PENGARUH GAYA KOGNITIF MAHASISWA DAN JENIS KELAMIN TERHADAP PARADIGMA LINGKUNGAN MAHASISWA (STUDI EX POST FACTO DI UNIVERSITAS NEGERI MEDAN)

Oleh: Nadriyah

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Fenomena perubahan lingkungan pada akhir-akhir ini menjadi suatu kejadian yang menyetak pemikiran setiap orang. Kesadaran akan ancaman terhadap lingkungan hidup dewasa ini telah semakin berkembang. Lingkungan hidup menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian luas. Hal ini seiring dengan semakin meningkatnya daftar masalah lingkungan dalam skala global maupun lokal.

Lingkungan hidup adalah “konteks” di mana manusia hidup dan bertempat tinggal. Apabila lingkungan hidup tersebut terganggu dan mengalami kerusakan, maka kehidupan dan tempat tinggal manusia pun akan terusik. Dalam bab pembukaan dari Undang-undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, disebutkan bahwa lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Dari rumusan ini jelas bahwa, Undang-undang tersebut secara eksplisit memperhatikan lingkungan sosial. Lingkungan hidup, menurut Undang-undang tersebut, merupakan sebuah sistem yang terdiri dari lingkungan hayati, lingkungan non hayati dan lingkungan sosial.

Kepedulian masyarakat terhadap masalah lingkungan telah banyak dilakukan baik oleh lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi kepemudaan maupun organisasi kemahasiswaan seperti MAPALA, serta pihak pemerintah. Namun kepedulian terhadap masalah lingkungan hanya suatu wacana belaka namun belum teraplikasi secara optimal dalam sikap dan tindakan (perbuatan).

Masalah kerusakan lingkungan hidup dan akibat-akibat yang ditimbulkan bukanlah suatu hal yang asing lagi saat ini. Dengan mudah dan sistematis berbagai pihak dapat menunjuk dan mengetahui apa saja jenis kerusakan lingkungan hidup itu dan apa saja akibat yang ditimbulkanya. Misalnya: dengan cepat dan sistematis kita dapat mengerti bahwa eksploitasi alam dan penebangan hutan yang terlalu berlebihan dapat menyebabkan bencana banjir, tanah longsor dan kelangkaan air bersih; membuang limbah industri ke sungai dapat menyebabkan kematian ikan dan merusak habitatnya; penggunaan dinamit untuk menangkap ikan dapat merusak terumbu karang dan biota laut dan masih banyak lagi daftar sebab akibat yang biasa terjadi dalam lingkungan hidup. Saat ini yang menjadi masalah adalah, bahwa pengetahuan yang sama atas pengenalan kerusakan lingkungan hidup dan akibat yang ditimbulkan tersebut tidak terjadi dalam pemeliharaan dan perawatan lingkungan hidup. Benarkah saat ini manusia sudah tidak dapat berpikir secara logis dan sistematis lagi sehingga tindakannya untuk mengeksploitasi lingkungan hidup hanya berhenti pada tahap pengeksploitasian semata tanpa diikuti proses selanjutnya yaitu tanggungjawab untuk merawat dan memilihara?.

Dari berbagai masalah-masalah lingkungan hidup yang ada saat ini seperti pemanasan global, banjir, tanah longsor dan sebagainya, mengharuskan semua pihak termasuk dunia pendidikan untuk turut ambil bagian dalam upaya penanggulangan maupun pencegahan masalah lingkungan hidup.

Pada dasarnya kelangsungan hidup manusia sebagai makhluk lingkungan tergantung pada kemampuan manusia tersebut berpikir terhadap lingkungan hidup tempatnya bermukim. Namun kenyataan yang ada selama ini, sebagian besar manusia merasa sebagai makhluk yang berhak dan bertindak sebagai makhluk berkuasa di atas bumi ini, sehingga bertindak sesuai dengan kepentingannya sendiri tanpa memperhatikan lingkungannya. Padahal paradigma atau pola berpikir seperti itu merupakan paradigma yang kurang tepat.

Pemecahan masalah lingkungan yang dihadapi sekarang bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata tetapi juga tanggung jawab semua pihak baik pendidik, ahli hukum, dokter, politikus, siswa/mahasiswa, dan profesi lainnya yang terlibat dalam masalah lingkungan. Mahasiswa sebagai generasi muda dan genaris penerus dengan sejumlah potensi luar biasanya sebagai kaum intelektual tertinggi diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap penanggulangan masalah lingkungan saat ini.

Mahasiswa sebagai agent of change memiliki artian bahwasanya ia terbuka dengan segala perubahan yang terjadi di tengah masyarakat sekaligus menjadi subjek dan atau objek perubahan itu sendiri. Peran mahasiswa sebagai agent of change, iron stock, dan social control mengharuskan mahasiswa untuk melek dan peduli dengan lingkungan, sehingga ia akan mudah menyadari segala permasalahan yang ada di tengah masyarakat.

Namun saat ini telah terjadi pergesaran paradigma pada mahasiswa tentang lingkungan hidup, yang menjadikan sebagian besar mahasiswa kurang peduli dengan masalah lingkungan yang ada. Perbedaan cara pandang mahasiswa terhadap masalah lingkungan dapat juga dipengaruhi oleh beberapa faktor baik faktor internal maupun faktor eksternal. Salah satu faktor penting dalam cara pandang mahasiswa terhadap lingkungan adalah gaya kognitif. Gaya kognitif berhubungan dengan cara penerimaan dan pemrosesan informasi seseorang.[1] Gaya kognitif dapat dibedakan atas beberapa cara pengelompokan, salah satunya berdasarkan kontinum global analitik dari Witkin, et al. dalam Ratunaman. Berdasarkan cara pengelompokan ini gaya kognitif dapat dibedakan atas: 1) field independent dan (2) field dependent. Orang yang mengoperasikan efek pengecoh dengan cara analitik disebut orang yang field independent, sedangkan orang yang mengoperasikan efek pengecoh dengan cara global disebut orang yang field dependent.[2]

Jenis kelamin atau gender juga merupakan salah satu faktor cara pandangan manusia terhadap lingkungan. Gender atau jenis kelamin merupakan cara pandang yang membedakan antara laki-laki dan perempuan melalui proses sosial dan budaya yang dikonstruksikan oleh manusia baik laki-laki maupun perempuan melalui proses sosial budaya yang pandang dalam sejarah peradaban manusia.[3] Perbedaan jenis kelamin mungkin membentuk persepsi atau cara pandang yang berbeda sehingga mempengaruhi sikap yang berbeda pula antara laki-laki dan perempuan dalam menanggapi masalah lingkungan hidup.

