PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN DAN EFIKASI DIRI TERHADAP HASIL BELAJAR LINGKUNGAN HIDUP

Oleh: Gusti Nurpansyah

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Masalah lingkungan sekarang ini tidak terlepas dari masalah lingkungan hidup. Jika dikaji secara seksama faktor penyebabnya terutama terletak pada pola pikir, perilaku manusia. Sebagian norma-norma yang ada dan berkembang dalam masyarakat kurang mencerminkan sikap rasional dan bertanggung jawab sebagai warga masyarakat dalam aspek lingkungan hidup. Seseorang yang kurang memahami lingkungan hidup dalam berperilaku dan memberikan kebijakan kurang mempertimbangkan aspek lingkungan.

Pengelolaan lingkungan lebih menekankan pada bagaimana manusia dapat mengelola lingkungannya sehingga dapat lestari bagi generasi yang akan datang.Di Indonesia pengetahuan lingkungan diberikan pada jalur pendidikan formal seperti pada mata pelajaran ilmu pengetahua alam (IPA), ilmu pengetahuan social (IPS).

Penyampaian materi lingkungan hidup di SMA, terintegrasi pada mata pelajaran Biologi, Fisika dan Geografi. Hal itu dirasakan memberatkan bagi siswa karena banyak mata pelajaran yang menyajikan materi yang mirip dengan mata pelajaran lainya sehingga berdampak pada rendahnya hasil bejar peserta didik.

Dalam proses belajar mengajar, guru dituntut memiliki strategi agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien, dapat mencapai sasaran yang duharapkan. Dalam teknik penyajian materi pembelajaran, guru perlu menguasai metode pembelajaran dan mampu memahami psikologi siswa.

Dalam proses pembelajaran, pembelajaran lingkungan hidup dibutuhkan seperangkat strategi sebagai alternative yang bisa memberikan kesempata untuk menumbuhkan dan meningkatkan efikasi diri dalam pembelajaran di kelas. Strategi pembelajaran yang biasa dilakukan adalah dengan menerapkan metode ceramah di mana seorag guru membuat semua keputusan sedagkan siswa pasif dalam menerima materi pembelajaran. Strategi lain seperti diskusi dapat diterapkan di maa siswa memiliki kesempatan yang luas untuk mengembangkan pikirannya untuk membuat keputuisan-keputusan mengenai apa, bagaimana dan kapan sesuatu dapat dipelajari dengan baik. Rasa ingin tahu dapat menarik siswa lebih mendalam dalam mempelajari materi pembelajaran.

Oleh karena itu, pada penelitian ini akan digunakan dua strategi yakni metode diskus dengan metode ceramah. Hal ini akan dilihat pengaruhnya di antara dua strategi tersebut.

Berdasarkan pemikiran di atas, maka perlu strategi pembelajaran yang mempu meningkatkan kemampuan kognisi siswa dan menumbuhkan efikasi diri.

  1. B.   Rumusan Masalah

Adapun masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah:

  1. Apakah terdapat perbedaan hasil belajar lingkungan hidup antara siswa yang diberikan strategi diskusi dengan ceramah?
  2. Apakah terdapat perbedaan hasil belajar lingkungan hidup antara siswa yang diberikan diskusi dengan ceramah dan memiliki efikasi diri yang tinggi?
  3. Apakah terdapat perbedaan hasil belajar lingkungan hidup antara siswa yang diberikan diskusi dengan ceramah dan memiliki efikasi diri yang rendah?
  4. Apakah terdapat interaksi antara strategi pembelajaran dan efikasi diri terhadap hasil belajar lingkungan hidup?
  1. C.   Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut.

  1. Sebagai informasi yang dapat digunakan oleh berbagai pihak terkait dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.
  2. Sebagai masukan bagi penentu kebijakan dalam pengembangan program pendidikan.
  3. Sebagai bahan rujukan dan masukan bagi peneliti lainnya untuk mengembangkan penelitian lanjutan dan variabel yang berkaitan hasil belajar lingkungan hidup.

