PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN DAN KONSEP DIRI TERHADAP KEPEDULIAN LINGKUNGAN

Oleh:

Irah Kasirah

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Lingkungan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Hal tersebut disebabkan karena lingkungan memberi banyak manfaat bagi manusia. Lingkungan hidup merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup (termasuk manusia dan perilakunya) yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Artinya pengelolaan lingkungan hidup secara baik untuk mendorong pembangunan berkelanjutan sangat penting. Namun, realitas yang terjadi persentase pertumbuhan ekonomi hampir berbanding lurus dengan kerusakan lingkungan sebagai akibat dari pembangunan, dan hal ini berlangsung secara terus menerus.

Masalah lingkungan hidup, bukan masalah yang baru, tetapi sudah ada sejak manusia hidup di muka bumu ini. Keberadaan manusia di bumi merupakan faktor penyebab terjadinya masalah terhadap lingkungan hidup.  Pertumbuhan hidup yang besar pun mengakibatkan meningkatnya masalah terhadap lingkungan hidup. Upaya untuk mengantisipasi masalah lingkungan hidup adalah dengan cara menanamkan kepedulian lingkungan pada manusia di bumi.

Saat ini kondisi pengelolaan lingkungan hidup  belum lagi terwujud secara memuaskan seperti yang diharapkan.  Berbagai hasil penelitian menunjukkan  bahwa penyebab berbagai gangguan terhadap lingkungan hidup yang terjadi di planet bumi berakar dari tabiat manusia, yakni sikap dan perilaku manusia yang tidak mempedulikan kondisi saling ketergantungan antara manusia dan lingkungannya. Hal yang dikemukakan  di atas menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan itu pada dasarnya merupakan manifestasi dari permasalahan sosial dan lingkungan hidup yang saling terkait dalam kenyataan hidup sehari-hari.

Untuk mencapai kesadaran akan pentingnya peningkatan mutu pendidikan lingkungan yang berkualitas dibituhkan suatu pembaharuan pembelajaran antara lain pada strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran mengacu pada metode-metode yang digunakan para siswa untuk belajar. Pada strategi pembelajaran terdapat teknik-teknik memperbaiki konsep diri siswa agar lebih baik dalam belajar dan mampu membantu guru dalam menghubungkan materi lingkungan yang diajarkan dengan realitas, sehingga siswa diharapkan lebih peduli terhadap lingkungan di sekitarnya.

Pentingnya Konsep diri siswa terhadap lingkungan diterapkan pada pendidikan formal agar para siswa dapat berperan aktif dalam kepeduliannya terhadap lingkungan sejak dini dan berfikir kritis tentang keseimbangan makhluk hidup yang telah diciptakan Tuhan Yang Maha Esa.

Oleh karena itu, karena dirasa penting maka peneliti mencoba menggunakan strategi pembelajaran dengan konsep diri untuk melihat pengaruhnya yang terbaik dalam meningkatkan kepedulian lingkungan pada siswa sekolah (SD)

  1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang sudah dikemukakan di atas, maka diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut:

  1. Apakah strategi pembelajaran dan konsep diri berpengaruh  terhadap kepedulian lingkungan pada siswa SD?
  2. Apakah metode pembelajaran dan konsep diri berpengaruh terhadap kepedulian lingkungan?
  3. Apakah dengan konsep diri siswa yang positif dapat membentuk kepedulian siswa terhadap lingkungan?
  4. Apakah dengan konsep diri siswa yang Negatif dapat membentuk kepedulian siswa terhadap lingkungan?
  1. Apakah Konsep diri mempengaruhi motivasi siswa dalam mempelajari lingkungan?
  1. Apakah terdapat pengaruh strategi pembelajaran dan konsep diri terhadap kepedulian lingkungan?
  1. Pembatasan Masalah

Berdasarkan uraian yang tersebut diatas maka pada penelitian ini dibatasi pada permasalahan apakah terdapat pengaruh strategi pembelajaran dan konsep diri terhadap kepedulian lingkungan?

  1. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan diatas,maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

  1. Apakah terdapat perbedaan kepedulian lingkungan  antara strategi pembelajaran yang diajarkan dengan metode diskusi dan simulasi?
  2. Apakah terdapat interaksi antara starategi pembelajaran dan konsep diri terhadap kepedulian lingkungan?
  3. Pada kelompok siswa yang memiliki konsep diri positif,apakah terdapat perbedaan kepedulian lingkungan antara siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran pada metode diskusi dan simulasi?
  4. Pada kelompok siswa yang memiliki konsep diri negatif, apakah terdapat perbedaan kepedulian lingkungan antara siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran pada metode diskusi dan simulasi?
  5. Kegunaan Penelitian

Dari segi teoritis , penelitian ini dapat digunakan sebagai landasan bagi penelitian lanjutan, khususnya untuk variabel yang diteliti, maupun menggunakan variabel-variabel yang lebih kompleks yang dapat mempengaruhi kepedulian lingkungan pada siswa SD.