  1. B.     Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas dapat diidentifikasi beberapa permasalah terkait tentang masalah lingkungan hidup, antara lain:

  1. Apakah undang-undang yang berlaku saat ini telah menyadarkan masyarakat terutama mahasiswa tentang pentingnya memelihara lingkungan hidup?.
  2. Apakah perbedaan gaya kognitif para mahasiswa menjadi faktor yang berpengaruh terhadap pola pikir (paradigma) mahasiswa terhadap lingkungan?.
  3. Apakah perbedaan jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) juga berdampak terhadap pola pikir (paradigma) mahasiswa terhadap lingkungan?.
  4. Apakah pendidikan di universitas atau perguruan tinggi telah merubah pola pikir (paradigma) mahasiswa terhadap lingkungan?.
  5. Apakah ada pengaruh gaya kognitif mahasiswa terhadap pola pikir (paradigma) mahasiswa tentang lingkungan?
  6. Apakah ada pengaruh jenis kelamin mahasiswa terhadap pola pikir (paradigma) mahasiswa tentang lingkungan?
  7. Apakah ada pengaruh gaya kognitif dan jenis kelamin mahasiswa terhadap pola pikir (paradigma) mahasiswa tentang lingkungan?
  1. C.    Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah yang dipaparkan di atas ada banyak masalah yang muncul bisa diteliti. Setiap masalah yang muncul tentu memerlukan penelitian sendiri. Karena luasnya permasalahan yang ada, agar pembahasannya lebih mendalam maka permasalahan tersebut dibatasi pada pengaruh gaya kognitif mahasiswa dan jenis kelamin terhadap paradigma lingkungan mahasiswa.

 

  1. D.    Perumusan Masalah

Cara pandang manusia termasuk mahasiswa dalam memahami masalah atau persoalan lingkungan dapat dipengaruhi beberapa faktor diantara faktor jenis kelamin dan gaya kognitif. Rumusan masalah dalam bahasan ini antara lain:

  1. Apakah terdapat perbedaan paradigma lingkungan antara mahasiswa yang memiliki gaya kognitif “field independent” dengan “field dependent”?
  2. Apakah terdapat perbedaan paradigma lingkungan antara mahasiswa pria dan wanita?
  3. Apakah terdapat pengaruh interaksi antara gaya kognitif dan jenis kelamin terhadap paradigma lingkungan mahasiswa?
  4. Apakah paradigma lingkungan mahasiswa pria yang memiliki gaya kognitif “field independent” lebih tinggi dibandingkan mahasiswa wanita yang memiliki gaya kognitif  “field independent”?
  5. Apakah paradigma lingkungan mahasiswa pria yang memiliki gaya kognitif “field dependent” lebih tinggi dibandingkan mahasiswa wanita yang memiliki gaya kognitif  “field dependent”?
  6. Apakah paradigma lingkungan mahasiswa pria yang memiliki gaya kognitif “field independent” lebih tinggi dibandingkan mahasiswa pria yang memiliki gaya kognitif  “field dependent”?
  7. Apakah paradigma lingkungan mahasiswa wanita yang memiliki gaya kognitif “field dependent” lebih tinggi dibandingkan mahasiswa wanita yang memiliki gaya kognitif  “field independent”?

 

 

  1. E.     Kegunaan Hasil Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan kepada para praktisi akademik khususnya mahasiswa dan kepada para pembaca, faktor-faktor yang mempengaruhi paradigma lingkungan. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan tambahan wawasan kepada para pembaca, tentang masalah lingkungan dan pengaruh gaya kognitif maupun jenis kelamin terhadap paradigma lingkungan.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A.    Deskripsi Konseptual
    1. 1.      Paradigma Lingkungan

Paradigma dapat diartikan sebagai pola atau model atau cara pandang terhadap suatu persoalan yang di dalamnya terdapat sejumlah asumsi tertentu, teori tertentu, metode tertentu dan pemecahan masalah tertentu. Paradigma adalah model utama, pola atau metode (untuk meraih beberapa jenis tujuan). Seringkali paradigma merupakan sifat yang paling khas atau dasar dari sebuah teori atau cabang ilmu. [4]

Paradigma merupakan istilah yang dipopulerkan Thomas Khun dalam karyanya The Structure of Scientific Revolution (Chicago: The Univesity of Chicago Prerss, 1970). Paradigma di sini diartikan Khun sebagai kerangka referensi atau pandangan dunia yang menjadi dasar keyakinan atau pijakan suatu teori. Pemikir lain seperti Patton 1975 mendefinisikan pengertian paradigma hampir sama dengan Khun, yaitu sebagai “a world view, a general perspective, a way of breaking down of the complexity of the real world” (suatu pandangan dunia, suatu cara pandang umum, atau suatu cara untuk menguraikan kompleksitas dunia nyata).[5]

Menurut Ritzr, paradigm merumuskan tentang apa yang harus dipelajari, persoalan-persoalan apa yang dijawab, bagaimanan harus menjawabnya serta aturan-aturan yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang harus dikumpulkan dalam rangka menjawab persoala-persoalan tersebut. Dalam satu paradigm tertentu terdapat kesamaan pandangan tentang apa yang menjadi pokok persoalan dari suatu cabang ilmu serta kesamaan metode dan instrument yang digunakan sebagai peralatan analisa.

Paradigm merupakan consensus yang terluas dari suatu cabang ilmu pengetahuan yang membedakan antara komunitas ilmuwan atau sub komunitas yang satu dengan yang lainnya. Paradigm menggolong-golongkan, merumuskan dan menghubungkan eksenplar, teori-teori dan metode-metode serta seluruh pengamatan yang terdapat dalam metode itu.

Sedangkan lingkungan hidup adalah semua benda, daya dan kondisi yang terdapat dalam suatu tempat untuk makhluk hidup berada dan dapat mempengaruhi hidupnya, tempat itu sering disebut sebagai ekosistem. Dalam Undang-Undang tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dijelaskan bahwa: lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.[6]

Lingkungan hidup dibagi menjadi 4: (1) lingkungan alam hayati, (2) lingkungan alam non hayati, (3) lingkungan social, (4) lingkungan buatan. Lingkungan hidup adalah ruang yang titempati suatu mahkluk hidup bersama benda hidup dan tidak hidup di dalamnya. Lingkungan merupakan semua aspek kondisi, eksternal fisik dan biologi di mana organism hidup.

System nilai yang dianut seseorang meliputi dominan social paradigm dan new inveronmental paradigm sebagai dua nilai yang saling bertolak belakang. Dominan social paradigm merupakan paradigm yang anti lingkungan, pro eksploitasi sumber daya alam, materialistis, percaya pada ilmu dan teknologi. Sebal;iknya newenvironmental paradigm merupakan paradigm baru lingkungan yang memihak kelestarian lingkungan hidup yang mencintai alam, percaya pada batas-batas pertumbuhan, yakin bahwa manusia merupakan bagian dari ekosistem, sadar bahwa manusia bagian dari ekosistem, sadra bahwa terdapat saling ketergantungan dan keterkaitan antara manusia dan alam.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa paradigma lingkungan adalah pola pikir atau cara pandang terhadap suatu persoalan lingkungan yang di dalamnya terdapat sejumlah asumsi tertentu, teori tertentu, metode tertentu dan pemecahan masalah tertentu.

Pandangan baru tentang lingkungan atau The New Environment Paradigm (NEP) pada prinsipnya adalah sebagai berikut: (1) manusia adalah salah satu spesies diantara banyak interdependently terlibat dalam komunitas biotik yang membentuk kehiudan sosial manusia, (2) rumitnya hubungan sebab akibat dan umpan balik dalam jaringan alam yang menghasilkan banyak konsekuensi yang tidak disengaja dari tindakan manusia yang positif, (3) Dunia ini terbatas, jadi ada batas-batas fisik dan biologis yang ampuh sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan fenomena sosial lainya.[7]

Dalam E. Jane Luzer, et.al., The New Environment Paradigm diusulkan oleh Dunlap dan Van Liere (1978) didasarkan pada asumsi bahwa “secara implisit dalam lingkungan hidup merupakan tantangan bagi pandangan dasar kita tentang hubungan antara alam dan manusia”. Dalam kerangka NEP, selanjutnya Dunlap dan Van Liere ada tiga item dalam menilai domain konseptual dari paradigma, yaitu: keyakinan terhadap kemampuan manusia untuk bermasalah dengan alam, batas-batas pertumbuhan, dan peran yang tepat dari manusia dalam alamnya.[8]

New Environionment Paradgm melihat seseorang yang memiliki kepedulian lingkungan akan mempunyai: 1) keseimbangan hubungan antara manusia dengan lingkungan fisik, 2) meyakini batas-batas pertumbuhan, 3) melindungi lingkungan fisik, 4) keserasian antara individu dengan social, 5) peduli terhadap kepentingan umum, dan 6) peduli terhadap generasi mendatang.