BAB II

LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

  1. A.   Hakikat Belajar

Menurut Brown belajar adalah: (1) merupakan proses pemerolehan dan penyampaian informasi, (2) merupakan proses penyimpanan informasi ke dalam ingatan, (3) memerlukan kesadaran, (4) bersifat permanen, (5) mencakup hal-hal yang praktis, dan (6) menghasilkan perubahan tingkah laku.[1]

Teori belajar dapat diartika sebagai seperangkat prinsip-prinsip yang menjelaskan bagaimana individu belajar dan bagaimana seorang individu memperoleh kemampuan atau pengetahuan baru.[2] Dengan demikian, dalam perspektif pemrosesan informasi, pembelajaran digambarkan sebagai proses penyimpanan pengetahuan dalam memori.

Secara garis besar, Newby membagi 3 teori besar yang dianggap member kecenderungan dalam pembentukan konsep belajar sehingga berdampak pada perbedaan nyata dalam praktek pembelajaran. Ketiga teori tersebut adalah teori tingkah laku, teori pemrosesan informasi dan teori kontruktivisme.[3]

Berdasarkan teori pemrosesan informasi, siswa secara bertahap mengembangkan kapasitas untuk memproses informasi sehingga secara bertahap pula siswa dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.[4]

Menurut Heinich, dkk. Belajar adalah pengembangan pengetahuan, keterampilan atau sikap sebagai interaksi seseorang dengan informasi dan lingkungan.[5]

Untuk menilai keberhasilan pembelajaran, Reigeluth membagi dalam tiga kelompok yaitu efektivitas, efisiensi dan daya tarik. Efektivitas pembelajaran dapat ditentukan melalui: (1) variasi capaian prestasi siswa dalam penguasaan pengetahuan dasar, (2) kemampuan untuk memecahkan masalah, (3) kemampuan membuat hubungan dan berpikir logis, (4) kemampuan mengingat fakta tertentu, (5) kemampuan mengklasifikasikan contoh-contoh dari suatu konsep tertentu, dan (6) kemampuan untuk mengikuti sebuah prosedur tertentu. Efisiensi diukur melalui efektivitas pembagian waktu siswa atau biaya yang dikeluarkan untuk sebuah proses pembelajaran. Contoh perhitungan waktu dalam konteks efisiensi ialah mempertimbangkan waktu yang digunakan oleh seorang guru untuk membuat rancangan pelaksanaan pembelajaran, membuat media, dibandingkan dengan hasil belajar yang diperoleh dari proses pembelajaran. Adapun daya tarik ditentukan dengan melihat kecenderungan siswa untuk melanjutkan pembelajaran.[6]

Gagne menyatakan bahwa belajar adalah perubahan manusia selama satu masa yang menampakan diri sebagai perubahan tingkah laku, perubahan tersebut boleh jadi berupa peningkatan kapabilitas atau beberapa jenis unjuk kerja, sikap, minat dan nilai.[7]

Woolfolk menyatakan bahwa belajar dapat terjadi pada seseorang karena adanya pengalaman yang menyebabkan perubahan yang relative permanen pada pengetahuan dan perilakunya.. pengetahuan dan perilaku diperoleh dari hasil pengalaman melalui interaksi aktif antara individu dengan lingkungannya.[8]

Gagne  mengistilahkan perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar mengajar  dengan kapabilitas. Kapabilitas diartikan adanya perubahan kemampuan seseorang sebagai akibat belajar yang berlangsung selama satu masa waktu tertentu.[9]

Menurut Slavin bahwa belajar mengacu pada perubahan perilaku atau potens individu sebagai hasil dari pengalaman da perubahan tersebut tidak disebabkan oleh pertumbuhan, kematangan atau kelelahan dan kebiasaan.[10]

Yusufhadi Miarso menjelaskan tentang pembelajaran dengan membedakan antara pembelajaran (Instruction) dan pengajaran (teaching). Pembelajaran adalah usaha mengelola lingkungan belajar dengan sengaja agar seseorang dapat membentuk diri secara positif tertentu dalam kondisi positif tertentu. Sedangkan pengajaran adalah usaha membimbing dan mengarahkan pengalaman belajar peserta didik yang biasaya berlangsung dalam situasi formal atau resmi.[11] Gagne, Briggs dan wager, pembelajaran sebagai serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memudahkan terjadinya proses belajar pada siswa.[12] Menurut Knirk dan Gustafon, pada dasarnya pembelajaran terutama terkait dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan belajar dan membelajarkan.[13]

  1. Hasil Belajar Siswa

Menurut Gagne hasil belajar dapat dikelompokan dalam 5 kategori yaitu: (1) kemampuan intelektual (2) strategi kognitif, (3) informasi verbal (4) keterampilan motorik dan (5) sikap.[14]

