PENGARUH PROFESIONALISME, LATAR BELAKANG DAN SERTFIKASI GURU TERHADAP PENGETAHUAN GURU DALAM MENGINTEGRASIKAN PEMBELAJARAN PLH KE DALAM MATA PELAJARAN YANG DIAMPUNYA

Oleh: Widad Arifin

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Pemahaman masyarakat tentang keampuhan mujarobat dan khasiat telur penyu begitu melekat, sehingga maraknya penjualan telur tersebut secara ilegal sulit dielakkan. Dengan harga di antara Rp. 4.000,00 sampai Rp. 10.000,00 orang bisa mudah mendapatkan telur penyu tersebut yang sudah matang dan tinggal santap saja. Belum lagi penyu yang memiliki tempurungnya selalu dijadikan sebagai alasan aksesoris atau hiasan rumah yang indah setelah dipoles dengan warna pelitur dengan semprotan fernis mengkilat, sehingga penyu malang ini laku dijual di atas harga Rp. 200.000,00 atau lebih dalam setiap ekornya. Bukan hanya sampai disini, kemudian penjualan daging penyu yang dijadikan makanan dan dikatakan berkhasiat untuk daya tahan tubuh dan meningngkatkan stamina laki-laki juga banyak dijual di beberapa daerah termasuk di Pulau Bali yang menjadi sasaran empuk para turis mancanegara ataupun turis domestik yang ingin mencicipi makanan “Sea Food” tersebut.

Apabila hal tersebut terus dibiarkan maka tentu saja kepunahan hewan laut langka yang memiliki usia hingga mencapai 500 tahun uisianya isi akan segera kita rasakan. Kepunahan penyu ini terjadi dalam dua proses.  Pertama melalui proses alam, yaitu mulai dari proses benih telur yang menetas dari gangguan kerubutan semut yang mematikannya, juga gangguan hewan laut lain ketika penyu bayi (tukik) mulai mencium air laut tempat habitatnya, gangguan lingkungan laut oleh sampah (terutama plastik) yang dianggapnya seperti ubur-ubur) makanannya sehingga terjerat masuk ke dalamnya dan mati serta proses alam lainnya yang menjadikan prosentasi penyu tersebut semakin menipis. Dari proses inipun tidak lebih dari 10 % penyu yang bisa bertahan dalam hidupnya dari ratusan jumlah bibit telur yang dibenakannya sendiri. Yang kedua gangguan dari tangan-tangan jahil yang menjadikan telur penyu sebagai konsumsi atau makanan obat berkhasiat, sehingga populasi kehidupannyapun semakin menipis.

Tentu saja hal ini harus menjadi pemikiran dan merupakan pekerjaan rumah secara global, termasuk pemerintah Indonesia terutama pemerintah daerah setempat yang daerahnya memiliki tempat singgahnya hewan laut langka ini untuk melangsungkan kehidupan reproduksinya di pantai. Kelestarian penyu merupakan tanggung jawab kita bersama, seluruh pihak terkait harus ikut menyumbangkan segenap pemikirannya bagaimana agar kelestarian penyu tersebut tetap terjaga. Dari mulai pejabat eksekutif, yudikatif sampai ke tingkat pelaksana pemerintahan yang bertugas mengayomi dan melayani masyarakat harus bekerjasama dalam mewujudkan kelestarian hewan langka ini, termasuk guru di dalamnya yang memiliki peran penting dalam memberikan pengetahuan dan pendidikan dini tentang manfaat serta pentingnya pendidikan pelestarian alam di sekolah.

Upaya melestarikan penyu sudah banyak dilakukan, mulai dari penyuluhan pemerintah sampai dengan pembuatan reklamasi di beberapa tempat strategis yang diharapkan tercapainya target dan tujuan pelestarian hewan ini. Namun hal tersebut hanya menghasilkan kepedulian masyarakat yang tidak signifikan dengan usaha yang dilakukan pemerintah tersebut. Sehingga penulis berbendapat dalam institusi pendidikanlah ini harus mulai ditanamkan kepada peserta didik di sekolah. Bahkan diharapkan dengan pendidikan inilah masalah tersebut harus mampu ikut bekerjasama dalam segi penanaman moral konservasi sejak dini mulai dari pendidikan pra dasar sampai ke tingkat pendidikan yang berada di atasnya.

Namun nyatanya, tidak semua guru mampu ikut serta dalam pemecahan masalah ini. Hanya guru profesional yang terampil yang mampu mengintegrasikan pendidikan lingkungan hidup dengan mata pelajaran yang diampunya akan menjadi sosok penting dalam pengadaan pertolongan pertama terhadap kehancuran konservasi tersebut di atas. Diharapkan dengan segenap kemampuan guru akan melahirkan peserta didik yang perduli akan lingkungan dan memahami manfaat serta pentingnya kelestarian alam.

Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang dapat diidentifikasikan adalah :

  1. Rendahnya kemampuan guru dalam mengintegrasikan pengetahuan lingkungan hidup ke dalam mata pelajaran yang diampunya.
  2. Masih rendahnya jumlah guru yang relevan mengajar dengan mata pelajaran yang diampunya, terutama para pengampu mata pelajaran ilmu pengetahuan alam dan guru pengampu mata pelajaran pendidikan linghungan hidup.
  3. Upaya guru dalam meningkatkan kepedulian siswa terhadap cinta lingkungan dan alam sekitar masih belum signifikan dengan target yang diharapkan dalam mencapai tujuan pembelajaran pendidikan lingkungan di sekolah.
  4. Kesulitan guru dalam pemanfaatan media sebagai alternatif untuk meningkatkan motivasi dan pemahaman siswa dalam melestarikan lingkungan.
  5. Pemilihan strategi, media dan metode pembelajaran yang simpang siur masih merupakan khas bagi guru yang belum mampu melaksanakan pembelajaran yang sempurna.