The New Environment Paradigm (NEP) merupakan pemahaman baru yang diterapkan dalam mengelola atau memanfaatkan sumber daya alam atau lingkungan dengan menggunakan atau berpatokan kepada pemahaman bahwa dalam alam ini, manusia bukan satu-satunya makhluk hidup dan tidak menjadi superior terhadap lingkungannya terutama makhluk spesies lainnya.

Tujuan hidup wajar juga selaras dengan prinsip New Environment yaitu menyesuaikan keseimbangan antara populasi dengan lingkungan. Secara garis besar tujuan di atas meliputi: 1) memberikan dorongan dan cara yang mungkin dilaksanakan untuk membatasi ukuran keluarga 2) menggunakan sumber daya alam secermat dan sebijaksana mungkin 3) mengembangkan teiri ekonomi yang didasarkan pada keseimbsngan dan bukan pada pertumbuhan 4) secara rutin memonitor perubahan kimia dan fisika planet bumi dan secara tegas mengawasi setiap tindakan yang merusak 5) mengeluarkan Undang-undang atau peraturan yang secara tegas mencegah kegitan yang dapat mengakibtkan bertambahnya lebarnya amplitude ketidakstabialn hitungan hidup manusia 6) memberikan jaminan kepeda sewtiap warganegara memiliki suatu hak untuk hidup dalam lingkungan yang sehat dan sesuai.

Prinsip-prinsip paradigm baru lingkungan menekankan perlindungan alam daripada pertimbangan ekonomi. Kemerosotan lingkungan hidup yang berlangsung terus-menerus pada akhirnya membuat kerugian yang hebat.

 

  1. 2.      Gaya Kognitif

Gaya kognitif berhubungan dengan cara penerimaan dan pemrosesan informasi seseorang. Menurut Woolfolk (1998), dan Messick dalam Lusiana (1992), gaya kognitif merupakan cara seseorang dalam menerima dan mengorganisasi informasi.[9]

Gaya kognitif dapat dibedakan atas beberapa cara pengelompokan, salah satunya berdasarkan kontinum global analitik dari Witkin, et al. dalam Ratunaman yang membedakan gaya kognitif atas: 1) field independent dan (2) field dependent. Orang yang mengoperasikan efek pengecoh dengan cara analitik disebut orang yang field independent, sedangkan orang yang mengoperasikan efek pengecoh dengan cara global disebut orang yang field dependent.[10]

Implikasi masing-masing gaya kognitif field independent dan field dependent yang dimiliki seseorang adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Gaya Belajar Field Independent dan Field Dependent[11]

Gaya Belajar

Field Independent

Field Dependent

  1. Penerimaan secara analitis
  2. Memahami secara artikulasi struktur yang diberikan atau pembatasan
  3. Membuat perbedaan konsep yang spesifik dengan sedikit mungkin tumpang tindih
  4. Orienstasi pada perorangan
  5. Belajar materi yang sosial hanya sebagai tugas yang disengaja
  6. Belajar materi yang sosial hanya sebagai tugas yang disengaja
  7. Tujuan dapat dicapai sendiri dengan penguatan sendiri
  8. Bisa dengan situasi struktur sendiri
  9. Sedikit dipengaruhi oleh kritik
  10. Menggunakan pendekatan pengetesan hipotesis dalam pencapaian konsep
  11. Penerimaan secara global
  12. Memahami secara global struktur yang diberikan
  13. Membuat perbedaan yang umum dan luas antara konsep, melihat hubungan/keterkaitan.
  14. Orientasi sosial
  15. Belajar materi yang lebih bersifat sosial
  16. Materi yang baik adalah materi yang relevan dengan pengalamannya
  17. Memerlukan bantuan luar dan penguatan untuk mencapai tujuan
  18. Memerlukan pengorganisasian
  19. lebih dipengaruhi oleh kritik
  20. Menggunakan pendekatan penonton untuk mencapai konsep
  1. 3.      Jenis Kelamin

Kata gender seringkali dimaknai dengan pengertian jenis kelamin, seperti halnya seks. Kalau dilihat di dalam kamus, tidak secara jelas dibedakan pengertian seks dan gender, kata ini termasuk kosakata baru sehingga pengertiannya belum ditemukan dalam kamus besar bahasa Indonesia, meskipun demikian istilah tersebut sudah lazim digunakan.

Pengertian gender perlu dibedakan dari jenis kelamin (seks). Jenis kelamin mengandung arti perbedaan seks antara laki-laki dengan perempuan sebagai makhluk yang secara kodrat memiliki fungsi-fungsi organisme yang berbeda. Laki-laki memiliki jakun, bersuara berat, memiliki penis, testis, sperma yang berfungsi sebagai alat reproduksi. Perempuan memiliki alat reproduksi seperti rahim dan saluran-saluran untuk melahirkan, memproduksi telur, memiliki alat vagina, mempunyai alat menyusui, dan sebagainya alat-alat biologis tersebut tidak dapat di pertukarkan.[12]

Perbedaan gender sesungguhnya tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan berbagai ketidakadilan gender (Gender Ineguratics). Kata gender secara etimologi berasal dari bahasa Inggris, gender yang berarti “jenis kelamin”.[13] Pengertian etimologi ini lebih menekankan hubungan laki laki dan perempuan secara anatomis. Dalam Webster’s New World Dictionary, jenis kelamin atau gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tangkah laku.[14] Defenisi ini lebih menekankan aspek kultural dibandingkan pemaknaan secara anatomis. Di dalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep cultural yang berupaya membuat pembedaan dalam peran, prilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.[15]

Gender atau jenis kelamin merupakan cara pandang yang membedakan antara laki-laki dan perempuan melalui proses sosial dan budaya yang dikonstruksikan oleh manusia baik laki-laki maupun perempuan melalui proses sosial budaya yang pandang dalam sejarah peradaban manusia.[16] Defenisi di atas menunjukkan bahwa gender sebagai salah satu bentuk interaksi sosial antara laki- laki dan perempuan, tidak semata mata hubungan personal atau kekeluargaan, akan tetapi meliputi institusi sosial yang lebih besar seperti kelas sosial, atau hubungan hierarkis dalam organisasi dan struktur pekerjaan.[17]

Secara kodrati terdapat perbedaan dari jenis kelamin secara fisik maupun psikologis. Tingkat kematangan antara pria dan wanita lebih cepat perempuan dibandingakn pria pada usia remaja. Hal tersebut menyebabkan perbedaan aktivitas sehari-hari antara kaum pria dan wanita. Suatu kenyataan bahwa cara berpikir kaum pria cenderung lebih objektif jika dibandingkan dengan kaum wanita pada umumnya. Kaum wanita pada umumnya lebih banyak bertindak dan berbuat sesuai dengan perasaan kewanitaannya sedangkan kaum pria lebih cepat berpikirnya.