Dari segi praktis penelitian ini dapat memberikan gambaran dan mengembangkan konsep diri siswa tentang upaya peningkatan kepedulian lingkungan pada siswa SD. Melalui penerapan strategi pembelajaran dengan metode didkusi dan simulasi, diharapkan hambatan dan keterbatasan yang selama ini dialami oleh guru dan siswa dapat teratasi. Konsep diri siswa terhadap kepedulian lingkungan diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam mewujudkan kepedulian lingkungan.

 

 

BAB II

KAJIAN TEORITIK DAN KERANGKA BERFIKIR

 

  1. A.   Landasan Teoritik
  2. 1.    Kepedulian Lingkungan

Kepedulian berarti memberikan perhatian kepada suatu objek penelitian. Walgito menyatakan bahwa kepedulian merupakan syarat psikologis dari seseorang untuk menjadikan persepsi, yakni pemusatan konsentrasi dari keseluruhan aktivitas individu yang ditunjukkan kepada sesuatu atau sekumpulan obyek. [1] individu yang memperhatikan suatu benda berarti seluruh aktivitas individu dicurahkan dan konsentrasikan kepada objek atau benda tersebut.

Sehubungan dengan masalah perhatian yang dikonsentrasikan kepada suatu objek, Heru dan Bigot dalam buku yang ditulis oleh Sumadi, mengatakan dua macam batasan mengenai perhatian, [2] yaitu (1) pemusatan terapan psikis yang tertuju pada suatu objek ; dan (2) perhatian merupakan banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai suatu aktivitas yang dilakukan.

Semakin banyak kesadaran yang ditindaklanjuti dengan aktivitas pengalaman batin, menunjukkan semakin intensif perhatian terhadap suatu objek. Menurut intensivitasnya, perhatian (kepedulian) dibedakan atas : perhatian intensi dan perhatian tidak intensif.

Perhatian juga dibedakan menurut proses timbulnya, yakni perhatian spontan, yaitu perhatian kepedulian yang timbul secara mendadak tanpa disengaja dan perhatian yang dikehendaki, yaitu perhatian yang refleks disengaja. Kemudian berdasarkan objeknya, perhatian dibedakan pula atas[3]: perhatian terpencar (distribusi); perhatian terpusat (konsentrasi); dan perhatian berubah-ubah (fluktuasi).

Pada prinsipnya kepedulian akan melahirkan sikap tanggung jawab individu secara positif. Kesadaran yang tinggi terhadap kelestarian lingkungan muncul dari rasa tanggung jawab untuk selalu peduli terhadap bentu-bentuk pencegahan dan perbaikan lingkungan.sedangkan lingkungan hidup yang lestari dapat terjaga bila ada sinergi anatara pemerintah sebagai penentu kebijakan, dan masyarakat sebagai pendukung kebijakan dalam upaya pelestarian.

  1. 2.    Strategi Pembelajaran

Strategi pembelajaran merupakan hal yang perlu diperhatikan guru dalam proses pembelajaran. Paling tidak ada tiga jenis strategi yang berkaiatan dengan pembelajaran, yakni (1) strategi pengorganisasian pembelajaran (2) strategi penyampaian pembelajaran; dan (3) strategi pengelolaan pembelajaran.[4]

Strategi memiliki pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk berindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi dapat diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru anak didik dalam perwujudan dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.[5]

Ada empat strategi dasar dalam pembelajaran yang meliputi hal-hal berikut[6]. (1) Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan ingkah laku dan kepribadian siswa seperti yang diharapkan; (2) memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat; (3) memilih dan menetapkan prosedur, metode dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif; (4) menetapkan kriteria serta standar keberhasilan, yang berfungsi sebagai pedoman guru dalam melakukan evaluasi.

Proses pembelajaran akan berjalan secara optimal jika adanya rencana pembuatan strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran menurut Arthur L.Costa (1985) merupakan pola kegiatan pembelajaran berurutan yang diterapkan dari waktu ke waktu dan diarahkan untuk mencapai suatu hasil belajar siswa yang diinginkan. Strategi pembelajaran juga untuk mencapai komponen yang ada dalam pembelajaran.[7]

2.1  Strategi Pembelajara Dengan Metode Diskus

Diskusi adalah percakapan ilmiah yang berisikan pertukaran pendapat, pemunculan ide-ide serta pengujian pendapat yang dilakukan oleh beberapa orang yang tergabung dalam kelompok itu untuk mencari kebenaran.[8] Banyak masalah yang terjadi di lingkungan murid yang memerlukan pembahasan oleh lebih dari seorang saja, yakni terutama masalah-masalah yang memerlukan kerjasama dan musyawarah.

Jika demikian musyawarah atau diskusi jalan pemecahan yang memberi kemungkinan mendapatkan penyelesaian yang terbaik. Metode diskusi dalam proses mengajar dan belajar berarti metode mengemukakan pendapat dalam musyawarah untuk mufakat. Dengan demikian inti dari pengertian diskusi adalah meeting of minds.

