PENGARUH TIPE KEPRIBADIAN DAN PERSEPSI ECO-SENSORY TERHADAP KEPEDULIAN PADA PELESTARIAN HUTAN RAKYAT

BAB I

PENDAHULUAN

 A.    Latar Belakang

Degradasi hutan sebagai salah satu bentuk kerusakan lingkungan yang telah dirasakan dampaknya pada berbagai aspek kehidupan manusia. Hal ini ditandai adanya berbagai masalah lingkungan seperti: banjir, erosi, kekeringan dan sebagainya. Adanya eksploitasi sumber daya hutan menyebabkan kondisi hutan menjadi rusak. Sebagai sistem ekologis, kerusakan hutan memberikan dampak yang sistemik terhadap komponen lingkungan lainnya termasuk kehidupan manusia. Oleh karena itu, degradasi hutan mendapat perhatian publik yang diangkat menjadi permasalahan lokal, nasional, regional bahkan internasional.

Masalah kehutanan juga menjadi fakta yang menarik perhatian masyarakat dan pemerintah Indonesia baik secara formal dan non formal. Hal ini turut memicu perhatian lembaga non pemerintah untuk mencurahkan perhatian melalui agenda publikasi lingkungan dan pelaksanaan konservasi hutan.

Akhir-akhir ini, kondisi lingkungan dan hutan telah mengalami kerusakan, dan memberikan dampak secara fisik, kimia dan biologi. Sebagaimana dijelaskan dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup bahwa kerusakan lingkungan hidup adalah perubahan langsung dan/atau tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup yang melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup.[1]

Peran aktif lembaga pemerintah maupun non government organization (NGO) menyusun strategi dan melakukan upaya preventif atas krisis hutan melalui berbagai program secara mandiri maupun terpadu. Pebaikan kondisi hutan menjadi program perioritas sebagai upaya penyelamatan bumi dari tekanan sumber daya alam dan lingkungan. Salah satu contoh program kehutanan yang dilakukan oleh pemerintah adalah program penanaman pohon satu milyar pohon yang dilakukan secara serentak pada 28 November 2011 yang melibatkan seluruh masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.

Hal itu dimaksudkan untuk menekan terjadinya krisis lingkungan dan melestarikan hutan yang ada saat ini. Karena tatanan hutan yang lestari dapat menjamin kelangsungan hidup secara berkelanjutan bagi generasi selanjutnya. Oleh karena itu, kondisi hutan wajib dijaga dan diletarikan agar memberikan manfaat ekologis, ekonomis, sosial dan budaya yang berkelanjutan bagi kehidupan manusia.

Program penyelamatan hutan tidak lagi merupakan tanggung jawab pemerintah dan lembaga non pemerintah saja, tetapi peran serta masyarakat sangat diharapkan terlebih mereka berada di kawasan obyek lingkungan hidup seperti hutan rakyat. Karena masalah hutan rakyat memiliki cakupan yang luas dan membutuhkan peran banyak pihak termasuk peserta didik yang berada di areal hutan.

Siswa sebagai anggota masyarakat tidak terlepas dari sistem ekologi yang berperan strategis untuk menjaga kelangsungan dan keberadaan hutan rakyat. Oleh karena itu, diperlukan kepedulian dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan hutan rakyat. Pertumbuhan dan perkembangan hutan perlu pantau secara terus-menerus sehingga diharapkan terbentuknya  kondisi lingkungan hutan rakyat yang lestari. Hal ini menjadi salah satu asas yang penting dalam melestarikan lingkungan hidup. Dalam penjelasan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 2 hurup b bahwa yang dimaksud dengan “asas kelestarian dan keberlanjutan” adalah bahwa setiap orang memikul kewajiban dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang dan terhadap sesamanya dalam satu generasi dengan melakukan upaya pelestarian daya dukung ekosistem dan memperbaiki kualitas lingkungan hidup.[2]

Kepedulian pada pelestarian hutan rakyat dapat memberi arti atau nilai suatu lingkungan yang berkualitas. semakin tinggi nilai yang diberikan seseorang terhadap terhadap lingkungan yang berkualitas maka perolehan terhadap lingkungan makin terarah pada usaha-usaha yang dapat diciptakan dalam memelihara lingkungan yang berkualitas.[3] Faktor kepribadian seseorang dapat menentukan kelangsungan kondisi lingkungan. Selain itu, persepsi seseorang mengenai kejadian alam (perception eco sensory) berkaitan pula dengan upaya menjaga kualitas kondisi lingkungan termasuk hutan. Tipe kepribadian dan persepsi eco sensory pada siswa telah memberikan dampak baik langsung maupun tidak langsung dalam upaya pelestarian hutan rakyat.

Namun, seiring dengan perkembangan pembangunan di daerah maka semakin meningkat pula sumber daya pembangunan yang diperlukan. Pembangunan dan pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat menyebabkan terjadinya tekanan sumber daya hutan dan lahan perkebunan rakyat. Dengan demikian, terjadi ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia dengan sumber daya alam yang tersedia atau daya dukung lingkungan. Sumber daya hutan rakyat seperti kayu dan non kayu di Kecamatan Bulango Utara menjadi salah satu sumber pemenuhan kebutuhan hidup petani sehingga memiliki permasalahan tersendiri dalam pelestariannya. 

Berdasarkan data dari Dinas Kehutanan Kabupaten Bone Bolango hutan rakyat di Kabupaten Bone Bolango tersebar di beberapa kecamatan yakni Kecamatan Bone, Kecamatan Bone Raya, Kecamatan Bonepantai, Kecamatan Kabila Bone, Kecamatan Tilongkabila, Kecamatan Suwawa Timur, Kecamatan Tapa dan Kecamatan Bulango Utara. Hutan rakyat yang berada di Kecamatan Bulango Utara mempunyai wilayah yang cukup luas dan berada di daerah aliran sungai (DAS) Bulango. DAS Bulango merupakan salah salah satu DAS yang menjadi penyangga pertanian di Provinsi Gorontalo. Oleh karena itu, keberadaan hutan rakyat di Kecamatan Bulango Utara memperoleh perioritas dalam pemberian bantuan bibit tanaman produktif oleh pemerintah Kabupaten Bone Bolango untuk mengamankan kelestarian fungsi DAS Bolango. Selain itu, hutan rakyat di wilayah tersebut berada di daerah lereng pengunungan sehingga rawan terjadinya erosi.

Hutan rakyat di wilayah Kecamatan Bulango Utara belum dikembangkan secara optimal. Hal itu ditandai dengan masih ditemukan erosi di daerah lembah kawasan pemukiman penduduk. Penyebab terjadinya erosi adalah pemanfaatan hutan rakyat yang kurang mempertimbangkan aspek lingkungan seperti kurangnya kepedulian masyarakat dalam pelestarian hutan rakyat, adanya aktivitas peladangan berpindah, perkebunan rakyat pada lahan lereng, maupun penebangan liar yang terjadi sebelumnya.

Berbagai pihak mengharapkan bahwa lahan perkebunan yang berada di Kecamatan Bulango Utara harus aman dari masalah erosi karena menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat yang cukup potensial di sekitar hutan dan daerah aliran sungai (DAS) Bolango. Oleh karena itu, pelestarian hutan rakyat di Kecamatan Bulango Utara perlu diperhatikan oleh masyarakat termasuk siswa sebagai bagian dari pemilik hutan.

Pelestarian kawasan hutan seperti hutan lindung, hutan produksi dan taman buru yang termasuk dalam kategori hutan negara sehingga tanggung jawab pengendaliannya berada pada institusi negara. Hutan tersebut memiliki prosedur dan pengaturan khusus yang dikoordinasi oleh pemerintah pusat dan daerah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan yang lestari. Oleh karena itu, pelaksanaan pengelolaannya, masyarakat tidak berperan dalam perencanaan, pengorganisasian, pengawasan dan pemanfaatan hutan negara. Masyarakat cenderung tidak peduli dalam melestarikan hutan negara, karena pemerintah telah menyiapkan regulasi, fasilitas, pembiayaan dan personil yang bertanggung jawab secara khusus dalam melestarikan hutan negara.

Sedangkan pelestarian hutan rakyat berbeda dengan hutan negara. Hutan rakyat dibentuk oleh rakyat dengan tujuan untuk melakukan konservasi lahan dan meningkatkan kesejahteraan petani. Siswa diharapkan berperan dalam melestarikan hutan rakyat. Oleh karena itu, diperlukan sumber daya manusia dengan persepsi yang baik dalam melestarikan hutan rakyat. Siswa perlu diberikan peran dalam upaya pelestarian hutan rakyat seperti pembudidayaan tanaman, pemanfataan hutan, pengendalian dan pengawasan. Hutan rakyat diharapkan akan tetap lestari dan dapat berfungsi secara ekonomi, ekologis, budaya dan sosial secara optimal. Pelestarian hutan rakyat di Kecamatan Bulango Utara oleh siswa SMK Pertanian menemukan berbagai tantangan seperti perbedaan tingkat kepekaan mempersepsikan komponen alam secara serasi (eco sensory perseption), dan tipe kepribadian yang belum jelas diketahui.