Menurut Barnabib, antara kedua jenis kelamin ini jelas ada perbedaan berdasarkan anatomi dan fisiknya. Tetapi menurut penyelidikan kedua jenis kelamin tersebut tidak berbeda di dalam hal-hal kejiwaan dan kemampuan untuk mencapai ilmu pengetahuan misalnya ilmu pasti, kebudayaan, ekonomi dan sebagainya. Hanya mungkin berbeda mengenai perhatian dan kesanggupannya di dalam beberapa lapangan tertentu. Hal ini disebabkan latihan-latihan atau pengaruh yang dipandang sebagai sifat kejiwaan. Karena hal inilah mungkin lalu kelihatan ada perbedaan antara wanita dan pria.[18]

Laster D.Crow dan Alice D.Crow berpendapat bahwa “The girls show slight superiority in language memory and aesthetic appreciation but boys excel in mathematics and ability to detect similarities”.[19] Pernyataan di atas mengindikasikan bahwa wanita menunjukkan keunggulan lebih baik dalam kemampuan berbahasa, ingatan dan apresiasi aestetika, tetapi pria lebih baik dalam matematika dan kemampuan untuk mendeteksi persamaan.

Lebih lanjut Deborah Tannen mengatakan bahwa wanita cenderung menata pembicaraan secara kooperatif, sedangkan pria cenderung menatanya secara kompetitif. Tannen juga berpendapat bahwa wanita cenderung terlibat dalam pembicaraan hubungan sedangkan pria cenderung terlibat dalam pembicaraan laporan.[20] Pembicaraan hubungan berpusat pada perasaan atau memelihara hubungan dengan orang lain, sedangkan pembicaraan laporan berpusat pada informasi faktual tentang apa yang sedang berlangsung, misalnya masalah lingkungan hidup.

Mulyana menjelaskan bahwa terdapat perbedaan pragmatik antara bahasa wanita dengan bahasa pria. Wanita menggunakan lebih banyak pembicaraan ekspresif (menyatakan emosi), dan berorientasi orang (memelihara hubungan baik dengan orang lain). Sedangkan pria menggunakan lebih banyak pembicaraan instrumental (untuk mempengaruhi dan mengendalikan orang lain), melaporkan informasi, memecahkan masalah dan menyelesaikan tugas melalui pertukaran informasi.[21]

  1. B.     Kerangka Teoritis
    1. 1.      Perbedaan Paradigma Lingkungan Antara Mahasiswa yang Memiliki Gaya Kognitif Field Independent dengan Field Dependent

 

Masalah lingkungan berkaitan erat dengan ilmu pengetahuan alam (IPA) khususnya pada bidang biologi. Melestarikan lingkungan adalah kewajiban dan dibutuhkan pengetahuan Biologi beserta cabang-cabangnya. Karenanya peran mahasiswa sebagai agent of change, mengharuskan mahasiswa untuk melek dan peduli dengan lingkungan, sehingga ia akan mudah menyadari segala permasalahan yang ada di tengah masyarakat.

Mahasiswa dalam suatu perguruan tinggi dapat dibedakan berdasarkan jurusan, program studi maupun fakultasnya. Perbedaan tersebut dapat ditunjukkan dari gaya kognitif para mahasiswa. Gaya kognitif berhubungan dengan cara penerimaan dan pemrosesan informasi seseorang. Gaya kognitif dapat dibedakan atas beberapa kelompok yaitu: (1) field independent dan (2) field dependent. Orang yang mengoperasikan efek pengecoh dengan cara analitik disebut orang yang field independent, sedangkan orang yang mengoperasikan efek pengecoh dengan cara global disebut orang yang field dependent.

Woolfolk (1998) mengemukakan bahwa orang yang field independent lebih baik dalam pelajaran matematika dan sains dibandingkan dengan orang yang field dependent. Threadgill (1979) juga melaporkan hal yang sama, yakni hasil posttes siswa field independent lebih tinggi secara signifikan dari siswa field dependent.[22] Dalam penelitian ini, maka mahasiswa yang cenderung memiliki gaya kognitif field independent adalah mahasiswa yang mengambil jurusan IPA (ilmu alam atau sains) sedangkan mahasiswa cenderung memiliki gaya kognitif field dependent adalah mahasiswa yang mengambil jurusan IPS (ilmu sosial).

Berkaitan dengan lingkungan hidup, pendidikan lingkungan hidup di perguruan tinggi atau universitas diajarkan secara analitis pada mahasiswa jurusan IPA atau sains. Sedangkan pada mahasiswa jurusan IPS pendidikan lingkungan hidup hanya dipelajari secara global. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa orang yang field independent lebih baik dalam pelajaran matematika dan sains dibandingkan dengan orang yang field dependent, dan dengan demikian dapat diduga bahwa ada perbedaaan paradigma lingkungan antara mahasiswa yang memiliki gaya kognitif field independent dengan field dependent. Mahasiswa yang memiliki gaya kognitif field independent dalam hal ini Jurusan IPA atau sains memiliki paradigma lingkungan yang lebih baik atau lebih tinggi dibandingakn mahasiswa dengan field dependent atau Jurusan IPS.

 

  1. 2.      Perbedaan Paradigma Lingkungan Antara Mahasiswa Pria dan Wanita

 

Secara kodrati terdapat perbedaan dari jenis kelamin secara fisik maupun psikologis. Tingkat kematangan antara pria dan wanita lebih cepat perempuan dibandingakn pria pada usia remaja. Hal tersebut menyebabkan perbedaan aktivitas sehari-hari antara kaum pria dan wanita.

Berdasarkan jenis kelamin antara pria dan wanita jelas ada perbedaan berdasarkan anatomi dan fisiknya. Tetapi menurut penyelidikan kedua jenis kelamin tersebut tidak berbeda di dalam hal-hal kejiwaan dan kemampuan untuk mencapai ilmu pengetahuan misalnya ilmu pasti, kebudayaan, ekonomi dan sebagainya. Hanya mungkin berbeda mengenai perhatian dan kesanggupannya di dalam beberapa lapangan tertentu. Hal ini disebabkan latihan-latihan atau pengaruh yang dipandang sebagai sifat kejiwaan. Karena hal inilah mungkin lalu kelihatan ada perbedaan antara wanita dan pria.

Suatu kenyataan bahwa cara berpikir kaum pria cenderung lebih objektif jika dibandingkan dengan kaum wanita pada umumnya. Kaum wanita pada umumnya lebih banyak bertindak dan berbuat sesuai dengan perasaan kewanitaannya sedangkan kaum pria lebih cepat berpikirnya.

Kaitannya dengan paradigma lingkungan, dapat diduga bahwa ada perbedaan paradigma atau cara pandang mahasiswa terhadap alam atau lingkungan hidup di sekitar tempat tinggalnya, berdasarkan jenis kelaminnya. Mahasiswa pria yang cenderung berpikir secara objektif, dipandang memiliki paradigma (cara berpikir) lingkungan yang lebih baik atau lebih tinggi dibandingkan wanita yang cenderung bertindak dan berbuat sesuai dengan perasaan kewanitaannya.