Didalam memecahkan masalah diperlukan bermacam-macam jawaban. Dari jawaban tersebut dipilihkan satu jawaban yang lebih logis dan lebih tepat dan mempunyai argumentasi yang kuat, yang menolak jawaban yang mepunyai argumentasi lemah. Memang dalam diskusi untuk memperoleh pertemuan pendapat diperlukan pembahasan yang didukung oleh argumentasi, argumentasi kontra argumentasi.

  1. Kebaikan-kebaikan metode diskusi
  • Seperti juga metode-metode lain, metode diskusi pun mempunyai kebaikan-kebaikan. Kebaikan-kebaikan itu, antara lain adalah :
  • Suasama kelas hidup, sebab murid-murid mengarahkan pemikirannya kepada masalah yang sedang didiskusikan. Partisifasi murid dalam metode ini lebih baik.
  • Murid-murid berlatih kritis untuk mempertimbangkan pendapat teman-temannya, kemudian menentukan sikap, menerima, menolak atau tidak berpendapat sama sekali.
  • Dapat menaikkan prestasi kepribadian individual seperti toleransi, sikap demokratis, sikap kritis, berpikir sistematis dan sebagainya.
  • Berguna untuk kehidupan sehari-hari terutama dalam alam demokrasi
  • Merupakan latihan untuk memenuhi peraturan dan tata tertib yang berlaku dalam musyawarah.
  1. Kelemahan-kelemahan metode diskusi
  • Disamping kebaikan-kebaikan yang telah dikemukakan diatas metode diskusi tidak luput dari kelemahan-kelemahan, seperti :
  • Diskusi pada umumnya dikuasai oleh murid yang gemar berbicara
  • Bagi murid yang tidak ikut aktif ada kecenderungan untuk melepaskan diri dari tanggung jawab.
  • Banyak waktu terpakai, tapi hasilnya kadang-kadang tidak seperti yang diharapkan
  • Sukar dapat digunakan di tingkat rendah pada sekolah dasar, tetapi bukan tidak mungkin.
  1. Cara-cara mengatasi kelemahan-kelemahan metode diskusi ada beberapa cara yang dapat diupayakan untuk mengatasi kelemahan metode diskusi antara lain :
  • Dalam menggunakan metode diskusi perhatikan persyaratan berikut :
  • Taraf kemampuan murid
  • Tingkat kesukuran yang memerlukan pemecahan yang serius agar dipimpin langsung oleh guru
  • Kalau pimpinan diskusi diberikan kepada murid hendaknya diatur secara bergiliran
  • Guru tak boleh sepenuhnya mempercayakan pimpinan diskusi pada murid, perlu bimbingan dan kontrol
  • Guru mengusahakan seluruh murid ikut berpartisifasi dalam diskusi
  • Diusahakan supaya murid mendapat giliran berbicara dan murid lain belajar bersabar mendengarkan pendapat temannya.

2.2  Strategi Pembelajaran Dengan Metode Simulasi

Simulasi berasal dari kata simulate yang artinya berpura-pura atau ber­buat seakan-akan. Sebagai metode mengajar, simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk me­mahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu.[9] Simulasi dapat digunakan sebagai metode mengajar dengan asumsi tidak semua proses pem­belajaran dapat dilakukan secara langsung pada objek yang sebenarnya. Gladi resik merupakan salah satu contoh simulasi, yakni memperagakan proses ter­jadinya suatu upacara tertentu sebagai latihan untuk upacara sebenarnya su­paya tidak gagal dalam waktunya nanti. Demikian juga untuk mengembang­kan pemahaman dan penghayatan terhadap suatu peristiwa, penggunaan simu­lasi akan sangat bermanfaat.

Metode simulasi bertujuan untuk: (1) melatih keterampilan tertentu baik bersifat profesional maupun bagi kehidupan sehari-hari, (2) memperoleh pe­mahaman tentang suatu konsep atau prinsip, (3) melatih memecahkan masa­lah, (4) meningkatkan keaktifan belajar, (5) memberikan motivasi belajar ke­pada siswa, (6) melatih siswa untuk mengadakan kerjasama dalam situasi ke­lompok, (7) menumbuhkan daya kreatif siswa, dan (8) melatih siswa untuk mengembangkan sikap toleransi.

a. Kelebihan dan Kelemahan Metode Simulasi

Terdapat beberapa kelebihan dengan menggunakan simulasi sebagai metode mengajar, di antaranya adalah:

  1. Simulasi dapat dijadikan sebagai bekal bagi siswa dalam menghadapi si-tuasi yang sebenarnya kelak, baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat, maupun menghadapi dunia kerja.
  2. Simulasi dapat mengembangkan kreativitas siswa, karena melalui simula­si siswa diberi kesempatan untuk memainkan peranan sesuai dengan to­pik yang disimulasikan.
  3. Simulasi dapat memupuk keberanian dan percaya diri siswa.
  4. Memperkaya pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan da­lam menghadapi berbagai situasi sosial yang problematis.
  5. Simulasi dapat meningkatkan gairah siswa dalam proses permbelajaran.