Di dalam taksonomi bloom, hasil belajar dibagi dalam tiga ranah yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor.[15]

Ranah kognitif terdiri dari: (1) pengetahuan factual, (2) pengetahuan konsep, (3) pengetahuan procedural, dan (4) pengetahuan metakognitif. Masing-masing pengetahuan tersebut terbagi dalam 6 sub bagian yaitu: (1) ingatan, (2) pemahaman, (3) aplikasi, (4) analisis, (5) evaluasi dan (6) kreativitas.[16]

Menurut Bloom yng dikutip oleh Anderson dan Krathwohl menyataka bahwa hasil belajar yang berkaitan dengan ranah kognitif mencakup 6 aspek yaitu mengingat, mengerti, menggunakan, menganalisis, menilai dan mencipta.[17]

Dalam hubungannya dengan ini, Kingsley membagi 3 macam hasil belajar yaitu keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan pengertian, sikap dan cita-cita.[18]

Untuk mengetahui apakah tujuan telah dapat dicapai atau tidak, diperlukan suatu penilaian. Dalam suatu kegiatan penilaian pengajaran ini berperan sebagai pengukur untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan yang telah ditetapkan. Evaluasi atau penilaian pada dasarnya adalah suatu proses sistematis untuk menentukan sejauh mana tujuan pembelajaran yang ditetapkan telah dicapai oleh siswa.[19]

Suatu hal yang perlu dicatat adalah bahwa tujuan guru mengajar bukan hanya sekadar agar siswa belajar, tetapi juga agar siswa terbiasa belajar.[20]

Feldman menjelaskan bahwa belajar merupakan proses perubahan tingkah laku dalam diri seseorang yang relative permanen sebagai hasil dari pengalamannya.[21]

Dalam kaitan itu, Morris menekakan bahwa belajar diperoleh dari latihan.[22]

Gredler, menyatakan bahwa perubahan tingkah laku itu terjadi setelah berintekasi dengan lingkungan.[23]

Menurut Gagne belajar merupakan perubahan kemampuan atau disposisi melalui usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dalam waktu tertentu. Dalam belajar dituntut kemampuan seseorang untuk menunjukan suatu upaya dalam melakukan perubahan tingkah laku berdasarkan praktek, latihan,latihan dan pengalaman yang dibatasi oleh waktu dan kondisi tertentu.[24]

Gagne, Briggs, dan wager menyatakan bahwa kondisi yang mempengaruhi terjadinya peristiwa belajar yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berasal dari dalam diri seseorang yang meliputi aspek fisiologis (bersifat jasmani) dan aspek psikologis (bersifat rohaniah).[25]

Selanjutnya Klausmeier dan Goodwin menyatakan bahwa untuk mengidentifikasi faktor dan kondisi yang mempengaruhi belajar seseorang dapat diketahui dari pelajar, proses belajar maupun kegiatan belajar.[26]

Hasil belajar adalah perolehan kemampuan yang dimiliki warga belajar setelah menerima pelatihan dan pengalaman.[27]

Selanjutnya Romizowsky menyatakan bahwa hasl belajar diperoleh dalam bentuk pengetahuan dan keterampilan.pengetahuan berkenaan dengan informasi yang tersimpan dalam otak manusia setelah mengalami proses belajar sedangkan keterampilan berkenaan dengan tindakan seseorang dalam mencapai suatu tujuan akibat proses belajar.[28]

  1. C.   Strategi Pembelajaran

Istilah strategi berasal dari bahasa Yunani yaitu strategia merupakan sebuah perencanaan yang panjang untuk berhasil dalam mencapai suatu keuntungan.[29] Strategi pembelajaran menurut seels and Richey adalah spesifikasi untuk menyeleksi serta mengurutkan peristiwa belajar atau kegiatan pembelajaran dalam suatu pelajaran.[30]

Mintzberg mendefinisikan strategi sebagai 5P, yaitu

  1. strategi sebagai perpectif, di mana strategi dalam membentuk misi menggambarkan semua aktivitas.
  2. sebagai posisi, dicari pilihan untuk bersaing
  3. sebagai perencanaan, menentukan tujuan performansi
  4. sebagai pola kegiatan, dalam strategi dibentuk suatu pola
  5. penipuan yaitu muslihat rahasia.

