiasaan dan kita akan menuai karakter, tanamkan karakter dan kita akan menuai kemenangan dan kebahagiaan (Diadaptasi dari Charles Reade dalam Michele Borba,2008).
Sebagai penutup saya akan membacakan puisi Karakter Anak Bangsa sebuah renungan bersama.
Wabillahitaufik walhidayah
Wassalamu alaikum Wr.Wb.
Daftar Pustaka
Al Ghazali, Imam. (1997) Di Balik Belaian Mata Hati,
Jakarta: Pustaka Amani.
Borba, Michele. (2008) Membangun Kecerdasan Moral, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Fajar, Malik. (2004). “Pendidikan Kewarganegaraan Menuju Nation and Character Building”, Semiloka Nasional tentang Revitalisasi Nasionalisme Indonesia Menuju Character and Nation Building, Jakarta, tanggal 18 Mei 2004.
Gardner, Howard. (1993) Multiple Intelligences, New York: Basic Book.
James, Kouzes & Barry Posner. (1993) Credibility, San Fransisco, CA: Jossey-Bass Publisher.
Kantor Menteri Negara Pemuda dan Olahraga. (1999) Pemberdayaan Generasi Muda Indonesia Memasuki Abad 21, Jakarta: Proyek Pembinaan Pemuda.
Nadiroh. (2007) Prospek dan Tantangan Civil Society di Indonesia, Editor Jonbi, Jakarta: Penerbit Yayasan John Hi-Tech Idetama.
Nadiroh. “Budaya Demokrasi Sebagai Parameter Keberhasilan Pendidikan Politik di Indonesia”, Social, Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial, Yogyakarta, Volume 1, Nomor 2, September 2004.
Miller, Alice. (2005) The Drama of The Gifted Child, Anak berbakat Mencari Identitas , Penerjemah. Nikmah Sarjomo, Jakarta: Alvabet.
PP 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Soedarsono, Soemarno. (2004) Character Building, Membentuk Watak, Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Soedarsono, Soemarno. (2006) Hasrat untuk Berubah, The Willingness to Change, Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Standard Course of Study and Grade Level Competenzies K-12 Social Studies, Nort Carolina,(http://www.edu.gov.on.ca/eng/
document/curricul/social/social.html).
Tight, Malcolm. (2002) Key Concepts in Adult Education and Training 2nd Edition, London & New York: Routledge Falmer.
United Nations Development Group, 2003. Indicators for Monitoring the Millennium Development Goals: Definitions, Rationale, Concepts and Sources. United Nations, New York.
UURI no. 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Winataputra, Udin S., (2004) Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Wahana Pendidikan Demokrasi Konstitusional RI”, Semiloka Nasional tentang Revitalisasi Nasionalisme Indonesia Menuju Character and Nation Building, Jakarta, tanggal 18 Mei 2004.
Yasin, Muhammad (2008) “Membangun Kesadaran dan Wawasan Kebangsaan Berlandaskan Konsensus Dasar Negara”, Ceramah Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional, pada Pembukaan Musyawarah Nasional XII mahasiswa Pancasila, Jakarta 28 Februari 2008.
B. Pendidikan Formal
| No | Nama Lembaga | Tahun Lulus |
| 1. | SD Karanganyar | 1974 |
| 2. | PGA 4 Th Kandanghaur | 1978 |
| 3. | PGA 6 Th Putri Plered Cirebon | 1980 |
| 4. | Pendidikan S1 PMP-KN (Civic Hukum) Jakarta | 1984 |
| 5. | Pendidikan S2 PKLH (Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup) | 1992 |
| 6. | Pendidikan S3 PKLH (Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup) | 1998 |
Judul Disertasi: Peranan Wanita dalam Meningkatkan Kondisi Hidup Sehat Keluarga (Suatu Survei tentang Keterkaitan antara tingkat pendidikan, kepedulian lingkungan, partisipasi dalam meningkatkan ekonomi keluarga dengan Kondisi Hidup Sehat di Indramayu Jawa Barat)
Dengan Yudicium Cumlaude
C. Pengalaman Kerja