Di samping memiliki kelebihan, simulasi juga mempunyai kelemahan, diantaranya:

  1. Pengalaman yang diperoleh melalui simulasi tidak selalu tepat dan sesuai dengan kenyataan di lapangan.
  2. Pengelolaan yang kurang baik, sering simulasi dijadikan sebagai alat hi­buran, sehingga tujuan pembelajaran menjadi terabaikan.
  3. Faktor psikologis seperti rasa malu dan takut sering memengaruhi siswa dalam melakukan simulasi.

b. Jenis-jenis Simulasi

Simulasi terdiri dari beberapa jenis, di antaranya:

1) Sosiodrama

Sosiodrama adalah metode pembelajaran bermain peran untuk meme­cahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan fenomena sosial, permasa­lahan yang menyangkut hubungan antara manusia seperti masalah kenakalan remaja, narkoba, gambaran keluarga yang otoriter, dan lain sebagainya. Sosi­odrama digunakan untuk memberikan pemahaman dan penghayatan akan masalah-masalah sosial serta mengembangkan kemampuan siswa untuk me­mecahkannya.

2) Psikodrama

Psikodrama adalah metode pembelajaran dengan bermain peran yang bertitik tolak dari permasalahan-permasalahan psikologis. Psikodrama biasa­nya digunakan untuk terapi, yaitu agar siswa memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang dirinya, menemukan konsep diri, menyatakan reaksi terha­dap tekanan-tekanan yang dialaminya.

3) Role Playing

Role playing atau bermain peran adalah metode pembelajaran sebagai bagian dari simulasi yang diarahkan untuk mengkreasi peristiwa sejarah, mengkreasi peristiwa-peristiwa aktual, atau kejadian-kejadian yang mungkin muncul pada masa mendatang. Topik yang dapat diangkat untuk role playing misalnya memainkan peran sebagai juru kampanye suatu partai atau gambar­an keadaan yang mungkin muncul pada abad teknologi informasi.

4) Peer Teaching

Peer teaching merupakan latihan mengajar yang dilakukan oleh siswa kepada teman-teman calon guru. Selain itu peer teaching merupakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan seorang siswa kepada siswa lainnya dan salah satu siswa itu lebih memahami materi pembelajaran.

5) Simulasi Game

Simulasi game merupakan bermain peranan, para siswa berkompetisi untuk mencapai tujuan tertentu melalui permainan dengan mematuhi peratur­an yang ditentukan.

c. Langkah-langkah Simulasi

1) Persiapan Simulasi

  1. Menetapkan topik atau masalah serta tujuan yang hendak dicapai oleh simulasi.
  2. Guru memberikan gambaran masalah dalam situasi yang akan disimu­lasikan.
  3. Guru menetapkan pemain yang akan terlibat dalam simulasi, peranan yang harus dimainkan oleh para pemeran, serta waktu yang disedia­kan.
  4. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya khusus­nya pada siswa yang terlibat dalam pemeranan simulasi.

2) Pelaksanaan Simulasi

  1. Simulasi mulai dimainkan oleh kelompok pemeran.
  2. Para siswa lainnya mengikuti dengan penuh perhatian.
  3. Guru hendaknya memberikan bantuan kepada pemeran yang menda­pat kesulitan.
  4. Simulasi hendaknya dihentikan pada saat puncak. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong siswa berpikir dalam menyelesaikan masalah yang sedang disimulasikan.
  1. Konsep Diri
  2. 1.    Hakekat Konsep Diri
    1. a.    Pengertian Konsep Diri

Konsep diri merupakan istilah yang menunjukkan gabungan dari ide-ide, sikap-sikap dan perasaan-perasaan yang dimiliki seseorang terhadap dirinya.[10]

Konsep diri dapat didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya.[11] Pandangan seseorang tentang dirinya sendiri yang menyangkut apa yang ia ketahui dan rasakan tentang perilakunya tersebut berpengaruh terhadap orang lain.

Di sini Djaali mengemukakan konsep diri yang dimaksud adalah bayangan seseorang tentang keadaan dirinya sendiri pada saat ini dan bukanlah bayangan ideal dari dirinya sebagaimana yang diharapkan atau yang disukai oleh individubersangkutan.[12] Fuad Hsan juga mengatakan bahwa konsep diri secara fisik tampil lebih dahulu daripada konsep diri secara psikis.[13]

Menurut Rogers konsep diri adalah cara seseorang memandang dan merasakan dirinya sendiri.[14]  Susunan sebagai gagasan, perasaan dan sikap yang dipunyai orang mengenai diri mereka sendiri.[15] Konsep diri berhubungan dengan rasa percaya diri dan berbagai perasaan tentang penghargaan terhadap diri sendiri.[16] Konsep diri merupakan dasar bagi seseorang, apakah ia akan mencintai atau membenci dirinya.[17] Konsep diri adalah semua persepsi kita terhadap aspek diri yang meliputi aspek fisik, aspek sosial, dan aspek psikologis, yang didasarkanpengalaman dan interaksi kita dengan orang lain.