  1. 3.      Apakah Terdapat Pengaruh Interaksi Antara Gaya Kognitif dan Jenis Kelamin Terhadap Paradigma Lingkungan Mahasiswa

 

Merujuk pada berbagai uraian penjelasan sebelumnya, maka dapat dipahami bahwa seseorang yang memiliki gaya kognitif field independent dalam hal ini mahasiswa Jurusan IPA diduga memiliki cara berpikir yang lebih baik tentang masalah lingkungan dibandingkan dengan orang yang memiliki gaya kognitif field dependent dalam hal ini mahasiswa Jurusan IPS. Demikian halnya jika dipandang dari perbedaan jenis kelamin, pada umumnya kaum pria lebih cepat berpikirnya dibandingkan kaum wanita yang lebih banyak bertindak dan berbuat sesuai dengan perasaan kewanitaannya.

Paradigma lingkungan yang merupakan pemahaman atau cara berpikir manusia dalam mengelola atau memanfaatkan sumber daya alam atau lingkungan dengan menggunakan atau berpatokan kepada pemahaman bahwa dalam alam ini, manusia bukan satu-satunya makhluk hidup dan tidak menjadi superior terhadap lingkungannya terutama makhluk spesies lainnya, memerlukan pemikiran yang objektif ketimbang menggunakan perasaan serta mampu menerima informasi tentang berbagai masalah lingkungan secara analitis dibandingkan secara global.

Karena itu, berdasarkan uraian di atas dapat diduga bahwa ada pengaruh interaksi antara gaya kognitif dan jenis kelamin terhadap paradigma atau pola berpikir mahasiswa tentang lingkungan. Dalam hal ini, mahasiswa pria dengan gaya kognitif field independent (A1B1), memiliki paradigma atau pola berpikir yang lebih baik tentang lingkungan dibandingkan mahasiswa pria dengan gaya kognitif field dependent (A2B1), maupun dibandingkan mahasiswa wanita dengan gaya kognitif field dependent (A2B2), serta mahasiswa wanita dengan gaya kognitif field independent (A1B2), atau dengan kata lain A1B1 > A2B1 > A2B2 > A1B2.

  1. 4.      Perbedaan Paradigma Lingkungan Antara Mahasiswa Pria yang Memiliki Gaya Kognitif Field Independent dengan Mahasiswa Wanita yang Memiliki Gaya Kognitif  Field Independent

 

Dari berbagai penjelasan yang telah dilakukan pada bagian sebelumnya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan cara berpikir, berkomunikasi antara pria dan wanita. Demikian halnya dengan mahasiswa, terutama mahasiswa yang memiliki gaya kognitif field independent dalam hal ini adalah mahasiswa Jurusan IPA atau sains. Mahasiswa yang memiliki gaya kognitif field independent cenderung menerima informasi secara analitis, memahami secara artikulasi struktur yang diberikan atau pembatasan, mampu membuat perbedaan konsep yang spesifik dengan sedikit mungkin tumpang tindih, berorienstasi pada perorangan, mampu mencapai tujuan sendiri dengan penguatan sendiri, sedikit dipengaruhi oleh kritik dan cenderung menggunakan pendekatan pengetesan hipotesis dalam pencapaian suatu konsep.

Suatu kenyataan bahwa cara berpikir kaum pria cenderung lebih cepat dan lebih objektif jika dibandingkan dengan kaum wanita yang pada umumnya lebih banyak bertindak dan berbuat sesuai dengan perasaan kewanitaannya. Demikian halnya dalam hal berkomunikasi, terdapat perbedaan pragmatik antara bahasa wanita dengan bahasa pria. Wanita menggunakan lebih banyak pembicaraan ekspresif (menyatakan emosi), sedangkan pria menggunakan lebih banyak pembicaraan instrumental, melaporkan informasi, memecahkan masalah dan menyelesaikan tugas melalui pertukaran informasi.

Berdasarkan uraian di atas, maka diduga ada perbedaan paradigma lingkungan mahasiswa dengan gaya kognitif field independent antara pria dan wanita. Paradigma atau cara berpikir mahasiswa pria dengan gaya kognitif field independent tentang masalah lingkungan lebih tinggi dibandingkan mahasiswa wanita dengan gaya kognitif field independent.

  1. 5.      Perbedaan Paradigma Lingkungan Mahasiswa Pria yang Memiliki Gaya Kognitif Field Dependent dengan Mahasiswa Wanita yang Memiliki Gaya Kognitif  Field Dependent

 

Mahasiswa yang memiliki gaya kognitif field dependent dalam hal ini adalah mahasiswa Jurusan IPS atau sosial cenderung menerima informasi secara global, membuat perbedaan yang umum dan luas antara konsep, melihat hubungan/keterkaitan, berorientasi sosial, memerlukan bantuan luar dan penguatan untuk mencapai tujuan, memerlukan pengorganisasian dan lebih dipengaruhi oleh kritik.

Sementara ditinjau dari jenis kelamin, mahasiswa pria cenderung lebih cepat dan lebih objektif jika dibandingkan dengan kaum wanita yang pada umumnya lebih banyak bertindak dan berbuat sesuai dengan perasaan kewanitaannya. Dalam hal berkomunikasi, wanita cenderung menggunakan lebih banyak pembicaraan ekspresif (menyatakan emosi) dan berorientasi-orang (memelihara hubungan sosial, menunjukkan dukungan dan membangung komunitas), sedangkan pria menggunakan lebih banyak pembicaraan instrumental, melaporkan informasi, memecahkan masalah dan menyelesaikan tugas melalui pertukaran informasi.

Berdasarkan uraian di atas, maka diduga ada perbedaan paradigma lingkungan mahasiswa dengan gaya kognitif field dependent antara pria dan wanita. Paradigma atau cara berpikir mahasiswa pria dengan gaya kognitif field dependent tentang masalah lingkungan diduga lebih tinggi dibandingkan mahasiswa wanita dengan gaya kognitif field dependent.

 

  1. 6.      Perbedaan Paradigma Lingkungan Mahasiswa Pria yang Memiliki Gaya Kognitif Field Independent dengan Mahasiswa Pria yang Memiliki Gaya Kognitif  Field Dependent

 

Berdasarkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang field independent lebih baik dalam pelajaran matematika dan sains dibandingkan dengan orang yang field dependent. Dalam penelitian ini, maka mahasiswa yang cenderung memiliki gaya kognitif field independent adalah mahasiswa yang mengambil jurusan IPA (ilmu alam atau sains) sedangkan mahasiswa cenderung memiliki gaya kognitif field dependent adalah mahasiswa yang mengambil jurusan IPS (ilmu sosial).

Berkaitan dengan lingkungan hidup, pendidikan lingkungan hidup di perguruan tinggi atau universitas diajarkan secara analitis pada mahasiswa jurusan IPA atau sains. Sedangkan pada mahasiswa jurusan IPS pendidikan lingkungan hidup hanya dipelajari secara global. Dengan demikian dapat diduga bahwa ada perbedaaan paradigma lingkungan antara mahasiswa pria yang memiliki gaya kognitif field independent dengan mahasiswa pria yang memiliki gaya kognitif field dependent. Mahasiswa yang memiliki pria dengan gaya kognitif field independent dalam hal ini Jurusan IPA atau sains memiliki paradigma lingkungan yang lebih baik atau lebih tinggi dibandingakn mahasiswa pria dengan field dependent atau Jurusan IPS.