Menurut Dick dan Corey, strategi pembelajaran menjelaskan komponen-komponen umum dari seperangkat bahan pembelajaran dan prosedur-prosedur yang akan digunakan bersama bahan-bahan tersebut untuk menghasilkan hasil belajar tertentu pada pemelajar. Terdapat lima komponen umum yang terkandung dalam strategi pembelajaran yaitu: (1) kegiatan prainstruksional; (2) penyajian informasi; (3) peran serta pemelajar; (4) tes evaluasi; (5) kegiatan tindak lanjut.[31]

Lefrancois bahwa pembelajaran (instruction) merupakan persiapan kejadian-kejadian eksternal dalam suatu situasi belajar dalam rangka memudahkan pemelajar belajar, menyimpan atau mentransfer pengetahuan dan keterampilan.[32]

Menurut Miarso, pembelajaran adalah suatu usaha yang disengaja, bertujuan, dan terkendali agar orang lain belajar atau terjadi perubahan yang relative menetap pada diri orang lain.[33] Pembelajaran adalah usaha mengelola lingkungan belajar dengan sengaja agar seseorang membentuk dirinya secara positif dalam kondis tertentu. Sedangkan pengajaran adalah usaha membimbing dan mengarahkan pengalaman belajar kepada peserta didik yang biasanya berlangsung dalam siatuasi formal/resmi.[34]

Smith dan Ragan bahwa pembelajaran adalah desain dan pengembangan penyajian informasi dan aktivitas-aktivitas yang diarahkan pada hasil belajar tertentu.[35]

  1. Efikasi Diri

Efikasi diri adalah keyakinan seseorang tentang kemampuannya untuk melaksanakan suatu tingkah laku dengan berhasil.[36]

Efikasi diri mengacu pada keyakinan tentang kemampuan seseorang untuk mengorganisir dan menerapkan tindakan yang diperlukan untuk mencapai suatu keberhasilan yang spesifik dan sesuai dengan kemampuan.[37]

Menurut Bandura efikasi diri merupakan komponen dari teori kognitif social, di mana teori kognitif social menunjukan berbagai fakta struktur causal yang mengaitkan perkembangan dari komptensi dan regulasi dari perilaku.[38]

Efikasi diri adalah keyakinan seseorang pada kemampuannya untuk memobilisasi, memotivasi, sumber daya kognitif dan sumber tindakan yang diperlukan untuk mengendalikan tuntutan tugas. Para peneliti telah menemukan bahwa keyakinan pada kemampuan merupakan penentu tingkat kinerja seseorang.

Menurut Paul Egan & Don Kauchak, a belief about one’s own capability to organize and complete a course of action required to accomplish a specific type of task.[39] Self efficacy adalah suatu keyakinan tentang kemampuan seseorang untuk mengatur dan menyelesaikan tindakan yang diperlukan untuk mencapai jenis tugas tertentu.

Hal itu dikatakan pula oleh Ivancevich dkk, individuals high in self efficacy ten to be confident and self assured and fill are likely to be successful in whatever endeavors they undertake.[40] Individu yang memiliki self efficacy tinggi menjadi percaya diri dalam upaya melakukan apapun dan cenderung berhasil.

Sedangkan konsep Bandura mengenai self efficacy dikenal dengan “specific self-efficacy artinya mempresentasikan kognisi khusus situasi, berbeda dengan konsep general self efficacy. Secara konseptual general, self efficacy bersifat stabil setiap waktu dan bersifat karakter. Self efficacy merupakan variable yang sangat bergantung pada tugas khusus yang diproses secara kognitif oleh individu sebelum usaha dilakukan. Bandura dalam Luthans menyatakan bahwa “an self efficacy belief is not a decontextualized trait.[41]

Menurut Back bahwa dalam self efficacy terdapat 6 prinsip yaitu: (1) dapat meningkatkan prestasi pribadi, (2) dapat meningkatkan atau menurunkan jika melihat orang lain sama dengan keberhasilan atau kegagalan dari kita pada suatu tugas tertentu, (3) memiliki hubungan dengan tekanan emosional, dan (4) kita dapat dibujuk bahwa kita mampu mengatasi suatu situasi yang sulit, tetapi hal ini akan merusak jika gagal di dalam situasi tersebut.[42]