Untuk mengatasi dampak besar dan penting dimaksud, siswa yang perlu meningkatkan kepedulian dalam pelestarian hutan rakyat. Salah satu areal hutan yang dikembangkan adalah hutan rakyat di Kecamatan Bulango Utara Kabupaten Bone Bolango. Areal hutan rakyat yang difasilitasi pembibitannya oleh pemerintah daerah melalui Dinas Kehutanan seluas 100 Ha. Pada pertengahan tahun 2009, pemerintah daerah melalui Dinas Kehutanan Kabupaten Bone Bolango melakukan kegitan sebagai berikut. (1) pembuatan tanaman hutan rakyat, (2) masyarakat diberikan bibit tanaman produktif seperti: jati (Tectona grandis), gmelina (Gmelina arborea), mahoni (Swietenia mahagoni), nyatoh (Palaqium sp.), kemiri (Aleurites moluccana) dan nangka (Artocarpus heterophyllus), (3) menfasilitasi penanaman bibit, (4) memberikan kesempatan dan kemandirian kepada rakyat setempat untuk melestarikan hutan rakyat. Hal itu dimaksudkan untuk menghijaukan lahan kritis dan meminimalisir potensi degradasi hutan yang semakin luas.

SMK Pertanian Bulango Utara didirikan pada tahun 2005 yang berada di areal hutan rakyat diharapkan dapat mengelola dan mengembangkan potensi pertanian termasuk hutan rakyat sebagai komoditas yang diunggulkan di wilayah tersebut. Kehidupan orang tua siswa berlatar belakang sebagai petani dan memiliki hutan rakyat.

Peserta didik sebagai generasi penerus bagi orang tuanya mengharapkan dapat mewarisi hutan rakyat yang disiapkan orang tuanya sebagai bekal masa depan. Secara umum, peserta didik SMK pertanian di Kecamatan Bulango Utara memiliki pengalaman serta tingkat kepekaan mempersepsikan tatanan sistem alam yang beragam, sehingga hal itu berdampak secara psikologis pada kepedulian dalam melestarikan hutan rakyat.

Berdasarkan pemikiran dimaksud, maka perlu dilakukan penelitian tentang kepedulian pada pelestarian hutan rakyat yang ditinjau dari aspek persepsi eco sensory dan tipe kepribadian siswa.

  1. B.     Identifikasi Masalah

Dari uraian di atas, dapat diidentifikasi masalah yang berkembang, yakni:

  1. Adanya tipe kepribadian ekstrovert berpengaruh terhadap kepedulian pada pelestarian hutan rakyat?
  2. Adanya tipe kepribadian introvert berpengaruh terhadap kepedulian pada pelestarian hutan rakyat?
  3. Apakah tipe kepribadian lainnya dapat meningkatkan kepedulian pada pelestarian hutan rakyat?
  4. Apakah persepsi eco sensory berpengaruh terhadap kepedulian pada pelestarian hutan rakyat?
  5. Apakah terdapat faktor lain yang berpengaruh terhadap kepedulian pada pelestarian hutan rakyat?
  6. Apakah kepedulian pada pelestarian hutan rakyat dapat ditingkatkan melalui pengembangan persepsi siswa pada aspek ekonomi?
  7. Apakah kepedulian pada pelestarian hutan rakyat dapat ditingkatkan melalui pengembangan persepsi siswa pada aspek sosial?
  8. Apakah kepedulian pada pelestarian hutan rakyat dapat ditingkatkan melalui pengembangan persepsi siswa pada aspek budaya?

 

  1. C.    Pembatasan Masalah

Dengan banyaknya faktor yang mempengaruhi kepedulian peserta didik pada pelestarian hutan rakyat, maka untuk efektifnya penelitian ini perlu dilakukan pembatasan ruang lingkup penelitian, yakni:

  1. Aspek tipe kepribadian siswa adalah tipe kepribadian ekstrovert dan tipe kepribadian introvert.
  2. Aspek persepsi eco sensory yang terdiri dari persepsi eco sensory yang tinggi dibandingkan dengan yang rendah.
  3. Aspek tipe kepribadian yakni ekstrovert dan introvert dibandingkan dengan persepsi eco sensory yang yang tinggi dengan yang rendah.
  4. Interaksi antara persepsi eco sensory dan tipe kepribadian terhadap kepedulian pada peletarian hutan rakyat.

 

  1. D.    Rumusan Masalah

Adapun masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah:

  1. Apakah terdapat perbedaan kepedulian pada pelestarian hutan rakyat antara siswa yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert dengan introvert?
  2. Apakah terdapat perbedaan kepedulian pada pelestarian hutan rakyat antara siswa yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert dengan introvert dan memiliki persepsi eco sensory yang tinggi?
  3. Apakah terdapat perbedaan kepedulian pada pelestarian hutan rakyat antara siswa yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert dengan introvert dan memiliki persepsi eco sensory yang rendah?
  4. Apakah terdapat interaksi antara tipe kepribadian dan persepsi eco sensory terhadap kepedulian pada pelestarian hutan rakyat?


 

  1. E.     Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut.

  1. Sebagai informasi yang dapat digunakan oleh berbagai pihak terkait dalam rangka meningkatkan kepedulian pada peletarian hutan rakyat.
  2. Sebagai masukan bagi penentu kebijakan dalam pengembangan program kehutanan khususnya hutan rakyat di Kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo.
  3. Sebagai bahan rujukan dan masukan bagi peneliti lainnya untuk mengembangkan penelitian lanjutan dan variabel yang berkaitan dengan pelestarian hutan rakyat.

BAB II

KAJIAN TEORETIK DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

 

  1. A.   Deskripsi Teoretik
  2. 1.    Kepedulian pada Pelestarian Hutan Rakyat.

Kepedulian tentang lingkungan mulai diperbincangkan publik, sejak munculnya aksi kelompok masyarakat tertentu sebagai bentuk gerakan lingkungan. Gerakan tersebut pada intinya menghendaki adanya perbaikan dan perlindungan terhadap lingkungan.

Kata perhatian sebagai sinonim dari kata kepedulian. Dalam bahasa Inggris, perhatian disebut “attention”. Demikian pula kata concern. Dalam bahasa Inggris, kepedulian lingkungan menunjuk pada konsep environmental concern. Kata tersebut didefinisikan oleh Lane dan Sears seperti yang dikutip oleh Swan bahwa kepedulian menggambarkan suatu perolehan dalam hasil yang disukai, suatu yang diorientasikan ke masa yang akan datang, dan dapat diukur dengan minat.[4]

Kepedulian dapat didefinisikan memperhatikan, mengindahkan, menghiraukan pada suatu obyek, situasi dan tujuan.[5] Menurut pandangan Donald Broadbent, dalam Robert L. Solso, bahwa kepedulian atau perhatian adalah kosentrasi atau pemusatan upaya mental terhadap kejadian-kejadian yang ditangkap oleh indra atau pikiran. Pandangan baru mengenai kepedulian atau perhatian didasarkan pada kemampuan mekanisme dalam memproses informasi dan dipengaruhi oleh tingkat keterbatasan dari mekanismenya.[6] Kepedulian dapat diartikan mengidahkan, memperhatikan, menghiraukan pada suatu obyek, situas atau tujuan.[7]

Kepedulian terhadap lingkungan sangat penting akan tetapi apabila tidak didukung oleh kepedulian dari seluruh lapisan masyarakat, tidak akan berarti. Masyarakat lebih dekat dan merasakan masalah krisis lingkungan.[8]  

Cone mengaskan bahwa kepedulian pada lingkungan adalah perhatian pada lingkungan yang dibagi menjadi 3 (tiga) bagian utama yaitu: (1) estetika lingkungan dan kualitas kehidupan, (2) kesehatan lingkungan dan ketahanan manusia, dan (3) pengelolaan dan penggunaan sumber daya alam secara efisien.[9] Setiap individu memiliki tingkat kepedulian yang berbeda-beda dengan tingkatan permasalahan lingkungan yang berbeda pula. Kepedulian terhadap lingkungan perlu dibina. Hal ini penting karena kepedulian individu terhadap lingkungan merupakan kesediaan individu yang terdorong untuk mengerahkan setiap tingkah lakunya kepada lingkungan. Ketidakpedulian akan merusak lingkungan dan akan menghasilkan kerusakan yang lebih besar apabila sekelompok orang mulai tidak peduli pada perbuatannya yang merusak alam sehingga pihak lain menjadi korban.[10]