Konsep diri merupakan kesadaran batin yang tetap, mengenal pengalaman yang berhubungandengan aku dan yang membedakan aku dari yang bukan aku.[18] Jadi, penelitidapat menarik suatu kesimpulan konsep diri merupakan keseluruhan perasaan, keyakinan, pandangan, sikap, gambaran yang dimiliki seseorangtentang dirinya, yang dibentuk melalui pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari interaksi dengan lingkungan.

  1. b.                    Proses Pembentukan Konsep Diri

Konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan seorang manusia dari kecil hingga dewasa. Djaali mengatakan konsep diri seseorang  mula-mula terbentuk dari perasaan apakah ia diterima dan diinginkan kehadirannya oleh keluarganya.[19] Tidak jauh berbeda dengan Djaali, tim psikologi mengemukakan bahwa lingkungan, pengalaman dan pola asuh orangtua turut memberikan pengaruh yang penting terhadap konsep diri dapat dibentuk melalui pandangan diri dan pengalaman yang positif.[20]

Individu dengan konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih biladilihat dari kemampuan interpersonal, kemampuan intelektual dan

penguasaan lingkungan. Sedangkan  konsep diri yang negatif dapat dilihat dari hubungan individu dengan sosial yang terganggu.

Jika dilihat dari proses pembentukan konsep diri di atas, dapat

dikatakan bahwa konsep diri terbentuk bukan karena diturunkan atau

bawaan melainkan karena pengaruh lingkungan. Seorang anak akan tumbuhdengan baik apabila orangtua memberikan pola asuh tepat sepertimembekalinya dengan pendidikan etika, moral dan agama. Lingkungan yang kondusif dapat membentuk anak dalam lingkup pergaulan dengan teman sebaya.

  1. c.    Perkembangan Konsep Diri

Perkembangan konsep diri merupakan proses yang terus berlanjut sepanjang kehidupan manusia. Hendriati Agustini mengemukakan persepsi tentang diri tidak langsung muncul pada saat kelahiran, tetapi mulai berkembang secar bertahap dengan munculnya kemampuan perseptif.[21] Diri (self) berkembang ketika individu merasakan bahwa dirinya terpisah dan Berbeda dari orang lain. Pad usia 6-7 tahun, batas-batas dari individu mulai Menjadi lebih jelas sebagai hasil dari eksplorasi dan pengalaman dengan tubuhnya sendiri. Selama periode awal kehidupan, konsep diri individu sepenuhnya didasari oleh persepsi tentang diri sendiri. Kemudian dengan bertambahnya usia pandangan tentang diri ini menjadi lebih banyak didasari  oleh nilai-nilai yang diperoleh dari interaksi dengan orang lain.

Selama masa anak pertengahan dan akhir, kelompok teman sebaya mulai memainkan peran yang dominan, menggantikan orang tua sebagai orang yang turut berpengaruh pada konsep diri mereka.  Anak makin

mengidentifikasi diri dengan anak-anak seusianya dan mengadopsi bentuk-bentuk tingkah laku dari kelompok teman sebaya dari jenis kelamin yangsama. Selama  masa anak akhir konsep diri yang terbentuk sudah agak stabil.

Dalam teori Psikoanalisis, proses perkembangan konsep diri disebut

proses pembentukan ego, (the process of ego formation).  Menurut aliran ini,ego yang sehat adalah ego yang dapat mengontrol dan mengarahkan kebutuhan primitif atau dorongan libido supaya setara dengan dorongan dari

super ego serta tuntutan lingkungan.

Dalam kaitan ini, konsep diri menurut Erikson berkembang melalui lima tahap, yaitu: 1) Perkembangan dari sense of trust vs sense of mistrust,2) Perkembangan dari sense of anatomy vs shame and doubt,  3) Perkembangan dari sense of initiative vs sense of  guilt, 4) Perkembangandari  sense of industry vs inferiority, 5) Perkembangan dari sense of identitydiffusion.[22]

Perkembangan dari sense of trust vs sense  mistrust, pada anak usia  1,5-2  tahun. Melalui hubungan dengan  orangtua anak akan mendapat kesan dasar apakah orangtuanya merupakan pihak yang dapat dipercaya atau tidak. Perkembangan dari sense of anatomy vs shame anddoubt,  pada anak usia 2-4 tahun.Yang terutama berkembang pesat padausia ini adalah kemampuan motorik dan berbahasa, yang keduanya memungkinkan anak menjadi lebih mandiri (autonomy).