Lebih lanjut Stajkovic dan Luthans menyatakan bahwa sel efficacy mengacu pada keyakinan individu mengenai kemampuannya untuk memobilisasi metivasi, sumber daya kognitif, dan tindakan yang diperlukan agar berhasil melaksanakan tugas dalam konteks tertentu.[43]

Menurut Bandura dalam Luthans mengilustrasikan empat sumber utama informasi tentang efikasi diri, yakni:

 
   
 
   

The major source of information for self efficacy.[44]

  1. Performance attainment (pengalaman keberhasilan dan pencapaian prestasi), yaitu sumber ekspektasi efikasi diri yang penting, karena berdasarkan pengalaman individu secara langsung. Individu yang pernah memperoleh suatu prestasi akan terdorong meningkatkan keyakinan da penilaian terhadap efikasi dirinya. Pengalaman keberhasilan individu ini akan meningkatkan ketekunan da kegigihan dalam berusaha mengatasi kesulitan sehingga dapat mengurangi kegagalan.
  2. Vicarious experience (pengalaman orang lain) yaitu mengamati perilaku dan pengalaman orang lain sebagai proses belajar individu. Melalui model ini evikasi diri individu dapat meningkat, terutrama jika ia merasa memiliki kemampuan yang setara atau bahkan merasa lebih baik daripada orang yang menjadi subyek belajarnya. Ia akan mempunyai kecenderungan merasa mampu melakukan hal yang sama. Meningkatnya efikasi diri individu ini dapat meningkatkan motivasi untuk mencapai suatu prestasi. Peningkatan efikasi diri ini akan menjadi efektif jika subyek yang menjadi model tersebut mempunyai banyak persamaan karakteristik antara individu dengan model, kesamaan tingkat kesulita tugas, kesamaan situasi da kondisi, serta keanekaragaman yang dicapai oleh model.
  3. Sosial persuasion (pendekatan social) yaitu individu mendapat bujukan atau sugesti untuk percaya bahwa ia dapat mengatasi masalah-masalah yang akan dihadapinya, persuasi verbal ini dapat mengarahkan individu untuk berusaha lebih gigih untuk mencapai tujuan dan kesuksesan. Akan tetapi efikasi diri yang tumbuh dengan model ini biasanya tidak beertahan lama, apalagi kemudian individu mengalami peristiwa traumatis yang tidak menyenangkan.
  4. Physiological and psychological arousal (keadaan fisiologis dan psikologis). Situasi yang menekankan kondisi emosional dapat mempengaruhi efikasi diri. Gejolak emosi, goncangan, kegelisahan yang mendalam dan keadaan fisiologis yang lemah yang dialami individu akan dirasakan sebagai suatu isyarat akan terjadi peristiwa yang tidak diinginkan, maka stuasi yang menkankan dan mengancam akan cenderung dihindari.

Kouzer dan Posner menyatakan bahwa ada empat hal yang dapat mendukung peningkatan efikasi diri yaitu: (1) penguasaan, (2) pengambilan model adalah belajar melaksanakan tugas dengan baik, (3) dukungan adalah mendengarkan orang yang memberikan semangat dan dorongan untuk bekerja sebaik mungkin dan (4) menafsirkan kembali stress adalah membaca isyarat stress sehingga dalam melaksanakan tugas yang baik dan menentukan cara-cara memodifikasi keyakinan dan kemampuan ketika merasakan isyarat stres.[45]

Colquitt menyatakan bahwa efikasi diri adalah keyakinan bahwa seseorang memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas yang diperlukan dengan sukses.[46]

Albert Bandura dalam Kreitne dan Kinicki yakni[47]

Sumber keyakinan  umpan balik              pola yang berkaitan            dampak

                                                                        Dengan perilaku

             
     
 
   
     
 
     
 

Berdasarkan gambar tersebut, bahwa self efficacy memiliki nilai positif dan negative artinya bahwa ketika individu memiliki efikasi diri yang tinggi akan berdampak pada suatu keberhasilan dan pencapaian tujuan yang diinginkan, sedangkan individu yang memiliki efikasi diri rendah akan mengalami kegagalan dalam mencapai sasran dan tujuan yang diinginkan.