 Kepedulian terhadap lingkungan ditandai oleh perhatian terhadap masalah-masalah lingkungan dan sikap terhadap usaha untuk melindungi lingkungan. Hal yang penting dalam kepedulian lingkungan  adalah perhatian, sikap, kepercayaan-kepercayaan (faktor kepribadian) dan nilai-nilai tentang lingkungan yang memberikan kewajiban bagi setiap perilaku individu apakah mendukung kualitas lingkungan atau tidak, sehingga kepedulian terhadap lingkungan merupakan suatu generalisasi sikap-sikap terhadap lingkungan.[11]

Secara teoretik, kepedulian terhadap lingkungan didasari oleh tiga orientasi nilai yaitu: (1) nilai egoistic, yakni bahwa kepedulian yang timbul selalu didasari ata nilai kepentingan pribadi, individu akan lebih senang melindungi lingkungan apabila ada harapan untuk meraih keuntungan lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan, (2) humanistic, atinya kepedulian terhadap lingkungan yang didasari pada kepentingan social, , dan tidak peduli terhadap besarnya biaya yang dikeluarkan demi penyelamatan manusia dan lingkungan, (3) biospheric, diartikan bahwa tindakan seseorang yang didasari oleh prinsip moral yang peduli terhadap species dan lingkungan alam baik lingkungan fisik, lingkungan sosial maupun lingkungan biologi.[12]

Pelestarian hutan rakyat termasuk bagian dari upaya pelestarian lingkungan yaitu terdiri dari: (1) mempertahankan bentuk asli (preservasi), mengembalikan ke bentuk asli (restorasi), (2) memperbaiki yang sudah tidak berfungsi (renovasi), (3) memelihara dan melindungi tempat tertentu (konservasi), (4) membuat tiruan (replikasi), (5) memindahkan ke tempat lain (relokalisasi), (6) mereproduksi dengan membangun yang baru (rekonstruksi), dan (7) meningkatkan vitalitas fungsi lingkungan (revitalisasi).[13]

Menurut Siswanto, krisis lingkungan disebabkan oleh ketidakpedulian seseorang terhadap lingkungan.[14] Kepedulian lingkungan dapat dikatakan merupakan arti atau nilai suatu lingkungan yang berkualitas. Makin tinggi nilai yang diberikan seseorang terhadap terhadap lingkungan yang berkualitas maka perolehan terhadap lingkungan makin terarah pada usaha-usaha yang dapat diciptakan dalam memelihara lingkungan yang berkualitas.[15]

 Hoot dan Foster menyatakan bahwa kepedulian merupakan gugahan yang menghasilkan kesadaran (awareness) serta ketertarikan (interest) terhadap kerapuhan lingkungan hidup sehingga menimbulkan ungkapan kepedulian pada diri seseorang terhadap keadaan lingkungan hidup tersebut.[16]  Kepedulian lingkungan ditandai oleh perhatian terhadap masalah-masalah lingkungan dan sikap terhadap usaha untuk melindungi lingkungan.

Menurut Schultz bahwa tipe-tipe kepedulian lingkungan pada seseorang akan berhubungan dengan tingkat persepsinya pada sistem keterkaitan dengan alam.[17] Perbedaan kepedulian lingkungan antar individu yang menjadikan dirinya sebagai bagian dari biosfer akan didasarkan pada suatu hasrat untuk memberikan penghargaan untuk semua unsur kehidupan, atau menghindarkan konsekuensi keadaan lebih baik untuk biosfer.

Hoffman dan Frederick menyatakan bahwa dalam teori kepedulian terdapat 3 (tiga) faktor yang mempengaruhi tingkat kepedulian seseorang tentang lingkungan hidup, yaitu faktor kepribadian, faktor demografi, dan faktor sistem nilai.[18] Kepribadian adalah suatu organisasi dinamis di dalam diri individu dari sistem psikofisik yang menentukan penyesuaian terhadap lingkungannya.[19] Kepribadian merupakan suatu hasil gabungan pengaruh yang dibawa sejak lahir dan interaksi individu dengan lingkungannya. Kepribadian seseorag yang berkaitan dengan lingkungan dapat jelas terlihat melalui sikap, maupun perilakunya terhadap lingkungan. Faktor demografi meliputi pekerjaan, pendidikan, dan kelahiran. Sistem nilai mengandung unsur pertimbangan dalam arti nilai mengemban suatu gagasan seseorang mengenai apa yang benar, baik, atau diinginkan. Dengan sistem nilai, seseorang sebelum bertindak telah memiliki pertimbangan tentang baik buruknya suatu tindakan.

Sistem nilai yang dianut seseorang meliputi Dominant Social Paradigm dan New Environmental Paradigm. Dominant Social Paradigm sebagai paradigma yang mengabaikan peletarian lingkungan dan mengeksploitasi sumber daya alam. Sedangkan New Environmental Paradigm sebagai paradigma lingkungan yang baru yang berpihak pada pelestarian lingkungan, percaya pada batas-batas pertumbuhan bahwa manusia adalah bagian dari ekosistem, menyadari bahwa manusia dengan alam memiliki hubungan satu sama lain. Untuk menjaga kelestarian lingkungan perlu adanya kepedulian dari berbagai hak, baik lembaga pemerintah, lembaga sosial maupun masyarakat.

Untuk menanamkan nilai-nilai paradigma baru tentang lingkungan maka diperlukan pendidikan lingkungan. Tujuan untama pendidikan lingkungan antara lain: (1) kesadaran atau kepekaan pribadi atau kelompok sosial terhadap lingkungan, (2) pengetahuan terhadap lingkungan dan permasalahannya, (3) kepedulian (concern) terhadap lingkungan bersama-sama dengan keinginan untuk memberikan kontribusi terhadap perlindungan lingkungan, (4) keahlian (skill) di dalam mengidentifikasikan dan menganalisis masalah lingkungan, serta (5) kesempatan untuk berpartisipasi di dalam pemecahan masalah lingkungan.

Berkatan dengan manusia,  yang merupakan faktor dominan dalam mempengaruhi lingkungan, merumuskan bahwa: (1) manusia harus belajar menghormati alam, (2) manusia harus membatinkan suatu perasaan tanggung jawab terhadap lingkungan di mana mereka berada, (3) manusia harus bertanggung jawab terhadap kelestarian biosfer, (4) etika lingkungan memuat larangan keras untuk merusak, mengotori, dan meracuni, (5) solidaritas dengan generasi-generasi yang akan datang yaitu berbagi adil dengan sumber daya alam lainnya.[20]

Hanggerford dan Volk memberikan model perilaku tanggung jawab lingkungan secara konprehensif yang diadaptasi dari Model Hines (1986) seperti pada gambar berikut.

 
   

Gambar 2.1 Model Perilaku Tanggung Jawab Lingkungan.[21]

IUCN dalam McNeely menyatakan bahwa pelestarian dalam kaitannya dengan fenomena keanekaragaman hayati adalah pengelolaan penggunaan biosfer oleh manusia sehingga akan menghasilkan keuntungan yang berkesinambungan bagi generasi masa kini sambil menjaga potensinya untuk memenuhi kebutuhan dan harapan generasi mendatang.[22] Elemen-elemen dalam pelestarian keanekaragaman hayati terdiri dari kegiatan mengamankan (save), mempelajari (study), dan memanfaatkan (use) keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.[23]

Berdasarkan uraian tersebut, maka disimpulkan bahwa kepedulian siswa pada pelestarian hutan rakyat adalah perwujudan perhatian, dan ketertarikan siswa pada aspek pelestarian meliputi pemeliharaan, pemanfaatan, dan perlindungan hutan rakyat.