| No | Jenis Pengalaman Kerja | Tahun |
| 1. | Guru Pendidikan Agama dan PP-KN di SD, SMP di Jakarta Utara dan Timur dan SMA Muhammadiyah 12 Jakarta Timur | 1980- 1986 |
| 2. | Dosen di IKIP Jakarta yang sekarang berubah menjadi Universitas Negeri Jakarta di Jurusan Ilmu Sosial Politik FIS UNJ | 1987 – Sampai Sekarang |
| 3. | Dosen program S2 dan S3 Pascasarjana UNJ
|
1998-2001 |
| 4. | Sekretaris Program Studi PKLH PPs UNJ | 1998- 2001 |
| 5. | Dosen program Manajemen Lingkungan, PKLH dan Manajemen Pendidikan Pascasarjana UNJ S2 dan S3
|
2004-sekarang |
| 6. | Ketua Unit Pembinaan dan Pengembangan Kemahasiswaan PPs UNJ | 2004 – Sekarang |
| 7. | Pemimpin Redaksi di beberapa Jurnal Ilmiah dan Buletin ( Jurnal Kewarganegaraan di FIS UNJ, Dinamika Kreativitas, dan Dinamika Pendidikan di PPs. UNJ) | 2005 -sampai sekarang |
| 8. | Wakil Pimpinan Umum Jurnal Pemberdayaan Perempuan Kantor Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia | 2006- sampai sekarang |
D. Seminar, Lokakarya dan Lainnya
| No | Nama Seminar, Lokakarya dan Lainnya | Tahun |
| 1. | Mengikuti Seminar Nasional di ICMI | 1995 |
| 2. | Mengikuti lokakarya wakaf buku | 1995 |
| 3. | Mengikuti Pelatihan di Curtin University di Perth Australia tentang Teknology | 1996 |
| 4. | Memberikan materi ceramah tentang pemberdayaan pada Dosen – dosen IKIP Jakarta | 1996 |
| 5. | Memberikan materi ceramah tentang penulisan Ilmiah, pada acara penelitian dan penulisan ilmiah pada Mahasiswa Universitas Terbuka, | 1996 |
| 6. | Memberikan Materi ceramah berpikir kritis dan ilmiah pada acara Basic Training HMI | 1995 |
| 7. | Memberikan materi ceramah tentang Motivasi berprestasi pada acara Basic Training HMI | 1998 |
| 8. | Instruktrur dan fasilitator TOT Mata pelajaran PP-KN bagi guru terpadu tingkat Nasional | 1999 |
| 9. | Pemberdayaan wanita Muslimah | 1999 |
| 10 | Memberikan materi ceramah tentang penulisan Ilmiah, pada acara penelitian dan penulisan ilmiah pada Dosen-Dosen UPN | 2000 |
| 11 | Memberikan materi pelatihan tentang pola pantai bersih dan laut lestari pada masyarakat Muara Karang | 2000 |
| 12. | Memberikan Materi Pelatihan Tentang Pola Pantai Bersih Dan Laut Lestari Pada Masyarakat Cilincing | 2001 |
| 13. | Training Expert di Diklat Camat Depdagri kerjasama dengan JICA | 2005 |
| 14. | Memberikan Materi Pelatihan Penyusunan Program Pembangunan Daerah Yang Berbasis Berpikir Sistem | 2004 |
| 15. | Mengikuti Sarasehan Kerukunan antar Bangsa | 2004 |
| 16. | Koordinator Tim Penilai Calon Fasilitator Micro Teaching pada TOT DPRD Seluruh Indonesia Diklat Depdagri | 2004 |
| 17. | Memberikan Materi Pelatihan pada TOT Peningkatan Kapasitas Camat Seluruh Indonesia, pada Diklat Depdagri, tentang Pembelajaran yang berbasis Andragogy | 2004 |
| 18. | Memberikan Materi Pelatihan pada TOT Penguatan Peran DPRD Seluruh Indonesia, pada Diklat Depdagri, tentang Andragogy sebagai pembekalan dalam Micro Teaching Calon Fasilitator | 2004 |
| 19. | Memberikan materi Pelatihan tentang Strategi Pembelajaran pada TOT Diklat Fasilitator Guru Bidang Studi IPS MTs pada Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan | 2005 |
| 20 | Memberikan materi Pelatihan tentang HAM pada TOT Diklat Fasilitator Guru Bidang Studi IPS MTs pada Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan | 2005 |
| 21. | Memberikan materi Pelatihan tentang Social Studies pada TOT Diklat Fasilitator Guru Bidang Studi IPS Mts pada Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan | 2005 |