Dengan demikian, efikasi diri adalah suatu keyakinan diri seseorang tentang kemampuannya untuk melaksanakan suatu tugas tertentu dalam rangka m,encapai keberhasilan dengan indicator: kesediaan melaksanakan tugas, mengatasi kesulitan tugas, menunjukan semangat untuk menyelesaikan tugas dan keberhasilan melaksanakan tugas.

Efikasi diri merupakan suatu bentuk kemampuan seseorang di luar dari kemampuan intelektualnya. Setiap individu dengan keinginan untuk melaksanakan sesuatu yang terbaik merupakan bagian dari efikasi diri. Efikasi diri sangat menentukan seseoarng untuk memastikan pekerjaan yang dijalaninya akan dapat terselesaikan dengan baik. Individu yang memiliki efikasi diri tinggi dapat mengatasi situasi-situasi dimana tekanan pekerjaan yang diemban. Efikasi diri sangat berpengaruh terhadap kegiatan yang berhubungan dengan pencapaian kerja (kinerja).

Efikasi diri yang tinggi mendorong tindakan yang membangun dan berorientasi pada tujuan serta kepuasan, sedangkan edikasi diri rendah memperlemah usaha ketekunan yang mengarah kepada kegagalan.


 

BAB III

METODOLOGI

 

  1. A.    Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut.

  1. Perbedaan hasil belajar lingkungan hidup antara siswa yang diberikan strategi diskusi dengan ceramah?
  2. Perbedaan hasil belajar lingkungan hidup antara siswa yang diberikan diskusi dengan ceramah dan memiliki efikasi diri yang tinggi?
  3. Perbedaan hasil belajar lingkungan hidup antara siswa yang diberikan diskusi dengan ceramah dan memiliki efikasi diri yang rendah?
  4. Interaksi antara strategi pembelajaran dan efikasi diri terhadap hasil belajar lingkungan hidup?
  1. B.     Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini direncanakan mulai bulan Oktober sampai dengan Desember 2012 yang melalui beberapa tahapan sebagai berikut: (1) seminar proposal; (2) pengurusan administrasi dan uji coba instrumen; (3) penyebaran angket kepada responden, (4) pengolahan data; dan (5) membuat laporan penelitian. Kegiatan penelitian dilaksanakan pada SMA Negeri Jakarta Timur.


 

  1. C.    Metode dan Desain Penelitian

Metode penelitian menggunakan metode eksperimen. Prosedur yang ditempuh adalah melakukan pengukuran terhadap hal-hal yang berlangsung dalam konteks sekarang ini dengan melakukan manipulasi yang lakukan oleh peneliti.

Penelitian ini menggunakan rancangan factorial 2 faktor (A x B) sebagaimana terlihat pada tabel berikut.

 

Variabel Bebas

Strategi Pembelajaran (A)

Variabel

Atribut

Diskusi (A1)

Ceramah (A2)

Efikasi Diri  (B)

Tinggi  (B1)

 

A1B1

 

 

A2B1

Rendah (B2)

 

A1B2

 

 

A2B2

  1. D.    Pupulasi dan Sampel
  2. 1.      Populasi

Populasi target adalah seluruh siswa SMA Negeri Jakarta Timur. Populasi terjangkau adalah siswa kelas X SMA.  

  1. 2.      Sampel

Sehubungan dengan keterbatasan peneliti, maka penelitian ini menggunakan populasi terjangkau. Oleh sebab itu, penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel berupa teknik klaster berstrata.


 

  1. E.     Teknik Analisis Data
  2. Statistik Deskriptif

Analiss deskripstif digunakan untuk menyajikan data dalam bentuk histogram, grafik, perhitungan mean, median, modus dan simpangan baku dan rentang masing-masing variabel.

  1. Statistik Inferensial
    1. Uji normalitas dilaksanakan untuk mengetahui apakah sampel penelitian berasal dari populasi yang berdistribusi normal. 
    2. Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang telah dikumpulkan berasal dari populasi yang homogen.
  1. F.     Hipotesis Statistik

a.

Ho

:

μ A1

=

μ A2

 

H1

:

μ A1

μ A2

b.

Ho

:

μ A2B1

=

μ A1B1

 

H1

:

μ A2B1

μ A1B1

c.

Ho

:

μ A1

=

μ A2

 

H1

:

μ A1

μ A2

d.