  1. 7.      Perbedaan Paradigma Lingkungan Mahasiswa Wanita yang Memiliki Gaya Kognitif Field Dependent dengan Mahasiswa Wanita yang Memiliki Gaya Kognitif Field Independent

 

Mahasiswa yang cenderung memiliki gaya kognitif field independent adalah mahasiswa yang mengambil jurusan IPA (ilmu alam atau sains) sedangkan mahasiswa cenderung memiliki gaya kognitif field dependent adalah mahasiswa yang mengambil jurusan IPS (ilmu sosial).

Mahasiswa yang memiliki gaya kognitif field independent cenderung menerima informasi secara analitis, memahami secara artikulasi struktur yang diberikan atau pembatasan, mampu membuat perbedaan konsep yang spesifik dengan sedikit mungkin tumpang tindih, berorienstasi pada perorangan, mampu mencapai tujuan sendiri dengan penguatan sendiri, sedikit dipengaruhi oleh kritik dan cenderung menggunakan pendekatan pengetesan hipotesis dalam pencapaian suatu konsep. Sementara mahasiswa yang memiliki gaya kognitif field dependent cenderung menerima informasi secara global, membuat perbedaan yang umum dan luas antara konsep, melihat hubungan/keterkaitan, berorientasi sosial, memerlukan bantuan luar dan penguatan untuk mencapai tujuan, memerlukan pengorganisasian dan lebih dipengaruhi oleh kritik.

Hal di atas menunjukkan adanya perbedaan cara berpikir, memahami atau menerima informasi antara mahasiswa yang memiliki gaya kognitif field independent dengan yang memiliki gaya kognitif field dependent. Ditinjau dari jenis kelamin, mahasiswa wanita pada umumnya lebih banyak bertindak dan berbuat sesuai dengan perasaan kewanitaannya serta berkomunikasi dengan cenderung menggunakan lebih banyak pembicaraan ekspresif (menyatakan emosi) dan berorientasi-orang (memelihara hubungan sosial, menunjukkan dukungan dan membangung komunitas).

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diduga adanya perbedaan paradigma lingkungan mahasiswa wanita yang memiliki gaya kognitif field independent dengan mahasiswa wanita yang memiliki gaya kognitif  field dependent. Ditinjau dari gaya kognitif antara mahasiswa dengan gaya kognitif field independent dan mahasiswa dengan gaya kognitif field dependent serta kaitannya dengan cara berpikir maupun berkomunikasi mahasiswa wanita, diduga bahwa paradigma lingkungan mahasiswa wanita yang memiliki gaya kognitif field dependent lebih baik atau lebih tinggi dibandingkan mahasiswa wanita yang memiliki gaya kognitif  field independent.

 

  1. C.    Hipotesis Penelitian

Hipotesis Penelitian adalah suatu proposisi yang merupakan jawaban sementara dari pertanyaan penelitian yang terdapat dalam rumusan masalah yang bersifat pernyataan apriori. Hipoetesis dalam penelitian ini dapat dinyatakan sebagai berikut:

  1. Paradigma lingkungan mahasiswa dengan gaya kognitif field independent lebih tinggi dibandingkan paradigma lingkungan mahasiswa dengan gaya kognitif field dependent.
  2. Paradigma lingkungan mahasiswa pria lebih tinggi dibandingkan mahasiswa wanita.
  3. Terdapat pengaruh interaksi antara gaya kognitif dan jenis kelamin terhadap paradigma lingkungan mahasiswa.
  4. Paradigma lingkungan mahasiswa pria dengan gaya kognitif field independent lebih tinggi dibandingkan mahasiswa wanita dengan gaya kognitif field independent.
  5. Paradigma lingkungan mahasiswa pria dengan gaya kognitif field dependent lebih tinggi dibandingkan mahasiswa wanita dengan gaya kognitif field dependent.
  6. Paradigma lingkungan mahasiswa pria dengan gaya kognitif field independent lebih tinggi dibandingkan mahasiswa pria yang memiliki gaya kognitif field dependent.
  7. Paradigma lingkungan mahasiswa wanita dengan gaya kognitif field dependent lebih tinggi dibandingkan mahasiswa wanita dengan gaya kognitif  field independent.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

  1. A.    Tujuan Penelitian

Sejalan dengan rumusan masalah dan hipotesis yang diajukan, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:

  1. Perbedaan paradigma lingkungan mahasiswa dengan gaya kognitif field independent lebih tinggi dibandingkan paradigma lingkungan mahasiswa dengan gaya kognitif field dependent.
  2. Perbedaan paradigma lingkungan mahasiswa pria lebih tinggi dibandingkan mahasiswa wanita.
  3. Pengaruh interaksi antara gaya kognitif dan jenis kelamin terhadap paradigma lingkungan mahasiswa.
  4. Paradigma lingkungan mahasiswa pria dengan gaya kognitif field independent lebih tinggi dibandingkan mahasiswa wanita dengan gaya kognitif field independent.
  5. Paradigma lingkungan mahasiswa pria dengan gaya kognitif field dependent lebih tinggi dibandingkan mahasiswa wanita dengan gaya kognitif field dependent.
  6. Paradigma lingkungan mahasiswa pria dengan gaya kognitif field independent lebih tinggi dibandingkan mahasiswa pria yang memiliki gaya kognitif field dependent.
  7. Paradigma lingkungan mahasiswa wanita dengan gaya kognitif field dependent lebih tinggi dibandingkan mahasiswa wanita dengan gaya kognitif  field independent
  8. B.     Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Universitas Negeri Medan yang beralamat di Jalan Williem Iskandar, Pasar V Medan. Waktu penelitian dilakukan selama 7 Bulan dengan rincian sebagai berikut:

Tabel 2. Rincian Jadual Penelitian

No.

Kegiatan Penelitian

Tahun 2012/Bulan:

Januari

Februari

Maret

April

Mei

Juni

Juli

1

Penyusunan proposal

2

Seminar proposal

3

Penelitian lapangan

4

Penyusunan laporan penelitian
  1. C.    Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian Ex Post Facto. Penelitian ex post facto merupakan penelitian di mana rangkaian variabel-variabel bebas telah terjadi, ketika peneliti mulai melakukan pengamatan terhadap variabel terikat.[23] Sifat penelitian ex post facto yaitu tidak ada kontrol terhadap variabel. Variabel dilihat sebagaimana adanya.

Penelitian ex post facto merupakan penelitian yang dilakukan sesudah perbedaan-perbedaan dalam variabel bebas terjadi karena perkembangan suatu kejadian secara alami. Penelitian ini biasanya dipisahkan dengan penelitian eksperimen. Peneliti dalam ex post facto tidak dapat melakukan manipulasi atau treatment terhadap variabel-variabel bebasnya, hal ini menunjukkan bahwa perubahan dalam variabel-variabelnya sudah terjadi.

Desain penelitian ex post facto, dengan metode yang menitikberatkan pada penelitian komparatif. Desain atau rancangan penelitian yang digunakan dapat digambarkan dalam model faktorial 2 × 2, sebagai berikut:

Tabel 3. Paradima Lingkungan Faktorial 2 × 2

Gaya Kognitif (A)

Field Independent

(A1)

Field Dependent

(A2)

Jenis Kelamin

(B)

Pria

(B1)

A1B1

A2B1

Wanita

(B2)

A1B2

A2B2

Keterangan:

A1B1 :  Paradigma lingkungan mahasiswa pria yang memiliki gaya kognitif field independent.

A1B2 :  Paradigma lingkungan mahasiswa wanita yang memiliki gaya kognitif field independent.