Perkembangan dari sense of initiative vs sense of guilt, pada anak usia 4-7 tahun. Anak selalu menunjukkan perasaan ingin tahu, begitu juga sikap untuk menjelajah, mencoba-coba. Perkembangan dari sense of industry vs inferiority, pada usia 7-11 atau 12 tahun. Inilah masa anak inginmembuktikan keberhasilan dari usahanya. Perkembangan dari sense of identity diffusion, pada remaja. Remaja biasanya sangat besar minatnya terhadap diri sendiri. Biasanya mereka ingin memperoleh jawaban tentang sikap dan bagaimana dia.

  1. d.    Ciri-ciri Konsep Diri

Menurut  Wasty  Soemanto  ciri-ciri  konsep  diri  terdiri  dari

terorganisasikan, multifaset, stabil berkembang (developmental) , dan

evaluatif.[23] Seorang individu mengumpulkan banyak informasi yang dipakaiuntuk membentuk persepsi tentang dirinya sendiri. Individu mengkategorikan persepsi diri itu dalam beberapa wilayah (area) misalnya: social acceptance,physical attractiveness, athletic ability and academic ability. Konsep diriberkembang sesuai dengan umur dan pengaruh lingkungan.  Individu tidak hanya membentuk deskripsi dirinya pada situasi yang istimewa, tetapi juga mengadakan penilaian terhadap dirinya sendiri.

Ciri-ciri konsep diri yaitu citra diri (self image), harga diri (self  esteem), dan kepercayaan diri (self confidence).[24] Citra diri (self image) yaitu persepsi saya terhadap penampilan fisik saya. Harga diri (self esteem) menunjuk kepada perasaan dasar tentang  kelayakan dan nilai,  pengetahuan eksistensial tentang kapasitas mencintai dan sebagai obyek kecintaan orang lain. Kepercayaan diri (self confidence) adalah suatu pencerminan dari pertemuan antara bakat-bakat alamiah dan keterampilan-keterampilan serta teknik-teknik yang dipelajari ketika bekerja dalam bidang-bidang sosial, vokasional atau kegemaran.

Menurut Stuart dan Sudeen konsep diri memiliki ciri-ciri yaitu gambaran diri, ideal diri, harga diri, peran dan identitas diri. Gambaran diri (body image) adalah  sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk, fungsi penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan pengalaman baru setiap individu.Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku berdasarkan standar, aspirasi, tujuan atau penilaian personal

  1. Kerangka Berpikir
    1. Perbedaan kepedulian lingkungan antara siswa yang diberi perlakuan dengan strategi pembelajaran pada metode diskusi dengan strategi pembelajaran pada metode simulasi.
    2. Interaksi antara strategi pembelajaran dan konsep diri serta pengaruhnya terhadap kepedulian lingkungan.
    3. Perbedaan kepedulian ligkungan antara siswa yang memiliki konsep diri positif dan diberi perlakuan dengan strategi pembelajaran diskusi dan simulasi.
    4. Perbedaan kepedulia lingkungan antara siswa yang memiliki konsep diri negaif dan diberi perlakuan dengan strategi pembelajaran pada diskusi dan simulasi.
    5. C.   Pengajuan Hipotesis

Bedasarkan kajian teoritik dan kerangka berpikir yang telah diuraikan diatas, maka sesuai dengan kajian permasalahan dan tujuan penelitian dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:

  1. Kepedulian lingkungan pada siswa yang diajarkan dengan strategi pembelajaran pada metode diskusi berbeda dari pada siswa yang diajarkan dengan strategi pembelajaran pada metode simulasi.
  2. Terdapat interaksi antara strategi pembelajaran deengan konsep diri terhadap kepedulian lingkungan.
  3. Bagi siswa yang memiliki konsep diri positif, kepedulian lingkungan siswa yang diberi perlakuan dengan strategi pembelajaran pada metode diskusi berbeda dari pada siswa yang diberi perlakuan dengan strategi pembelajaran pada metode simulasi.
  4. Bagi siswa yang memiliki konsep diri negatif, kepedulian lingkungan siswa yang diberi perlakuan dengan strategi pembelajaran  pada metode diskusi berbeda dari pada siswa yang diberi perlakuan dengan strategi pembelajaran pada metode simulasi.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

  1. A.   Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data empiris tentang penggunaan strategi pembelajaran diskusi dan simulasi pada kepedulian lingkungan.

Secara operasional penelitian ini bertujuan memperoleh data untuk mengetahui :

  1. Pengaruh strategi pembelajaran dengan strategi diskusi dan simulasi secara terhadap kepedulian lingkunagan.
  2. Pengaruh strategi pembelajaran dengan strategi diskusi dan simulasi bagi siswa yang memiliki konsep diri positif terhadap kepedulian lingkungan .
  3. Pengaruh strategi pembelajaran dengan strategi diskusi dan simulasi bagi yang memiliki konsepdiri negatif terhadap kepedulian lingkungan.
  4. Pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dan konsep diri  terhadap kepedulian lingkungan.
  1. B.   Tempat  Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SD Negeri Gedong Jakarta Timur.