Ho

 

Int.A x B

=

0

 

H1

 

Int.A x B

0

DAFTAR PUSTAKA

 

 

H. Douglas Brown, Principles of Language Learning and Teaching (New Jersey: Prentice Hall, 1994)

Timothy J. Newby, et al., Instructional Technology for Teaching and Learning: Designing Instruction, Integrating Computers and Using Media, (New Jersey: Prentice Hall International, Inc., 2000),

John W. Santrock, Educational Psychology, (New York: McGraw-Hill, 2001), p. 274.

Robert Heinich, et al. Instructional Media and Technologi for Learning. (New Jersey: Prentice-Hall, Inc, 1996)

Charles M. Reigeluth. Instructional – Design Theories and Models: an Overview of Their Curent Status. (New Jersey: Lawrence Erlbaum Associate, 1983),

Robert M. Gagne, The Conditions of Learning, (New York: Holt Rinehart and Winston, Inc., 1977)

Anita E. Woolfolk, Educational Psychology, (Boston: Allyn & Bacon, 1993),

Robert M. Gagne, Leslie Briggs and Walter W. Wager, Principles of Instructional Design (New York: Harcourt Brace Jovanoric College Publisher, 1992),

Robert E. Slavin, Educational Psychology, Theory into Practice, (Boston: Allyn and Bacon, 1991),

Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, (Jakarta: Prenada Media. 2004)

F.G. Knirk and Gustafon dalam Barbara B. Seels and Rita C. Richey, Instructional Technology: The Definition and domains of the Field (Washington DC: Association for Educational Communications and Technology, 1994),

R. Gagne, Condition of Learning (http://www.psy.pdx.edu.psi. café/key theorists/Gagne Htm).

David R. Krathwohl, Benjamin S. Bloom & Bertram B. Masia, Taxonomi of Educational Objectives, handbook II: Affective Domain (London: Longman Group Ltd., 1973)

Lorin W. Anderson (ed), A Taxonomy For Learning Teaching and assessing, A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives (New York: Longman, 2001)

Benyamin S. Bloom, dikutip oleh Orin W. Anderson and David R. Krathwohl, A revision ol Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives (New York: Published by David McKay Company Inc, 2001),

Howard Kingsley dikutip oleh Nana Sudjana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung: Penerbit PT. Remaja Rosdakarya, 1995),


[1] H. Douglas Brown, Principles of Language Learning and Teaching (New Jersey: Prentice Hall, 1994), h. 7.

[2] Timothy J. Newby, et al., Instructional Technology for Teaching and Learning: Designing Instruction, Integrating Computers and Using Media, (New Jersey: Prentice Hall International, Inc., 2000), p. 25.

[3] Ibid., P. 25.

[4] John W. Santrock, Educational Psychology, (New York: McGraw-Hill, 2001), p. 274.

[5] Robert Heinich, et al. Instructional Media and Technologi for Learning. (New Jersey: Prentice-Hall, Inc, 1996), p. 8.

[6] Charles M. Reigeluth. Instructional – Design Theories and Models: an Overview of Their Curent Status. (New Jersey: Lawrence Erlbaum Associate, 1983), p. 20.

[7] Robert M. Gagne, The Conditions of Learning, (New York: Holt Rinehart and Winston, Inc., 1977), p.3.

[8] Anita E. Woolfolk, Educational Psychology, (Boston: Allyn & Bacon, 1993), p. 196.

[9] Robert M. Gagne, Leslie Briggs and Walter W. Wager, Principles of Instructional Design (New York: Harcourt Brace Jovanoric College Publisher, 1992), p. 42.

[10] Robert E. Slavin, Educational Psychology, Theory into Practice, (Boston: Allyn and Bacon, 1991), p. 98.

[11] Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, (Jakarta: Prenada Media. 2004), p. 528.

[12] Gagne, Briggs, and Wager, op. cit., p.3.

[13] F.G. Knirk and Gustafon dalam Barbara B. Seels and Rita C. Richey, Instructional Technology: The Definition and domains of the Field (Washington DC: Association for Educational Communications and Technology, 1994), p.4.

[14] R. Gagne, Condition of Learning (http://www.psy.pdx.edu.psi. café/key theorists/Gagne Htm).

[15] David R. Krathwohl, Benjamin S. Bloom & Bertram B. Masia, Taxonomi of Educational Objectives, handbook II: Affective Domain (London: Longman Group Ltd., 1973), h. 6-8.