A2B1 :  Paradigma lingkungan mahasiswa pria yang memiliki gaya kognitif field dependent.

A2B2 :  Paradigma lingkungan mahasiswa wanita yang memiliki gaya kognitif field dependent.

 

  1. D.    Populasi dan Sampel

Populasi yang menjadi target penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Universitas Negeri Medan. Sesuai dengan fokus dan rumusan masalah penelitian populasi yang terjangkau dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan Fakultas Ilmu Sosial (FIS) tahun akademik 2009.

Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan sample. Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Salah satu cara pengambilan sampel adalah harus representatif yaitu sampel yang diambil diharapkan dapat mewakili populasi, semakin besar sampel yang diambil mendekati populasi maka peluang kesalahan generalisasi semakin kecil dan sebaliknya bila terlalu sedikit sampel menjauh populasi maka semakin besar kesalahan generalisasi (diberlakukan umum).

Penentuan dan pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling, yaitu sampel yang diambil melalui pertimbangan. Pertimbangan adalah responden penelitian merupakan mahasiswa FMIPA dan mahasiswa FIS. Penentuan jumlah sampel penelitian dilakukan dengan menggunakan rumus Slovin, sebagai berikut:

dimana:

n    =   jumlah sampel

N   =   jumlah populasi

e    =   persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir atau diinginkan, bisa sebesar 1%, 5% dan 10%.

Selanjutnya dari jumlah sampel penelitian dibagi menjadi responden kelompok mahasiswa FMIPA dan mahasiswa FIS, dengan perhitungan sebagai berikut:

dan

dimana:

n1   =  jumlah sampel kelompok FMIPA

n2   =  jumlah sampel kelompok FIS

N1  =  jumlah populasi kelompok FMIPA

N2  =  jumlah populasi kelompok FIS

n    =  jumlah sampel keseluruhan

N   =  jumlah populasi keseluruhan

  1. E.     Kontrol Validitas Internal dan Eksternal Rancangan Penelitian

Demi mendapatkan data penelitian yang akan digunakan dalam pengujian hipotesis penelitian maka dipandang perlu diadakan pengontrolan validitas atau kesahihan internal dan eksternal.

  1. Kesahihan Internal (Internal validity)

Kesahihan internal rancangan penelitian perlu dikontrol, agar hasil yang diperoleh benar-benar merupakan akibat dari perlakuan yang diberikan kepada siswa. Pengontrol kesahihan internal meliputi :

  1. Pengaruh histori (history effect), yaitu pengontrolan dengan cara mencegah timbulnya kejadian khusus yang tidak diinginkan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan penelitian dalam waktu yang relatif tidak lama.
  2. Pengaruh kematangan atau kejenuhan (maturation effect), yaitu pengontrolan dengan cara mengusahakan pelaksanaan perlakuan dalam jangka waktu relatif tidak lama, sehingga subjek penelitian tidak sampai mengalami perubahan mental maupun fisik yang dapat mempengaruhi pola pikirnya.
  3. Pengaruh instrumen penelitian (instrument effect), yaitu tidak melakukan perubahan pada indikator instrumen yang digunakan, instrumen yang digunakan untuk responden kelompok FMIPA sama dengan instrumen yang digunakan untuk responden kelompok FIS.
  1. Kesahihan Eksternal (Eksternal validity)
    1. Kesahihan Populasi

Kesahihan populasi merupakan pengontrol terhadap populasi dari subjek penelitian yang diharapkan dapat memiliki akibat yang sama dengan yang dialami oleh subjek sampel penelitian. Oleh karena itu penentuan sampel atau subjek penelitian dilakukan secara acak sederhana melalui undian dengan memandang bahwa setiap responden memiliki peluang yang sama untuk dijadikan sebagai sampel penelitian. Melalui undian atau pengacakan sederhana, maka kesahihan populasi dianggap telah sesuai.

  1. Kesahihan Ekologi

Kesahihan ekologi menyangkut masalah generalisasi hasil penelitian yang berhubungan dengan kondisi lingkungan yang lain. Pengontrolan terhadap kesahihan ekologi dilakukan untuk menghindari adanya pengaruh reaktif dari penelitian, yaitu persiapan, perlakuan, pelaksanaan perlakuan, variabel terikat dan variabel bebas serta variabel moderator.

 

  1. F.     Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan instrumen angket (kuesioner) untuk mengetahui tentang paradigma lingkungan mahasiswa. Instrumen penelitian disusun berdasarkan kajian teori yang relevan dengan variabel penelitian berdasarkan rumusan konseptual dan definisi operasional penelitian. Berdasarkan definisi tersebut maka dapat dilanjutkan dengan menyusun rumusan indikator variabel. Selanjutnya disusun kisi-kisi instrumen yang berisikan indikator dan sub indikator dengan butir-butir instrumen penelitian. Angket yang disusun dilengkapi dengan identitas dan petunjuk pengisian. Pengembangan instrumen disusun dan dikembangkan sendiri oleh peneliti.

Instrumen-instrumen yang telah disusun terlebih dahulu diujicobakan untuk mendapatkan instrumen yang shahih dan handal (valid dan reliabel) prosedur ujicoba instrumen adalah: a) penentuan respondesn ujicoba, b) pelaksanaan ujicoba, dan, c) analisis hasil uji coba.

a)      Responden uji coba

Responden uji coba dalam penelitian ini adalah mahasiswa FMIPA dan FIS yang bukan merupakan bagian dari sampel penelitian dan dianggap memenuhi syarat sebagai ujicoba.

b)      Pelaksanaan Uji Coba

Pelaksanaan uji coba instrumen dilakukan dengan memberikan angket kepada para responden dengan mendatangi dan mendistribusikan secara langsung instrumen kepada responden ujicoba.

c)      Analisis Hasil Ujicoba

Hasil Ujicoba dianalisis untuk mengetahui validitas dan reliabilitas instrumen, dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Penskoran Dalam Instrumen

Dalam instrumen yang telah disusun, sesuai dengan sifat penelitian yang kuantitatif, maka akan diadakan penskoran terhadap pernyataan-pernyataan kualitatif, agar bisa diolah dengan rumus statistik. Penskoran dilakukan dengan menggunakan skala likert yang disusun dalam lima pilihan jawaban yaitu: sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju dan sangat tidak setuju, serta tiap pernyataan tersebut dinilai dengan kategori yang berbeda-beda dari 5, 4, 3, 2, dan 1 untuk pernyataan positif dan 1, 2, 3, 4, dan 5 untuk pernyataan negatif.

  1. Validitas

Penyusunan angket harus mempertimbangkan hal-hal berikut: a). menghindari pernyataan yang meragukan atau tidak jelas, b). menghindari penggunaan kata-kata yang menimbulkan rasa curiga dan antipati. Untuk memperoleh butir-butir yang shahih dari setiap indikator variabelnya dianalisis dengan menggunakan teknik korelasi produk moment. Butir dikatakan valid bila r yang didapatkan dari hasil perhitungan lebih besar dari r tabel pada taraf signifikan α = 0,05. Rumus product moment dari Pearson yang digunakan sebagai berikut:

dimana :

rxy         =   Koefisien korelasi antar variabel X (skor subjek tiap butir) dengan Y  (total skor subjek dari keseluruhan butir)

X       =  Nilai untuk setiap item

Y       =   Nilai total

∑XY  =   Jumlah dari hasil perkalian antar X dengan Y

∑X     =   Jumlah total skor tiap item

∑Y     =   Jumlah total skor keseluruhan item

∑X2   =   Jumlah kuadrat dari skor X

∑Y2   =   Jumlah kuadrat dari skor Y

N       =   Jumlah sampel

Instrumen yang telah dianalisis kehandalannya selanjutnya dikonsultasikan dengan pembimbing untuk menentukan dan menyepakati jumlah butir yang akan dijadikan instrumen pengumpulan data di lapangan. Hal ini dilakukan untuk menentukan jumlah butir yang akan dijadikan instrumen pengumpulan data, juga mempertimbangkan apakah semua butir yang shahih akan digunakan. Setelah konsulatasi dengan pembimbing maka butir-butir yang shahih hanya digunakan setelah diperbaiki dari setiap variabel.