  1. C.   Waktu Penelitian

Waktu penelitian dilaksanakan selama 3 bulan

  1. D.   Metode dan Desain Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode eksperimen dengan variable terikat pengetahuan siswa tentang konsep – konsep ekosisitem. Variable bebas perlakuan adalah strategi pembelajaran yang terdiri atas strategi diskusi dan simulasi. Sedangkan variable bebas atribut adalah konsep diri positif dan konsep diri negatif.

Adapun desain penelitian yang digunakan adalah factorial sederhana (simple factorial design) 2 X 2 dengan matrik rancangan eksperimen yang diadaptasi dari John W. Best[25]

 

Tabel 1.1

Tabel 1.1 Desain Treatmen by Level

Jenis Strategi

 

 

 

Konsep Diri

Pembelajaran

Diskusi

(A 1)

Pembelajaran

Simulasi

(A 2)

Konsep diri siswa positif (B 1)

A1B1

A2B1

Konsep  diri siswa negatif (B 2)

A1B2

A2B2

 

Keterangan :

A1B1 : Kelompok siswa yang memiliki konsep diri positif dengan perlakuan strategi diskusi

A2B1    : Kelompok siswa yang memiliki konsep diri positif dengan      perlakuan strategi simulasi

A1B2   : Kelompok siswa yang memiliki konsep diri negatif dengan perlakuan strategi diskusi

A2B2     : Kelompok siswa yang memiliki konsep diri negatif dengan

perlakuan strategi simulasi

            Rancangan factorial adalah unit – unit eksperimen dikelompokkan ke dalam sel sedemikian rupa secara acak, sehingga unit – unit eksperimen dalam setiap sel relative bersifat homogen. Sample ditempatkan secara acak sederhana ke setiap unit – unit eksperimen dalam setiap sel.

Ketiga variable penelitian dibandingkan dalam satu rancangan penelitian seperti yang digambarkan pada Tabel 1.1 di atas. Data yang diperoleh melalui instrument penelitian, digunakan untuk memeriksa kemungkinan adanya perbedaan antar variable karena adanya perlakuan dengan mengadakan pengontrolan terhadap variable lain yang akan mempengaruhi variable – variable yang sedang diteliti.

Untuk memperoleh keyakinan bahwa rancangan eksperimen yang telah dipilih cukup memadai dalam pengujian hipotesis dan hasil – hasil penelitian yang diperoleh dapat digeneralisasikan ke populasi, maka dilakukan langkah – langkah pengendalian atau pengontrolan terhadap sejumlah unsur atau variable yang dapat mengancam validitas eksperimen , baik validitas internal maupun validitas eksternal eksperimen.

  1. Kontrol Validitas Eksternal
  2. Kontrol Validitas Eksternal
  1. E.    Variabel perlakuan
  2. F.    Perlakuan Penelitian
  3. G.   Instrumen Penelitian
  4. H.   Pelaksanaan Eksperimen
  5. I.      Teknik Pengumpulan Data
  6. J.    Teknik Analisa Data

Untuk menguji hipotesis penelitian dan memperkirakan besarnya perbedaan antara variable, digunakan analisa varians. Agar anlisis varians dapat digunakan, maka persyaratan analisis harus dipenuhi. Persyaratan analisis adalah bahwa data harus diambil secara acak, variable – variable harus independent, data – data penelitian yang diperoleh harus berdistribusi normal, dan semua variansnya homogen.

Langkah – langkah analisis data yang dilakukan adalah :

  1. Menguji normalitas data dengan menggunakan uji Liliefors
  2. Menguji homogentitas varians dengan menggunakan ujiBartlett, dan
  3. Menguji perbedaan – perbedaan yang terjadi antar variable yang disebabkan adanya perlakuan dengan menggunakan analisis varians (ANAVA) dan diuji lanjut dengan menggunakan uji Tuckey[26] karena jumlah anggota dalam setiap sel sama.

Hipotesis statistik yang diuji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Hipotesis Pertama

Ho ; µA1 = µA2

H1 ; µA1 = µA2

Keterangan :

µA1 : rerata skor pengetahuan kelompok deduktif

µA1 : rerata skor pengetahuan kelompok induktif

  1. Hipotesis Kedua

Ho : Interaksi A X B = 0

H1 : Interaksi A X B ≠ 0

Keterangan :

A : rerata skor konsep diri

B : rerata skor  strategi pembelajaran

3. hipotesis ketiga :

Ho : µA1B1 = µA2B1

                H1 : µA1B1 < µA2B1

Keterangan :

µA1B1 : rerata skor pengetahuan kelompok deduktif yang memiliki berpikir divergen tinggi

µA2B1 : rerata skor pengetahuan kelompok induktif yang memiliki bervikir divergen tinggi

4. hipotesis keempat :

Ho : µA2B2 = µA1B2

                H1 : µA2B2 = µA1B2

Keterangan :

µA1B2 :rerata skor pengetahuan kelompok deduktif yang memiliki berfikir divergen rendah

µA2B1 : rerata skor pengetahuan kelompok induktif yang memiliki berfikir divergen rendah