[16] Lorin W. Anderson (ed), A Taxonomy For Learning Teaching and assessing, A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives (New York: Longman, 2001), h. 27-29.

[17] Benyamin S. Bloom, dikutip oleh Orin W. Anderson and David R. Krathwohl, A revision ol Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives (New York: Published by David McKay Company Inc, 2001), p. 66-84.

[18] Howard Kingsley dikutip oleh Nana Sudjana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung: Penerbit PT. Remaja Rosdakarya, 1995), h. 22.

[19] Norman E. Gronlund, Measurement and Evaluation in Teaching, New York: Mcmillan Publishing oo., inc. 1981, p. 6.

[20] Conny Semiawan, Perspektif Pendidikan anak Berbakat. Jakarta: Hrasindo, 1997, p. 67.

[21] Robert S. Feldman, essentials of Understanding Psychology (New York: The McGraw-Hill Companies, Inc, 1997), p. 180.

[22] Charles G. Morris, Psychology An Introduction. (New Jersey: A Division of Simon & Schuster Englewood Cliff, 1998), p. 217.

[23] Margaret E. Bell Gredler. Belajar dan Pembelajaran, terjemahan Minandir (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1984), h. 53.

[24] Robert M. Gagne, The Condition of Learning Third Edition, (New York: Publisher by Holt, Rinehart and Winston, Inc, 1977), p. 3.

[25] Robert M. Gagne, Leslie J. Briggs, Walter W. Wager, Principles of Instructional Design (New York: Rinehart and Winston, Inc, 1992), p. 6.

[26] Herbert  J. Klausmeier & William Goodwin. Learning and Human Abilities (New York: Harper & Row, Publisher, 1996), p.63.

[27] William A. Mehrens & Irvin J. Lehman, Measurement and Evaluation in Education and Psychology (New York: Harcourt Brace College Publisher, 1991), p. 28.

[28] A. J. Romizowski. Designing Instructional System, (London: Kogan Page, 1981), pp. 241-243.

[29] Fred Nicholas. Strategy Definitions and Meaning, 2006 (http://home.att/-Nickols/articles.htm.

[30] Barbara B. Seels and Rita C. Richey. Teknologi Pembelajaran Definisi dan Kawasannya, terjemahan Dewi, Raphael, Yusufhadi Miarso (Jakarta: Unit Percetakan UNJ, 1994), p. 34.

[31] Walter Dick and Lou Corey, The Systematic Design of Instruction, (New York: Harper Collins College Publishers, 1996), h. 183-184.

[32] Guy R. Lefrancois, Psychology for Teaching (Belmont: Wadsworth, Inc., 1988), h. 370.

[33] Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, (Jakarta: Prenada Media, 2004), h. 545.

[34] Yusufhadi Miarso, Op cit, h. 528.

[35] Patricia L. Smith dan Tilman J. Ragan, Instructional Design (USA: Mcmillan Publishing Company, 1993), h. 4.

[36] Gareth R. Jones, Jennifer M. George dan Charles w. l. Hill. Contemporary Management (Boston: The McGraw-Hill Companies, Inc., 1998), p. 390.

[37] Boekoorts M. Pintrich P. Moshezeidner, Handbook of self-regulation, (New York: Academic Press, 2000), p. 14.

[38] Bandura Albert, Self-Efficasi the Exercise of Control (New York: W. H. Freeman and Company, 1997), p. 89.

[39] Paul Egan & Don Kauchak, Educational Psychology, (Person Education International, 2004), p. 361.

[40] Ivancevich, dkk., Organization Behavior and Management, (International Edition, 2008), p. 326.

[41] Fred Luthans, Organizational Behavior, (new York: McGraw Hill, 2007), p. 202.

[42] Robert, Back, Motivation: Theories and Principles, (New Jersey: Prentice Hall. Inc., 1990), p. 312.

[43] Luthans, Op.cit., p. 202.

[44] Luthas, Op. cit., p. 204.

[45] James Kauzes & Posner, Kredibilitas, terjemahan Anton Adiwijoyo, (Jakarta: Profesional Bodes, 1997), p. 123-124.

[46] Clquitt LePine Weson, Organization Behavior, Improving performance and Commitment in work place, (McGraw Hill International Edition, 2009), p. 37.

[47] Robert Kreitner dan Angelo Kinicki, Perilaku organisasi, (Ed Indonesia, Salemba Empat, 2000), p. 170.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s