  1. Reliabilitas

Uji reliabilitas (keterhandalan) pada instrumen penelitian menggunakan teknik alpha dengan rumus sebagai berikut:

dimana:

r11       =    Reliabilitas tes yang dicari

k         =    Banyaknya item

si        =    Butir angket ke-i

st        =    Varians total

  1. G.    Teknis Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis berupa deskriptif dan analisis inferensial. Teknik analisis deskriptif dimaksudkan untuk mendeskripsikan data penelitian meliputi mean, median, modus, varians dan standar deviasi. Data yang telah diperoleh selanjutnya disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi menggunakan aturan Sturges dan dalam bentuk histogram.

Analisis statistik inferensi dilakukan untuk menguji hipotesis. Sebelum pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat terhadap data yang dikumpulkan yaitu dengan menggunakan uji normalitas dan homogenitas. Uji normalitas dimaksudkan untuk menguji apakah data sampel yang diperoleh dari populasi memiliki sebaran yang berdistribusi normal. Uji normalitas dilakukan dengan uji Lilliefors. Sedangkan uji homogenitas dimaksudkan untuk menguji apakah kelompok-kelompok yang membentuk sampel berasal dari populasi yang sama, artinya penyebarannya dalam populasi bersifat homogen. Uji homogentas data dilakukan dengan uji Fisher dan uji Burlett.

Setelah prasyaratan terpenuhi selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis penelitian menggunakan teknik ANAVA dua jalur dengan faktorial 2 × 2. Hal ini dilakukan untuk menguji keberartian satu variabel atau kombinasi dua variabel terhadap variabel terikat. Apabila hasil statistik F hitung pada taraf signifikansi    α = 5% terdapat perbedaan rata-rata variabel terikat dari dua sampel sebagai akibat variabel bebas, maka analisis akan dilanjutkan dengan uji Scheffe’.

 


DAFTAR PUSTAKA

Azhari. A, Psikologi Pendidikan, Semarang: Dina Utama, 1996.

Azizah, L., Perspektif Jender dalam Novel Perempuan di Titik Nol Karya Nawal El-Saadawi: Tinjauan Sastra Feminis, http://etd.eprints.ums.ac.id/644/1/ A310030102.pdf; internet, accessed 4 December 2011.

E. Jane Luzar, et.al, Evaluating Nature-based Tourism Using The New Environment Paradigm, J.Agr and Applied Econ (27)2, [home page on-line] available from http://ageconsearchumn.edu/bitsteram/15279/1/ 270020544.pdf, internet, accessed 4 December 2011.

Edgar F. Borgatta , Encyclopedia of Sociology, Vol. II, New York: Macmillan Publishing Company, 1984.

Global Environments & Societies, [home page on-line] available from http://enva320.wikispaces.com/file/view/Catton+and+Dunlap.pdf, internet, accessed 4 December 2011.

Helen Tiemey, Women’s Studies Encyclopedia, Vol.1, New York: Gree Wook Pree.

http://id.wikipedia.org/wiki/Paradigma_(disambiguasi)

John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, Jakarta: Gramedia, 1983.

Katimin, Mozaik Pemikiran Islam dari Masa Klasik Sampai Masa Kontemporer, Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2010.

M. Shiddiq al-Jawi, “Paradigma Ekonomi Islam” [home page on-line], availible from http://khilafah1924.org/index2.php?option=com_content&do_pdf =1&id=71; internet, accessed 4 December 2011.

Mulyana, D., Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005.

Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2008.

Sukmawati, “Pengaruh Faktor-Faktor Kognisi Terhadap Hasil Belajar”, Baruga, Vol.1 No.3 Maret 2008.

Tanwey Gerson Ratumanan, “Pengaruh Model Pembelajaran dan Gaya Kognitif Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa SLTP di Kota Ambon”, Jurnal Pendidikan Dasar, Vol.5 No.1, Ambon, 2003.

Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Victoria Neufeldt, Webster’s New Dictionary, New York: Websters New York Clevenland, 1984.

 


[1] Tanwey Gerson Ratumanan, “Pengaruh Model Pembelajaran dan Gaya Kognitif Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa SLTP di Kota Ambon”, Jurnal Pendidikan Dasar, Vol.5 No.1, Ambon, 2003, hal. 2

[2] Ibid., hal. 2

[3] Katimin, Mozaik Pemikiran Islam dari Masa Klasik Sampai Masa Kontemporer (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2010), hal. 296.

[5]  M. Shiddiq al-Jawi, “Paradigma Ekonomi Islam” [home page on-line], availible from http://khilafah1924.org/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=71; internet, accessed 4 December 2011.

[6] Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

[7] Global Environments & Societies, [home page on-line] available from http://enva320.wikispaces.com/file/view/Catton+and+Dunlap.pdf, internet, accessed 4 December 2011.

[8] E. Jane Luzar, et.al, Evaluating Nature-based Tourism Using The New Environment Paradigm, J.Agr and Applied Econ (27)2, [home page on-line] available from http://ageconsearchumn.edu/bitsteram/15279/1/ 270020544.pdf, internet, accessed 4 December 2011.

[9] Tanwey Gerson Ratumanan, op-cit., hal. 2

[10] Ibid., hal. 2

[11] Sukmawati, “Pengaruh Faktor-Faktor Kognisi Terhadap Hasil Belajar”, Baruga, Vol.1 No.3 Maret 2008. hal. 17

[12] Azizah, L., Perspektif Jender dalam Novel Perempuan di Titik Nol Karya Nawal El-Saadawi: Tinjauan Sastra Feminis, http://etd.eprints.ums.ac.id/644/1/A310030102.pdf.

[13] John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia (Jakarta: Gramedia, 1983), hal. 256  

[14] Victoria Neufeldt, Webster’s New Dictionary (New York: Websters New York Clevenland, 1984), hal.561

[15] Helen Tiemey, Women’s Studies Encyclopedia, Vol.1 ( New York: Gree Wook Pree), hal. 153

[16] Katimin, op-cit, hal. 296.

[17] Edgar F. Borgatta , Encyclopedia of Sociology, Vol. II (New York: Macmillan Publishing Company, 1984), hal. 748

[18] Jamidi, Pengaruh Metode Eksperimen dan Jenis Kelamin terhadap Hasil Belajar Kimia Siswa SMA di Kabupaten Langkat, (Medan: FMIPA UNIMED, 1989), hal. 24

[19] Azhari. A, Psikologi Pendidikan, (Semarang: Dina Utama, 1996), hal. 120

[20] Mulyana, D., Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), hal. 315-316.

[21] Ibid., hal. 316.

[22] Tanwey Gerson Ratumanan, op-cit., hal. 9

[23] Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hal. 174

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s