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Alex Sobur, Psikologi Umum, Bandung: Pustaka Setia,2003

Amir Kamboja, Metode Pembelajaran, p.1, 2010

(http://amierkamboja88.wordpress.com/2010/04/23/metode-simulasi)

Billy Antoro, Metode diskusi dalam pembelajaran, P.1, 2011 (Sumber: Bimo Carl Rogers, Pengertian Konsep Diri, h.1,2008 (http://blog.kenz.or.id)

Djaali,Psikologi Pendidikan, Jakarta:Bumi Aksara,2007

E. Widijo Hari Murdoko, Prinsip Dasar Memahami Diri Sendiri Untuk Fuad Hamzah B Uno, Perencanaan Pembelajaran, Jakarta Bumi Aksara, 2007

Hasan, Kamus Istilah Psikologi, Jakarta:Progres,2003

Hendriati Agustini, Psikologi Pembangunan, Bandungg: PT. Refika Aditama,2006

Henry Sitanggang, Kamus Psikologi, Bandung:CV ARMICO,1994

Irwanto, Psikologi Umum, Jakarta: Gramedia,1997

Rita L. Atkinson, Pengantar Psiklogi, Jakarta:Erlangga,1996

Sumadi Suryasubrata, Psikologi Pendidikan, Jakarta : Rajawali Press, 1990

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta:        PT.Rineka Cipta, 2006

Tim Psikologi, Proses Pembentukan Konsep Diri, h. 1, 2008 (http://dafid-pekajangan.blogspot.com)

Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif –Progresif, Jakarta: Prenada Media Group, 2010

Walgito, Pengantar Psikologi Umum, Yogyakarta: Andy Offset, 1990

Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta:Rineka Cipta, 1998), h.185

Ciri-ciri Konsep Diri, h. 1, 2008 (http://www.bpqupq.qo.id)

http://billyantoro.multiply.com/)

Wisnuwardhana, Pengertian Konsep Diri, (http://fpsikologi:wisnuwardhana.ac.id)

Mencapai Keberhasilan Dalam Kehidupan Pribadi dan Pekerjaan Tanpa Menyalahkan Orang Lain, Jakarta:Gramedia, 2004


[1] Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum (Yogyakarta : Andy Offset, 1990), p. 56

[2] Sumadi Suryasubrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Rajawali Press, 1990), p. 14

[3] Ibid, p. 14-15

[4] Hamzah B Uno, Perencanaan Pembelajaran (Jakarta Bumi Aksara, 2007),p.45

[5] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (jakarta: PT.Rineka Cipta, 2006), p.5

[6] Ibid., p.5

[7][7] Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif –Progresif (Jakarta: Prenada Media Group, 2010),p.135

[8] Billy Antoro, Metode diskusi dalam pembelajaran, P.1, 2011 (Sumber: http://billyantoro.multiply.com/)

 

 

[9] Amir Kamboja, Metode Pembelajaran, p.1 2010 (http://amierkamboja88.wordpress.com/2010/04/23/metode-simulasi)

[10] Henry Sitanggang, Kamus Psikologi, (Bandung:CV ARMICO,1994),h.409

[11] Irwanto, Psikologi Umum, (Jakarta: Gramedia,1997),h.244

[12] Djaali,Psikologi Pendidikan, (Jakarta:Bumi Aksara,2007),h.129

[13] Fuad Hasan, Kamus Istilah Psikologi, (Jakarta:Progres,2003),h.65

[14] Carl Rogers, Pengertian Konsep Diri, h.1,2008 (http://blog.kenz.or.id)

[15] Rita L. Atkinson, Pengantar Psiklogi, (Jakarta:Erlangga,1996), h.493

[16] Wisnuwardhana, Pengertian Konsep Diri, h.1,2008 (http://fpsikologi:wisnuwardhana.ac.id)

[17] E. Widijo Hari Murdoko, Prinsip Dasar Memahami Diri Sendiri Untuk Mencapai Keberhasilan Dalam

Kehidupan Pribadi dan Pekerjaan Tanpa Menyalahkan Orang Lain, (Jakarta:Gramedia, 2004),h.84

[18] Alex Sobur, Psikologi Umum, (Bandung: Pustaka Setia,2003), h.507

[19] Djaali, Op.Cit., h.130

[20] Tim Psikologi, Proses Pembentukan Konsep Diri, h. 1, 2008 (http://dafid-pekajangan.blogspot.com)

[21] Hendriati Agustini, Psikologi Pembangunan, (Bandungg: PT. Refika Aditama,2006), h.143

[22] Djaali, Op.Cit., h.130

[23] Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta:Rineka Cipta, 1998), h.185

[24] Ciri-ciri Konsep Diri, h. 1, 2008 (http://www.bpqupq.qo.id)

[25] John W. Best, Research in Education (New Delhi : Prentice Hall of India Private Limited), p.71

[26] Sudjana, Metoda statistika, (Bandung: Tarsito) p. 30

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s