  1. 2.      Tipe Kepribadian
  2. Pengertian Kepribadian

Kepribadian atau sering dikenal dengan personality adalah aspek penting dalam kehidupan manusia. Kepribadian merupakan faktor-faktor psikologis seseorang yang unik dan sangat kompleks, sehingga tidak mudah dirumuskan begitu saja.[24] Allport mendefinisikan kepribadian adalah organisasi yang dinamis dalam diri individu, yang mempunyai system psikologi yang unik dalam menyesuaikan dengan lingkungannya.[25] Sedangkan Layon dan Goodstain mendefinisikan kepribadian sebagai abstraksi dari karakteristik seseorang yang secara signifikan dapat digunakan untuk menjelaskan tingkah laku hubungan antara personal.[26]

  1. b.    Teori Kepribadian

Terdapat tiga aliran teori yang mengkaji kepribadian dengan orientasi yang berlainan. Pertama, teori yang menguraikan kepribadian dari perspektif psikodinamik (klinis). Teori ini berpandangan bahwa sebagian besar tingkah laku manusia digerakan oleh daya psikodinamik, seperti: motiv-motif, konflik-konflik, dan kecemasan-kecemasan.[27] Kedua, teori-teori yag mendeskripsikan kepribadian dari perspektif yang holistik. Teori ini berpandangan bahwa manusia merupakan organism yang utuh dan tingkah laku manusia tidak dapat dijelaskan semata-mata berdasarkan aktivitas-aktivitas bagiannya. Sedangkan yang ketiga, teori yang menguraikan kepribadian dari perspektif behavioristik. Teori ini memandang bahwa manusia memiliki sifat-sifat atau tipe-tipe yang bersifat relatif stabil.

  1. Teori Kepribadian Psikodinamik

Menurut Sigmund Freud bahwa kepribadian terbagi atas 3 sistem pokok yaitu id, ego dan superego.[28] Ketiga sistem tersebut saling berinteraksi satu sama lain secara kuat dan dinamis dalam satu kesatuan dan sulit dipisahkan.

Id adalah suatu system kepribadian yang murni dan berasal dari bawaan sejak lahir. Id merupakan energi psikis yang mampu menggerakan system lain agar dapat berjalan sesuai dengan potensi yang ada. Id menggambarkan kondisi subyektif yang ada dalam diri manusia, yang belum mendapat sentuhan normatif dari sistem lain.

Ego adalah aspek psikologis dari kepribadian dan muncul akibat adanya kebutuhan organisme yang selalu terkait dengan kenyataan yang ada, misalnya: orang yang lapar harus makan untuk menghilangkan ketegangan yang muncul pada dirinya. Prinsip yang dimiliki ego adalah reality principle (prinsip kenyataan).

Superego adalah aspek sosiologis dari kepribadian yang merupaka representasi nilai-nilai atau norma-norma yang berkembang di lingkungan keluarga dan masyarakat. Superego merupakan kontrol dari luar yang mampu mengendalikan sesuatu itu benar atau salah.

Menurut Carl Jung, kepribadian adalah kumpulan system yang berbeda dan saling berinteraksi. Sistem yang terpenting tersebut adalah ego, ketidaksadaran pribadi, dan ketidaksadaran kolektif.[29] Selanjutnya dijelaskan pula bahwa kepribadian merupakan suatu system yang kompleks dari jaringan interaksi yang harmonis antara diri dengan lingkungannya. Ego merupakan jiwa sadar yang terdiri dari persepsi-persepsi, ingatan-ingatan, pikiran-pikiran, dan perasaan-perasaan sadar. Ketidaksadaran pribadi berwujud pengalaman-pengalaman yang dilupakan, ditekan, dan diabaikan sehingga menciptakan ketidaksadaran pribadi. Sedangkan ketidaksadaran kolektif  adalah ingatan-ingatan masa lampau yang diwariskan oleh para leluhur atau nenek moyangnya. Hal itu tercermin pada pengalaman-pengalaman manusia yang diproyeksikan dalam ketidaksadarannya. Misalnya: manusia cenderung takut pada kegelapan.

  1. Teori Kepribadian Holistik

Henry A. Murray memberikan penjelasan mengenai kepribadian sebagai kesinambungan bentuk-bentuk dan kekuatan-kekuatan fungsional yang dinyatakan melalui urutan-urutan dari proses-proses yang berkuasa dan teorganisir, serta tingkah laku lahiriah dari lahir sampai mati.[30]

Menurut Rogers memandang bahwa kepribadian dapat diamati dari relasi antar organisme dan diri. Organisme merupakan tempat dari semua pengalaman yang dilalui oleh manusia sehingga pemahaman akan kepribadian dapat dikaji lebih mendalam. Rogers juga mengkaji kepribadian dari perspektif konsep diri. Konsep diri adalah kesadaran batin yang relatif tetap. Dengan konsep diri manusia dapat membedakan kepribadian dirinya dengan kepribadian orang lain.[31]

  1. Teori Kepribadian Behavioristik

Gordon Allport menyatakan bahwa kepribadian adalah organisasi yang dinamis di dalam individu yang terdiri dari system psikofisik yang menentukan tingkah laku dan pikiran secara karakteristik.[32]

R. B. Catell menyatakan bahwa kepribadian sebagai sesuatu yang memungkinkan satu peramalan dari apa yang dilakukan seseorang dalam satu situasi tertentu. Kepribadian berkenaan dengan tingkah laku individu, baik yang terbuka maupun yang tidak tampak.[33]

Menurut Eysenck kepribadian diartikan sebagai sesuatu keseluruhan pola tingkah laku yang potensial dari organism yang ditentukan oleh faktor keturunan dan lingkungan, pola tingkah laku tersebut berkembang melalui interaksi berbagai fungsi dari aspek utama pola tingkah laku, yaitu aspek konatif, aspek temperamen, dan aspek somatic.[34]

  1. c.    Tipe Kepribadian

Dari berbagai studi tentang tipe-tipe, maka individu dapat dikelompokan sesuai dengan sifat-sifat yang dimilikinya. Tipe adalah suatu pola karakteristik yang berperan sebagai satu pembimbing untuk menempatkan individu dalam kategori tertentu.[35] Menurut Calvin Hall dan Gardner Linzey menyatakan bahwa tipe kepribadian adalah dimensi kepribadian yang menggambarkan karakteristik perilaku seseorang yang bersifat unik.[36]

Eysenk menyatakan terdapat dua dimensi dalam struktur kepribadian, yaitu (1) neurotism yakni stable dan unstable, (2) ekstraversi yakni ekstravert dan introvert, dan (3) Psychotisme. Neurotisme berasal dari klaster interkorelasi sifat-sifat cemas, sedih, rasa bersalah, rendah diri, tegang, irasional, malu, murung serta emosional. Sedangkan ekstraversi berasal dari interkorelasi antara sifat-sifat kepribadian yang menggambarkan karakteristik perilaku seseorang yang dibentuk dari delapan dimensi dan indikator, yakni: (1) mudah bergaul (sociability), ditandai dengan kecenderungan suka bergaul dengan orang lain. Indikatornya: memiliki banyak teman, mudah bergaul, ramah, dan peduli dengan orang lain. (2) menurut kata hati (impulsiveness), ditandai dengan kecenderungan kurang berpikir lebih dahulu sewaktu bertindak. Indikatornya: bertindak tanpa berpikir, tidak sabar akan sesuatu yang dikerjakan. (3) aktif (activity), ditandai dengan kecenderungan melakukan kegiatan bersama dengan orang lain. Indikatornya: aktif dalam kegiatan social, inisiatif dalam melakukan pekerjaan, cenderung lebih agresif, dan responsif dalam menanggapi sesuatu. (4) lincah atau bersemangat (liveness), ditandai dengan kecenderungan menyukai semangat hidup. Indikatornya: bersemangat dalam setiap kehidupan dan lincah dalam berbagai kegiatan. (5) periang (carefree), ditandai dengan kecenderungan menyukai kehidupan yang menyenangkan. Indikatornya: periang dalam kehidupannya dan senang dalam menyikapi kehidupannya. (6) menggelora (surgent), ditandai dengan kecenderungan menyukai gairah/gelora hidup. Indikatornya: bergairah/menggelora dalam menyikapi kehidupannya, senang akan kepercayaan dan mempunyai rasa tanggung jawab. (7) reflektif (reflectiveness), ditandai dengan kecenderungan mengadakan refleksi. Indikatornya: mengadakan intropeksi dan ekstropeksi, dan (8) petualang (venturesome), ditandai dengan kecenderungan mencari tantangan hidup. Indikatornya: berani mengambil resiko dalam menjalankan kegiatannya dan menyukai kegiatan yang ada hubungannya dengan bepergian.

Dimensi psychotisme terdiri dari sifat-sifat: agresif, dingin, egosentris, impersonal, impulsif, antisosial, unempatik, kreatif, dan keras kepala.[37]

Eysenck membagi tipe kepribadian menjadi dua tipe utama, yaitu tipe kepribadian ekstravert dan tipe kepribadian introvert.[38] Pada introvert memiliki gejala individu yang pemalu dan lebih menyukai bekerja sendirian. Sedangkan ekstravert memiliki gejala peramah dan suka bergaul dan menyukai pekerjaan yang memungkinkan mereka bekerja secara langsung dengan orang lain.