| 22. | Memberikan materi Pelatihan tentang Pembuatan Modul pada TOT Diklat Widya Iswara pada Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan | 2005 |
| 23. | Memberikan materi Pelatihan tentang Implikasi KBK terhadap Pembelajaran di Perguruan Tinggi kepada Dosen-Dosen UNISMA | 2005 |
| 24. | Memberikan materi Pelatihan tentang PTK (Penelitian Tindakan kelas) bagi Guru-Guru PPKN SMP Se DKI Jakarta | 2005 |
| 25. | Memberikan materi Pelatihan tentang Profesionalisme Guru PPKn bagi Guru-Guru PPKN SMP Se DKI Jakarta | 2005 |
| 26. | Melakukan Studi Banding dengan UKM Malaysia tentang Manajemen Lingkungan | 2005 |
| 27. | Pembelajaran Kewarganegaraan Sebagai Esensi dari Social Studies dalam Seminar Internasional di Semarang tentang tema Komparasi Pendidikan IPS Antar Bangsa (Tinjauan Kurikulum, Pembelajaran, Bahan Ajar, Guru dan Daya Dukung) yang disdelenggarakan oleh Himpunan Sarjana Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia (HISPISI) di Hotel Horison Kompleks Simpang Lima Semarang Jawa Tengah | 2006 |
| 28. | Nara Sumber pada POKJA Sosialisasi Kurikulum Pendidikan POLRI, Wisma Anggaeni | 2006 |
| 29. | Fasilitator dalam Evaluasi Soal Tes Sumatif Diktuk Ba Lemdiklat POLRI | 2006 |
| 30. | Fasilitator dalam Evaluasi Bahan Ajar Diktuk Ba Lemdiklat POLRI | 2006 |
| 31. | Nara Sumber dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan POLRI kerjasama antara Lemdiklat POLRI dengan IOM | 2006 |
| 32. | Konsultan dalam Program S1 PGSD Berasrama Direktorat Jendral PMPTK | 2006-2007 |
| 33. | Konsultan dalam Program Peningkatan Kwalifikasi Guru Melalui ICT dan KKG | 2006-2007 |
| 34. | Konsultan dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan POLRI kerjasama antara Mabes POLRI dengan ICITAP | 2006 |
| 35. | Tim Pakar Pokja PUG Bidang Pendidikan Depdiknas | 2007 |
| 36. | Tim Pokja Pendidikan Perempuan Depdiknas | 2008 |
E. Penelitian
| No | Nama Penelitian | Tahun |
| 1. | Penyelenggaraan Forum Kemitraan Pendidikan Lingkungan Hidup di Indonesia (Hasil Kerjasama dengan Bapedal) | 2000 |
| 2. | Peningkatan Kualitas SumberDaya Pesisir | 2000 |
| 3. | Keadaan dan Perkembangan Kegiatan Usaha Ekonomi Produktif Perempuan di 10 Kecamatan Lokasi Proyek P3EL (Hasil Kerajasama dengan Kantor Meneg PP) | 2000 |
| 4. | Upaya Pemberdayaan masyarakat miskin di DKI Jakarta melalui Deteksi Dini Kesehatan dan Pola Penyakit Secara Mandiri dan Terpadu | 2000 |
| 5. | Mekanisme Pemasaran Industri Rumah Tangga Usaha Ekonomi Produktif Perempuan (Hasil Kerjasama dengan Kantor Meneg PP) | 2000 |
| 6. | Pengembangan Pola Pantai Bersih Laut Lestari | 2001 |
| 7. | Pola Pengembangan Perencanaan Pengarus Utamaan Gender di Sektor Pertanian (Kerjasama dengan Kantor Meneg PP | 2002 |
| 8. | Studi Penyusunan Pola Perencanaan GSM Sektoral ( Kerjasama dengan Kantor Meneg PP) | 2002 |
| 9. | Peran dan Posisi Perempuan dalam Mengembangkan Usaha Ekonomi Produktif PIK Pulo Gadung | 2003 |
| 10. | Peran dan Posisi Perempuan Dalam Meningkatkan Ketahanan Ekonomi Keluarga | 2003 |
| 11. | Sikap Masyarakat terhadap Keterwakilan Politik Perempuan (dalam proses) | 2004 |
| 12. | Pengembangan Bahan Ajar Yang Berbasis Kompetensi pada mata Kuliah Perencanaan Pembelajaran PKn | 2004 |
F. Penulisan Modul atau Makalah
| No. | Judul | Tahun |
| 1. | Pembuktian daalm hukum acara Perdata | 1996/1997 |
| 2. | Keputusan Hakim dalam perkara Perdata | 1996/1997 |
| 3. | Banding | 1996/1997 |
| 4. | Pelaksanaan Keputusan | 1996/1997 |
| 5. | Belajar dan Pembelajaran | 2000 |
| 6. | Konstitusi UUD 1945 | 2003 |
| 7. | HAM | 2003 |
| 8. | Hukum Acara Perdata | 2003 |
| 9. | Pembelajaran yang berbasis Andragogi | 2004 |