Dengan demikian maka tipe kepribadian dalam penelitian ini adalah  dimensi kepribadian yang menggambarkan kecenderungan perilaku seseorang yang dibentuk dari delapan sifat mendasar, yakni: (1) sociability, (2) impulsiveness, (3) activity, (4) liveness, (5) carefree, (6) surgent, (7) reflectiveness, dan (8) venturesome.

  1. 1.    Tipe Kepribadian Ekstrovert

Seorang yang tergolong ekstravert biasanya mereka sangat menyukai bepergian dan memiliki sifat ramah, akan tetapi mempunyai kesulitas dalam mengontrol kebiasaan suka berperilaku impulsive dan berlaku suka marah dan agresif. Menurut Eysenck menyatakan bahwa tipe kepribadian ekstravert adalah tipe kepribadian dengan kecenderungan mudah bergaul, sesuai kata hati, dan menyenangkan.[39] Seorang yang bertipe kepribadian ekstravert memiliki jiwa sosial, lebih banyak berbuat daripada berkontemplasi. Secara spesifik, tipe kepribadian ekstravert ditunjukan oleh kencenderungan untuk melakukan afiliatif yang kuat, lebih tertarik untuk memulai hubungan sosial dengan orang lain, lebih mampu berkomunikasi secara terkontrol emosinya, field dependent, dan lebih suka terbuka menerima perubahan sikap social.

Menurut Jung bahwa kepribadian ekstravert adalah kepribadian yang ditandai orientasi manusia  yang mengarah keluar dari dirinya. Selain itu, Jung membagi tipologi dasar kepribadian ekstravert menjadi 4 jenis dan fungsi, yaitu: (1) tipe pemikiran yang ekstraversi, (2) tipe perasaan ekstraversi, (3) tipe sensasi ekstraversi, dan (4) tipe intuitif ekstraversi.[40]

Dengan demikian, maka yang dimaksud dengan tipe kepribadian ekstravert adalah kepribadian yang memiliki kecenderungan untuk mengarahkan dirinya keluar (lingkungan) yang ditunjukan dengan sifat-sifat: riang, lincah, pandai bergaul, tanggap, senang bicara, ramah, mudah menyesuaikan, mudah tersinggung, gelisah, agresif, mudah marah, angin-anginan, impulsif, optimis, dan aktif.

  1. 2.    Tipe Kepribadian Introvert.

Menurut Jung bahwa kepribadian introvert ditadai dengan tingkah laku yang didominasi oleh hal-hal yang berasal dari pikiran dan ide-ide dalam diri seseorang. Selain itu, tipe kepribadian introvert dibagi menjadi 4 jenis dan fungsi tipologi dasar, yaitu: (1) tipe pemikiran intraversi, (2) tipe perasaan intraversi, (3) tipe sensasi intraversi, dan (4) tipe intuitif intraversi.[41]

Tipe kepribadian introvert diidentikkan dengan orientasi perilaku yang mengarah ke dalam diri sendiri dan minatnya kepada keadaan mentalnya sendiri.

Dalam kehidupan social, tipe kepribadian introvert ditunjukan dengan gejala: kurang afiliatif, suka menunggu dalam hubungan social, lebih hati-hati dalam berbicara dan berpikir dahulu sebelum bicara, kurang menyukai curahan emosi kepada orang lain, kurang menyukai kebebasan, kurang respon pada teman sebaya, lebih konservatif dalam sikap sosialnya.

Dengan demikian, maka tipe kepribadian introvert adalah kepribadian yang memiliki kecenderungan mengarahkan ke dalam diri sendiri yang ditunjukan dengan sifat: tenang, tempramen stabil, dapat dipercaya, terkendali, pemikir, pasif, pemurung, cemas, kaku, pesimis, menyendiri, tidak ramah, dan pendiam.

  1. 3.    Persepsi Eco Sensory

Persepsi adalah fungsi mental yang memberikan makna terhadap stimuli seperti: bentuk, warna, gerak, rasa, suara, sentuhan, senyuman, perasaan sakit, tekanan dan perasaan.[42] Persepsi adalah proses memilih, mengorganisasi dan menginterpretasi informasi yang membawa kepada kita pada perasaan-perasaan (sense) agar memahami dunia sekeliling.[43] Persepsi adalah system proses informasi yang meliputi stimuli kemusian menginterpretasi dan memaknakan yang pada akhirnya menghasilkan pola perilaku.[44]

Dalam sub proses persepsi meliputi stimulus atau situasi yang hadir, registrasi, interpretasi dan umpan balik.[45]

Persepsi Eco Sensory berasal dari Bahasa Inggris yang berarti kepekaan mempersepsikan sistem alam. Persepsi eco sensory merupakan salah jenis pandangan yang dimiliki oleh seseorang yang berkaitan dengan sistem alam dan kehidupan organisme.

Persepsi Eco Sensory yang dimiliki oleh manusia dengan pengaruh lingkungan tertentu akan menentukan kualitas proses analisis, kreatif, dan berpikir praktis terhadap pelestarian jenis sebagai salah satu aspek dalam ekologi. Persepsi Eco Sensory juga mempunyai arahan terhadap kepekaan mempersepsikan fenomena ekologis sebagai suatu respon terhadap suatu venomena yang dialami oleh masing-masing individu.[46]

Penghayatan terhadap prinsip-prinsi tersebut dan antisipasi pada proses perubahannya dikenal dengan deep ecology.[47] Deep ecology bertujuan dalam penyeimbangan ekologi pada aktivitas manusia.[48]

Persepsi eco sensory berakar pada neuroscience dan memberikan solusi inovatif untuk perekrutan dan pelatihan dalam lembaga dan pusat kontak lingkungan. Persepsi eco sensory menggunakan neuroscience yang melibatkan fungsi indra dan dampaknya pada perhatian, emosi dan perilaku untuk memfasilitasi kinerja tinggi, tim kohesi, pertemuan yang efektif dan kerja sama yang baik pada tempat kerja.[49]

Tahapan proses informasi yang ditunjukan fenomena eksternal dan susunan proses internal.[50]

External processes

     Sensory          Transduction                            Sensory detection                      CNS activity                           Memery and

     System                                                                            iconic/echoic                              and coding                                          transformation

                                                                            storage

 

External

phenomena

Stimulus

energy

Overt

Activity

Energi fisik yang terbatas dalam deteksi manusia merangsang sistem sensorik , adalah pengubahan (diubah menjadi energi saraf), tersimpan di sebuah penyimpanan sensorik, mengalami pengolahan lebih lanjut oleh sistem saraf pusat dan dikodekan, dan mungkin akan diteruskan pada sistem pengolahan memori. Hasilnya dapat memulai respon yang menjadi bagian dari rangsanga untuk pengolahan informasi lebih lanjut.

Seseorang yang berpikir tentang kebijaksanaan yang memiliki merek dagang dari orang yang hidup di desa selama berabad abad sebagai bentuk ecological intelligence yakni kemampuan kita untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Ekologi merujuk kepada pemahaman seseorang dan ekosistem, serta kecerdasan untuk belajar dari pengalaman dan secara efektif menangani lingkungan. Ecological intelligence memungkinkan menerapkan apa yang dibelajari tentang aktivitas manusia pada ekosistem agar kurang membahayakan, dan dapat hidup secara lestari di seluruh alam. [51]

Dengan demikian, maka persepsi eco sensory adalah kepekaan dalam mempersepsikan keterkaitan berbagai komponen lingkungan membentuk pemahaman yang utuh dan membentuk pendirian siswa dalam meresponi lingkungannya.

 

  1. B.   Kerangka Berpikir.

Berdasarkan kerangka teori yang telah diuraikan, tampak bahwa kepedulian terhadap pelestarian hutan rakyuat sangat urgen berkaitan dengan variable di atas. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dibangun suatu kerangka berpikir sebagai berikut.

  1. Perbedaan kepedulian pada pelestarian hutan rakyat antara siswa yang memiliki kepribadian ekstrovert dan introvert.

Kepedulian pada pelestarian hutan rakyat dipengaruhi oleh tipe kepribadian seseorang. Tipe kepedulian ekstrovert lebih cenderung meresponi kondisi yang terjadi di luar dirinya atau lingkungannya sehingga memiliki perhatian dan ketertarikan dalam membentuk dan berinteraksi pada lingkungan. Sedangkan tipe kepribadian introvert memiliki kecenderungan memperhatikan keadaan yang dirasakan dalam dirinya sehingga kurang memperhatikan keadaan yang terjadi pada lingkungannya.

Diduga bahwa siswa yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert memiliki kepedulian yang tinggi jika dibandingkan dengan siswa yang memiliki tipe kepribadian introvert.

  1. Perbedaan kepedulian pada peletarian hutan rakyat antara siswa yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert dengan introvert dan memiliki persepsi eco sensory yang tinggi.