| 10. | Andragogy | 2004 |
| 11. | Penyusunan Proposal Program | 2004 |
| 12. | Implementasi Berpikir Sistem Melalui Intervensi Organization Development (OD) | 2004 |
| 13. | Contextual Teaching and Learning | 2004 |
G. Penulisan Buku
| No | Judul | Tahun |
| 1. | Ilmu Politik, Kenegaraan, dan Hukum dalam PIPS | 1999 |
| 2. | Pendidikan Politik Bagi Generasi Muda | 1999 |
| 3. | PKn sebagai Social Studies | 2004 |
| 4. | Pendidikan Kewarganegaraan Masa Depan | 2004 |
| 5. | Hukum Agraria | 2005 |
| 6. | Metode Penelitian | 2005 |
| 7. | Prospek dan Tantangan Civil Society di Indonesia | 2007 |
H. Penulisan Artikel
| No. | Judul | Tahun |
| 1. | Pengembangan Model Penereapan Gerakan Disiplin nasional dalam Membina Keselarasan dan Keseimbangan Lingkungan | 1998 |
| 2. | Peranan wanita dalam meningkatkan kondisi hidup sehat keluarga | 1999 |
| 3. | Penyelenggaraan Forum Kemitraan Pendidikan Lingkungan Hidup di Indonesia | 2004 |
| 4. | Peningkatan Kualitas SumberDaya Pesisir | 2004 |
| 5. | Upaya Pemberdayaan masyarakat miskin di DKI Jakarta melalui Deteksi Dini Kesehatan dan Pola Penyakit Secara Mandiri dan Terpadu | 2000 |
| 6. | Mekanisme Pemasaran Industri Rumah Tangga Usaha Ekonomi Produktif Perempuan | 2004 |
| 7. | Pengembangan Pola Pantai Bersih Laut Lestari | 2002 |
| 8. | Pengembangan Perencanaan Pengarus Utamaan Gender di Sektor Pertanian | 2002 |
| 9. | Penyusunan Pola Perencanaan GSM Sektora | 2002 |
| 10. | “Kepedulian Lingkungan Sebagai Sebuah Keniscayaan”, Majalah Ilmu-Ilmu Humaniora, Mentari, Vol. 6. No.2 | 2003 |
| 11. | Budaya Demokrasi Sebagai Parameter Keberhasilan Pendidikan Politik Di Indonesia. Socia Jurnal Ilmu-ilmu Sosial, Volume 1, Nomor 2 September | 2004 |
| 12. | Pendidikan Demokrasi dan Hak Asasi Bagi Masyarakat Sebagai Upaya Pencegahan Illegal Loging (Jurnal PTIK) | 2004 |
| 13. | Antara Idealisme dan Realita Dinamika Kreativitas, Volume 1, 15 | 2005 |
| 14. | Determinasi Multiple Intelegences terhadap Tumbuhnya Kearifan (Cinta Kebaikan) di tengah Hiruk Pikuknya Globalisasi , Dinamika Kreativitas, Volume 2, 01 | 2006 |
| 15. | Profesionalisme Guru PPKN, Jurnal Kewarganegaraan, Volume 1 | 2006 |
| 16. | Sikap Masyarakat Terhadap Keterwakilan Perempuan dalam Jabatan Politik, Jurnal Pemberdayaan Perempuan, Volume 6, Nomor 1, Juni | 2006 |
| 17. | Peranan Perempuan dalam Meningkatkan Kondisi Hidup Sehat Keluarga: Survey di Indramayu, Jawa Barat, Jurnal Pemberdayaan Perempuan, Volume 6, Nomor 2, Desember | 2006 |
| 18. | Profesionalisme Guru Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Esensi dari Social Studies , JURNAL DINAMIKA PENDIDIKAN, Volume. 1. Nomor 1, Tahun 2007. ISSN. 1978-2446. | 2007 |
| 19. | Partisipasi (Keterlibatan dan Tanggung Jawab) Perempuan dalam Mengatasi Anak Putus Sekolah, Jurnal Permberdayaan Perempuan, Volume 7, Nomor 1, Juni | 2007 |
| 20. | Konsep dan Dinamika Masyarakat Madani (Civil Society) di Indonesia, Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, Nomor 070, Tahun ke- 14, Januari 2008, SK. Akreditasi Dirjen Dikti Departemen Pendidikan Nasional. Nomor 134/Dikti/Kep/2001. | 2008 |
Tentu esensi itu akan terealisasikan bila kewarganegaraan dan jenis-jenis materi ajar serupa disampaikan dengan cara yang tepat dan menyenangkan. Yang pertama kali harus dilakukan, menurut saya, menguabah persepsi peserta didik atas materi itu. Dalam hal ini adalah menumbuhkan sikap positif atas pendidikan kewarganegaraan itu.
Salam,
Mochammad
http://mochammad4s.wordpress.com
http://piguranyapakuban.deviantart.com