Dapat diduga bahwa siswa yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert yang memiliki persepsi eco sensory yang tinggi memiliki kepedulian yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan siswa yang memiliki tipe kepribadian introvert yang memiliki perseps eco sensory yang tinggi.

  1. Perbedaan kepedulian pada peletarian hutan rakyat antara siswa yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert dan introvert yang memiliki persepsi eco sensory yang rendah.

Oleh karena itu diduga bahwa siswa yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert yang memiliki persepsi eco sensory yang rendah memiliki kepedulian yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan siswa yang memiliki tipe kepribadian introvert yang memiliki perseps eco sensory yang rendah.

  1. Pengaruh interaksi tipe kepribadian dan persepsi eco sensory terhadap kepedulian pada pelestarian hutan rakyat.

Sesuai dengan pemikiran bahwa kepedulian pada peletarian hutan rakyat dipengaruhi oleh persepsi, dan kepribadian seseorang, maka dapat diduga bahwa terdapat pengaruh interaksi tipe kepribadian dan persepsi eco sensory secara bersama-sama terhadap kepedulian pada pelestarian hutan rakyat.

 

 


 

BAB III

METODOLOGI

 

  1. A.    Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut.

  1. Perbedaan kepedulian pada pelestarian hutan rakyat antara siswa yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert dengan introvert?
  2. Perbedaan kepedulian pada pelestarian hutan rakyat antara siswa yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert dengan introvert dan memiliki persepsi eco sensory yang tinggi?
  3. Perbedaan kepedulian pada pelestarian hutan rakyat antara siswa yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert dengan introvert dan memiliki persepsi eco sensory yang rendah?
  4. Interaksi antara tipe kepribadian dan persepsi eco sensory terhadap kepedulian pada pelestarian hutan rakyat?
  1. B.     Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dirancang mulai bulan Oktober 2012 sampai dengan Mei 2013 yang melalui beberapa tahapan sebagai berikut: (1) Observasi awal dalam rangka penyusunan proposal; (2) seminar proposal; (3) pengurusan administrasi dan uji coba instrumen; (4) penyebaran angket (instrument) penelitian kepada responden, (5) pengolahan data penelitian; dan (6) membuat laporan hasil penelitian.

Penelitian ini dilakukan pada 3 SMK pertanian di Kabupaten Bone Bolango. Pemilihan lokasi berdasarkan pertimbangan bahwa sekolah teresbut adalah sekolah menengah kejurusan yang berfokus pada pendidikan pertanian.

 

  1. C.    Metode dan Desain Penelitian

Metode penelitian menggunakan metode ex post facto. Prosedur yang ditempuh adalah melakukan pengukuran terhadap hal-hal yang sudah berlangsung dalam konteks waktu saat ini tanpa melakukan manipulasi variabel-variabel yang diteliti. Sebagaimana dikemukakan oleh Kerlinger dalam Sevilla, dkk., bahwa expost facto adalah menelitian yang sistematis di mana peneliti tidak dapat mengontrol langsung variable bebas karena peristiwanya telah terjadi atau karena menurut sifatnya tidak dapat dimanipulasi.[52]

Penelitian ini melibatkan 2 (dua) variabel bebas yaitu: (1) persepsi eco sensory terdiri dari persepsi eco sensory tinggi dan persepsi eco sensory rendah, (2) tipe kepribadian yaitu ekstrovert dan introvert. Sedangkan variable terikat adalah kepedulian pada pelestarian hutan rakyat.

Penelitian ini menggunakan rancangan factorial group design dengan 2 faktor (A x B) sebagaimana matriksnya terlihat pada tabel berikut.

 

Variabel Bebas

Tipe Kepribadian (A)

Variabel

Atribut

Ekstrovert (A1)

Introvert (A2)

Persepsi Eco sensory  (B)

Tinggi  (B1)

 

A1B1

 

 

A2B1

Rendah (B2)

 

A1B2

 

 

A2B2

Keterangan:

A1

=

Tipe kepribadian ekstrovert

A2

=

Tipe kepribadian introvert

B1

=

Persepsi eco sensory tinggi

B2

=

Persepsi eco sensory rendah

A1B1

=

Kelompok yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert dan memiliki persepsi eco sensory tinggi.

A2B1

=

Kelompok siswa yang memiliki tipe kepribadian introvert dan memiliki persepsi eco sensory tinggi.

A1B2

=

Kelompok siswa yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert dan memiliki persepsi eco sensory rendah.

A2B2

=

Kelompok siswa yang memiliki tipe kepribadian introvert dan memiliki persepsi eco sensory rendah.

  1. D.    Pupulasi dan Sampel
  2. 1.      Populasi

Populasi target adalah seluruh siswa SMK Pertanian Kabupaten Bone Bolango. Populasi terjangkau adalah siswa kelas X SMK Pertanian. Sampling frame untuk perespsi ecosensory terdiri dari tingkat tinggi 25 orang dan rendah 25 orang.

  1. 2.      Sampel

Sehubungan dengan keterbatasan peneliti, maka penelitian ini menggunakan populasi terjangkau. Oleh sebab itu, penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel berupa teknik klaster berstrata (stratified cluster random sampling).

Peneliti menetapkan sebanyak 100 anggota untuk dijadikan sampel penelitian.

  1. Menentukan SMK Pertanian. Dalam penelitian ini ditentukan 3 SMK yang akan menjadi kerangka sampel yakni SMK Pertanian Bone Raya, SMK Pertanian Bone Bolango, SMK Pertanian Bulango Utara.
  2. Menghitung jumlah siswa dari sekolah yang telah ditentukan, kemudian menghitung jumlah siswa dari seluruh sekolah masing-masing sekolah tersebut.
  3. Dari masing-masing kelas X1 dan X2 dilanjutkan dengan memberikan instrumen untuk menentukan kelompok yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert dan introvert.
  4. Untuk masing-masing kelompok yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert dan introvert ditentukan sampel sejumlah 30 orang sehingga total sampel adalah 60 orang.
  5. Untuk masing-masing kelompok dibagi lagi menjadi dua kelompok berdasarkan tingkat persepsi eco sensory yang tinggi dan rendah. Kelompok ekstrovert dibagi lagi menjadi 2 kelompok yakni ekstrovert yang memiliki persepsi eco sensory tinggi sebanyak 15 orang dan rendah sebanyak 15 orang. Demikian juga kelompok introvert dibagi lagi menjadi 2 kelompok yakni siswa yang memiliki persepsi eco sensory tinggi sebanyak 15 orang dan rendah sebanyak 15 orang
  6. Penentuan kelompok persepsi eco sensory berdasarkan hasil tes yang diberikan (The Eco Sensory Intelligence Test).

Dari jumlah sampel ini dalam analisis data dikategorikan menjadi 2 kelompok dengan masing-masing kelompok 27% sampel maka jumlah sampel yang dianalisis dalam penelitian ini adalah 100 sampel.

Penetapan 27% sebagai pembeda kelompok atas dan kelompok bawah (kategori persepsi eco sensory tinggi dan rendah) serta introvert dan eksrovert (tipe kepribadian). Hal ini diadopsi dari parameter daya pembeda atau disebut indeks daya pembeda.[53]

 

Variabel Bebas

Tipe Kepribadian (A)

Variabel

Atribut

Ekstrovert (A1)

Ekstrovert (A1)

Persepsi Eco sensory  (B)

Tinggi  (B1)

15

15

Rendah (B2)

15

15

 

Jumlah

30

30


 

  1. E.     Instrumen penelitian

Instrument dibuat berdasarkan karakteristik indikator dari masing-masing variabel yang dikembangkan berdasarkan kajian teori. Selanjutnya dibuat kisi-kisi masing-masing variabel yang berguna dalam pembuatan butir instrument.

  1. 1.      Kepedulian Pada Pelestarian Hutan Rakyat
    1. Definisi konseptual

Kepedulian siswa pada pelestarian hutan rakyat adalah perwujudan perhatian, dan ketertarikan siswa pada aspek pelestarian meliputi pemeliharaan, pemanfaatan, dan perlindungan hutan rakyat.

  1. Definisi operasional

Berdasarkan definisi konseptual, secara operasional kepedulian pada pelestarian hutan rakyat didefinisikan sebagai skor kepedulian siswa yang diukur dari aspek perhatikan dan ketertarikan berdasarkan aspek pelestarian yang meliputi pemeliharaan, pemanfaatan dan perlindungan.

  1. Kisi-kisi  

Berdasarkan definisi operasional, setiap siswa diberikan instrumen tentang kepedulian pada pelestarian hutan rakyat. Instrumen ini menggunakan skala 1- 5. Untuk pernyataan positif diberi skor (sangat setuju = 5, setuju = 4, netral = 3, tidak setuju = 2 sangat tidak setuju = 1). Sebaliknya pernyataan negatif diberi skor (sangat setuju = 1, setuju = 2, netral = 3, tidak setuju = 4 sangat tidak setuju = 5).  Adapun sebaran burir-birur pernyataan dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 3.1 Kisi-kisi instrument Kepedulian pada Pelestarian Hutan Rakyat.

 

Aspek

Aspek Pelestarian

Jumlah

 

 

Pemeliharaan

Pemanfaatan

Perlindungan

Dimensi Kepedulian

Indicator

+

+

+

Perhatian

Kesadaran

6,29

16,53

1,30

10,39

19,45

8,35

12

Tanggapan

4,34

27,43

14,48

17,56

38,51

15,54

12

Tindakan

21,40

12,46

2357

36,41

5,31

25,60

12

Ketertarikan

Minat

18,49

2,32

26,59

7,50

28,58

22,52

12

Komitmen

9,37

24,55

11,44

20,33

13,42

3,47

12

Jumlah

 

10

10

10

10

10

10

60

  1. Tipe Kepribadian
    1. Definisi konseptual

Tipe kepribadian adalah dimensi kepribadian yang menggambarkan kecenderungan perilaku seseorang yang dibentuk dari delapan sifat mendasar, yakni: (1) sociability, (2) impulsiveness, (3) activity, (4) respon dan (5) liveness.

  1. Definisi operasional

 Tipe kepribadian adalah skor yang diperoleh dari segala bentuk perilaku yang terorganisir dan menetap dalam diri seseorang yang digunakan untuk merespon stimuli dari dalam dan dari luar yang diukur melalui kecenderungan: (1) sociability, (2) impulsiveness, (3) activity, (4) respon dan (5) liveness.

  1. Kisi-kisi instrument

Tabel 3.2 Kisi-kisi instrument Tipe Kepribadian.

Indikator Kepribadian

Butir Soal

Jumlah

Hubungan Sosial

(sociability)

1,4,5,7,9,26

6

Keaktifan (Activity)

6,10,12,17,20,27

6

Pengendalian Hati (Impulsivenes)

8,13,18,21,22,28

6

Tanggap (respon)

2,14,19,23,24,29

6

Kegembiraan (Levenes)

3,11,15,16,25,30

6

Jumlah

 

30

  1. Persepsi Eco Sensory
    1. Definisi konseptual

Persepsi eco sensory adalah kepekaan dalam mempersepsikan hubungan timbal balik berbagai komponen lingkungan baik komponen biotik maupun abiotik melalui pemahaman yang utuh dan membentuk pendirian seseorang dalam meresponi lingkungannya.

  1. Definisi operasional

Persepsi eco sensory adalah skor yang dicapai siswa melalui pengukuran yang menggunakan instrumen intelegensi eco sensory. The Eco Sensory Intelligence Test mempunyai skala 1 – 10 sebagaimana terlampir.


 

  1. F.     Teknik Analisis Data
  2. Statistik Deskriptif

Data yang sudah diperoleh dianalisis secara deskripstif. Analiss deskripstif digunakan untuk menyajikan data dalam bentuk histogram, grafik, perhitungan mean, median, modus dan simpangan baku dan rentang masing-masing variabel.

  1. Statistik Inferensial
    1. Uji normalitas dilaksanakan untuk mengetahui apakah sampel penelitian berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Untuk menguji normalitas data digunakan rumus uji Liliefors dan untuk menguji homogenitas data digunakan rumus Uji Bartlet.
    2. Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang telah dikumpulkan berasal dari populasi yang homogen.
  1. G.    Hipotesis Statistik

a.

Ho

:

μ A1

=

μ A2

 

H1

:

μ A1

μ A2

b.

Ho

:

μ A2B1

=

μ A1B1

 

H1

:

μ A2B1

μ A1B1

c.

Ho

:

μ A1

=

μ A2

 

H1

:

μ A1

μ A2

d.

Ho

 

Int.A x B

=

0

 

H1

 

Int.A x B

0

 

Keterangan:

Ho = hipotesis nol

H1 = hipotesis alternatif

A1 = kepribadian ekstrovert .

A2 = kepribadian introvert .

B1 = persepsi eco sensory tinggi.

B2 = Persepsi eco sensory rendah.

μA1 = rata-rata skor kepedulian pada pelestraian hutan rakyat kelompok yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert.

μA2 = rata-rata skor kepedulian pada pelestraian hutan rakyat kelompok yang memiliki tipe kepribadian introvert.

μB1 = rata-rata skor kelompok siswa yang memiliki persepsi eco sensory yang tinggi

μB2 = rata-rata skor kelompok siswa yang memiliki persepsi eco sensory yang rendah.

μA1B1 = rata-rata kepedulian pada pelestarian hutan rakyat pada siswa yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert dan memiliki persepsi eco sensory yang tinggi.

μA1B2 = rata-rata kepedulian pada pelestarian hutan rakyat pada siswa yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert dan memiliki persepsi eco sensory yang rendah.

μA2B1 = rata-rata kepedulian pada pelestarian hutan rakyat pada siswa yang memiliki tipe kepribadian introvert dan memiliki persepsi eco sensory yang tinggi.

μA2B2 = rata-rata kepedulian pada pelestarian hutan rakyat pada siswa yang memiliki tipe kepribadian introvert dan memiliki persepsi eco sensory yang rendah.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Anon, Concern, http://www.hyperdictionary.com

Anon., Global Biodiversity strategy. Guidelines for action to save study, and use earth’s biotic wealth sustainability and aquitable, WRI-IUCN-UNEP, 1992.

A. Supriatna, Teori-teori Psikodinamik (Klinis), Yogyakarta: Kanisius: 1993.

Calvin Hall and Gardner Linzey, Theory of Personality, New Delhi: Willey Eastern Limited, 1989.

Colin Rose & Malcolm J. Nicholl, Accelerated Learning for the 21st Century, Disadur oleh Dedy Ahimsa, Bandung: Penerbit Nuansa, 2002.

Cone D. John and Hayes Steven C., Environmental Problems Behavior Solution, Cambridge: Leat Press, Monteney California, USA, 1984.

Conny R. Semiawan & Djeniah Alim, Petunjuk Layanan dan Pembinaan Kecerdasan Siswa, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002.

Dadan On Jan, Definisi Pelestarian lingkungan, p. 1. (http://www.bandungheritage.org/modules.php?op=modload).

Daniel Goleman, The Hidden Impacts of What We Buy. Ecological Inteligence, (New York: a Division of Random House, 2010.

Dennis McNerney & Valentina McNerney, Educational Psychology, Sidney: Prentice Hall Australia Pty. Ltd., 1998.

Frans Magnis Suseno, dkk., Etika Sosial, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1992.

H.J. Eysenck, Trait Theories of Personality, New York: Troutledge, 1994.

Hadi Siswanto, Etika Lingkungan, Jakarta: Sarana Mitra Sukses, 1999.

Hungerford, H. R., & Volk, T.L., Changing Learner Behavior Through Environmental Education, Environmental Education, Vol, 21 (3), (unitet States: Sprig, 1990.

Howard Gardner, Frames of Mind, New York: Basic Books, 1994.

I. L. Pasaribu dan B. Simanjuntak, Teori Kepribadian, (Bandung: Penerbit Tarsito, 1984.

James L. Hoot dan Margareth L. Foster, “Promoting Ecological Responsibility Through The Arts”, Childhood Education, New York: Spring, 1993.

Jeffrey A. McNeely., ekonomi dan Keanekaragaman Hayati, Pengembangan dan Pendayagunaan Insentif Ekonomis Untuk Pelestarian Sumber Daya Hayati, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1992.

John Seed., Ecopsychology, www.gn.apc.org/schumachercollege/article/jseed.html.

Kendra Okonski, Deep Ecology’s faulthy ethics, www.greenreligion.com/deeecology.html. 2000.

Larry A. Hjele and Daniel J. Ziegler, Personality Theories, Basic assumptions, Research, and Applications, New York: McGraw-Hill Inc, 1992.

Lukman Ali, Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi Kedua, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta: Penerbit Balai Pustaka, 1996.

Lynton K. Caldwell dalam Malcolm Nweson et all, Managing The Human Impact on The Natural Environment: Oatterns and Proccesses, London: Belhaven Press, 1992.

Michael J. Cohen., op. cit., www.ecopsych.com

Mirilia Bounes and Gianfranco Secchiaroli, Environmental Psychology, A Psychology Introduction, London: Sage Publications, 1995.

Muhammad Nur, Pengantar Teori Tes, Jakarta: Proyek Pengembangan LPTK, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Depdikbud. 1987.

Niniek Suparni, Pelestarian, Pengelolaan dan Penegakan Hukum Lingkungan, Jakarta: Sinar Grafika, 1994.

Norman A. Sprinthall & Richard C. Spinthall, Educational Psychology: A Developmental Approach, New York: McGraw Hill, Inc., 1990.

Paulus Budiharjo, Mengenal Teori Kepribadian Mutakhir, Yogyakarta: Kanisius, 1997.

P. Wesley Schultz., Empathizing With Nature: The Effects of Perspective Taking on Concern for Environmental Issues. Bnet-Journal for Social Issues, 2000.

Robert L. Solso, M. Kimberly Maclin & Otto H. Maclin, Cognitive Psychology Seventh Edition, (USA: Pearson Education, Inc., 2005.

Richard I. Lanyon and Leonard D. Goodstain, Personality assessment, New York: John Wiley & Sons, 1977.

Stephen P. Robins, Essentials of Organizational Behavior, (USA: Prentice Hall Englewood Clifes; 1988.

 

SIOPSA Invitation Please join the SIOPSA Johannesburg Branch for our upcoming, Mini-Workshop Event. 2011.  www.siopsa.org.za

Sumadi Suryabrata, Psikologi Kepribadian, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2000.

Swan, J. A, Psychological Response to the Environment, San Franscisco: W. H. Freeman ad Company, 1973.

Swan, J. A. Psychological Respone to The Environment. Dalam C. R. Goldman, J.Mc. Evoy III & P.J Richerson. Environment Quality and Water Development, Sanfrancisco: WH. Freman and Company, 1973.

Thomas, L. H. Stem. Value Orientation, Gender and Environmental Concern, (Toronto: Ally and Bacon, Inc., 1978.

Thomas L. Good & Jere E. Brophy, Educational Psychology: A Realistic Approach Fourth Edition, New York: Longman, 1990.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, (Biro Hukum dan Humas Kementerian Lingkungan Hidup: 2011.

http://psyserver.pc.rhbuc.ac.uk/zanker/teach/PS/html.

W. Michael Hoffman, Robert Frederick, and Edward S. Perty Jr., The Corporation, Ethics, and the Environment. New York: Quorum Books, 1990.


[1] Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, (Biro Hukum dan Humas Kementerian Lingkungan Hidup: 2011), p. 6.

[2] Ibid,. h. 78.

[3] Swan, J. A. Psychological Respone to The Environment. Dalam C. R. Goldman, J.Mc. Evoy III & P.J Richerson. Environment Quality and Water Development, (Sanfrancisco: WH. Freman and Company, 1973), p. 102.

[4] Swan, J. A, Psychological Response to the Environment, (San Franscisco: W. H. Freeman ad Company, 1973), p. 95.

[8] Lynton K. Caldwell dalam Malcolm Nweson et all, Managing The Human Impact on The Natural Environment: Oatterns and Proccesses, (London: Belhaven Press, 1992), p. 3.

[9] Cone D. John and Hayes Steven C., Environmental Problems Behavior Solution, (Cambridge: Leat Press, Monteney California, USA, 1984), p. 26.

[10] Niniek Suparni, Pelestarian, Pengelolaan dan Penegakan Hukum Lingkungan, (Jakarta: Sinar Grafika, 1994), p. 28.

[11] Mirilia Bounes and Gianfranco Secchiaroli, Environmental Psychology, A Psychology Introduction, (London: Sage Publications, 1995), p. 144.

[12]  Thomas, L. H. Stem. Value Orientation, Gender and Environmental Concern, (Toronto: Ally and Bacon, Inc., 1978), p. 84

[13]  Dadan On Jan, Definisi Pelestarian lingkungan, p. 1. (http://www.bandungheritage.org/modules.php?op=modload).

[14]  Hadi Siswanto, Etika Lingkungan, (Jakarta: Sarana Mitra Sukses, 1999), p. 10.

[15] Swan, J. A. Psychological Respone to The Environment. Dalam C. R. Goldman, J.Mc. Evoy III & P.J Richerson. Environment Quality and Water Development, (Sanfrancisco: WH. Freman and Company, 1973), p. 102.

[16] James L. Hoot dan Margareth L. Foster, “Promoting Ecological Responsibility Through The Arts”, Childhood Education, (New York: Spring, 1993),. P. 150.

[17] P. Wesley Schultz., Empathizing With Nature: The Effects of Perspective Taking on Concern for Environmental Issues. Bnet-Journal for Social Issues, 2000.

[18] W. Michael Hoffman, Robert Frederick, and Edward S. Perty Jr., The Corporation, Ethics, and the Environment. (New York: Quorum Books, 1990), p. 277.

[19]  Stephen P. Robins, Essentials of Organizational Behavior, (USA: Prentice Hall Englewood Clifes; 1988), p. 25.

[20] Frans Magnis Suseno, dkk., Etika Sosial, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1992), pp. 152-154.

[21] Hungerford, H. R., & Volk, T.L., Changing Learner Behavior Through Environmental Education, Environmental Education, Vol, 21 (3), (unitet States: Sprig, 1990), p. 10.

[22] Jeffrey A. McNeely., ekonomi dan Keanekaragaman Hayati, Pengembangan dan Pendayagunaan Insentif Ekonomis Untuk Pelestarian Sumber Daya Hayati, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1992), p. 33.

[23] Anon., Global Biodiversity strategy. Guidelines for action to save study, and use earth’s biotic wealth sustainability and aquitable, (WRI-IUCN-UNEP, 1992), p. 13.

[24] I. L. Pasaribu dan B. Simanjuntak, Teori Kepribadian, (Bandung: Penerbit Tarsito, 1984), p. 118.

[25] Larry A. Hjele and Daniel J. Ziegler, Personality Theories, Basic assumptions, Research, and Applications, (New York: McGraw-Hill Inc, 1992), p. 241.

[26] Richard I. Lanyon and Leonard D. Goodstain, Personality assessment, (New York: John Wiley & Sons, 1977), p. 45.

[27] A. Supriatna, Teori-teori Psikodinamik (Klinis), (Yogyakarta: Kanisius: 1993), pp. 6-12.

[28] Ibid., p. 63.

[29] Ibid., p. 182.

[30] Chaplin, op. cit., p. 362.

[31] Paulus Budiharjo, Mengenal Teori Kepribadian Mutakhir, (Yogyakarta: Kanisius, 1997), pp. 135-138.

[32] Chaplin, op. cit., p. 362.

[33] Budiharjo, op. cit., p. 362.

[34]Sumadi Suryabrata, Psikologi Kepribadian, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2000), p. 288.

[35] Chaplin, op. cit., p. 522.

[36] Calvin Hall and Gardner Linzey, Theory of Personality, (New Delhi: Willey Eastern Limited, 1989), p. 9.

[37] H.J. Eysenck, Trait Theories of Personality, (New York: Troutledge, 1994), p. 629.

[38] Atkinson, op. cit., pp. 264-268.

[39] Atkinson, op. cit., p. 267.

[40] Atkinson, op. cit., p. 268.

[41] Atkinson, op. cit., p. 269.

[42] Laurie J. Mullin, Management and Organization, (britania: Prentice Hall, 1999), p. 379.

[43] Jerald Greenberg dan Robert A. Baron, Behavior in Organizations: Understanding and Managing The Human Side of Work, (New Jersey: Prentice-Hall International, Inc., 1995), p. 127.

[44] Mullin Laurie J., Management and Organization, (Britania: Prentice Hall, 1999), p. 378.

[45] Miftah Toha, Perilaku Organisasi, (Jakarta: CV. Rajawali, 1986), p. 138.

[46] Michael J. Cohen., op. cit., www.ecopsych.com

[48] Kendra Okonski, Deep Ecology’s faulthy ethics, www.greenreligion.com/deeecology.html. 2000.

[49] SIOPSA Invitation Please join the SIOPSA Johannesburg Branch for our upcoming, Mini-Workshop Event. 2011.  http://www.siopsa.org.za

[50] Robert L. Solso, M. Kimberly Maclin & Otto H. Maclin, Cognitive Psychology Seventh Edition, (USA: Pearson Education, Inc., 2005), p.  72.

[51]Daniel Goleman, The Hidden Impacts of What We Buy. Ecological Inteligence, (New York: a Division of Random House, 2010), p. 43.

[52] Consuelo G. Sevilla, dkk., Pengantar Metode Penelitian, Terj. Alimuddin Tuwu, (Jakarta: UI-Press, 1993), h. 124.

[53] Muhammad Nur, Pengantar Teori Tes, (Jakarta: Proyek Pengembangan LPTK, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Depdikbud. 1987), p. 138-139.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s