Dari permasalahan di atas dapat dijadikan sebuah tema tentang

Pembatasan Masalah

Untuk menghindari meluasnya permasalahan maka penulis membatasi permasalahan pada “Pengaruh Profesionalisme guru mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dalam upaya  Mengintegrasikan Pendidikan Lingkungan Hidup Dalam menciptakan kepedulian serta pemahaman siswa akan lingkungan”.

Adapun sample yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa SMP di sekitar wilayah Sukabumi Bagian Selatan yang berdekatan dengan pantai Selatan. Hal ini dimaksudkan karena wilayah pantai tersebut sudah termasuk ke dalam sebuah rancangan pemerintah daerah setempat yang akan dijadikan sebagai wilayah wisata pantai Selatan di Sukabumi.

Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah maka penulis merumuskan masalah :

  1. Apakah ada pengaruh yang signifikan antara profesionalisme guru mata pelajaran IPA dalam mengintegrasikan PLH terhadap keperdulian serta pemahaman peserta didik terhadap lingkungan?
  2. Apakah profesionalisme tersebut dapat mempengaruhi terhadap keperdulian serta pemahaman siswa akan lingkungan ?
  3. Apakah terdapat perbedaan antara guru profesional dengan yang tidak profesional dalam mempengaruhi siswa terhadap keperdulian serta pemahaman siswa akan lingkungan ?
  4. Apakah ada perbedaan yang signifikan antara guru yang mengajar di RSBI dan non RSBI terhadap kepedulian serta pemahaman siswa tentang lingkungan alam sekitar

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini selain untuk memberikan wawasan tentang sosok dan figur guru profesional yang mampu mengintegrasikan pengetahuan lingkungan hidup dengan dengan keterkaitan ilmu pengetahuan lainnya sebagai upaya memperlakukanmulti disiplin ilmu dalam memecahkan sebuah masalah terutama masalah lingkungan hidup. Tujuan yang diharapkan juga mampu untuk meningkatkan kepedulian siswa terhadap pelestarian lingkungan. Karena peneliti memandang bahwa siswa merupakan objek sasaran jangka panjang dalam memberikan penanaman kepedulian lingkungan dari sejak dini. Dan diharapkan kelak tingkat kepeduliannya terus akan tertanam hingga mereka terjun menjadi masyarakat yang peduli lingkungan.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini memiliki dua manfaat penting sekaligus, pertama manfaat secara teoritis dan manfaat secara praktis. Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan ilmu pengetahuan khususnya bagi guru, yaitu tentang profesionalisme guru dalam mengajar, selanjutnya memberikan teori integrasi dalam membentuk kolaborasi dan menciptakan bagaimana melakukan problem solving pemecahan masalah dengan menggunakan multi disiplin ilmu kepada guru sebagai upaya untuk meningkatkan kepedulian siswa terhadap lingkungan hidup. Secara praktis hasil penelitian ini dapat menjadi masukan dan metode bagi guru guna mengembangkan pembelajaran di kelas melalui metode pengintegrasian mata pelajaran yang dapat menjadi metode alternatif  yang efektif dalam pemilihan metode pembelajaran di kelas.


 

BAB II

PEMBAHASAN

Mengapa Penyu Dilindungi

Tekanan penangkapan yang meningkat dari hari ke hari semakin mempercepat penurunan stok sumberdaya ikan. Tingginya tekanan penangkapan khususnya di pesisir pantai telah menyebabkan menurunnya stok sumber daya ikan dan meningkatnya kompetisi antar alat penangkapan ikan yang tidak jarang menimbulkan konflik diantara nelayan. Sebagai akibat dari menurunnya pendapatan, nelayan melakukan berbagai macam inovasi dan modifikasi alat penangkapan ikan untuk menutupi biaya operasi penangkapannya.

Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) No. 39 tahun 1980 tentang penghapusan jaring trawl. Pasal 1 ayat 1 berisi tentang “menghapuskan kegiatan penangkapan ikan menggunakan jaring trawl secara bertahap”. Pasal 2 mengemukakan bahwa terhitung mulai tanggal 1 Juli 1980 sampai tanggal 1 Juli 1981 kapal perikanan yang mempergunakan jaring trawl dikurangi jumlahnya, sehingga seluruhnya tinggal menjadi 1000 buah. Sejak trawl dihapus, keluarlah Surat Keputusan Presiden No. 85 tahun 1982 yang membolehkan pukat udang beroperasi di perairan Indonesia, namun terbatas di wilayah timur Indonesia. Pukat udang merupakan alat tangkap modifikasi dari trawl, dimana alat tangkap ini dilengkapi Turtle Excluder Device  (TED) atau Bycatch Excluder Device (BED).  Hal tersebut merupakan konsep-konsep alat tangkap ikan yang selektif dan ramah lingkungan.  Penggunaan TED pada alat tangkap untuk meloloskan penyu.

Penyu, selain dapat dijadikan makanan, dapat dijadikan sebagai obat-obatan dan bahan kosmetik.  Sehingga tidak jarang jika penyu menjadi sasaran perburuan manusia.  Lambat laun, penyu diprediksi akan mengalami kepunahan. Oleh karena itu, di sejumlah daerah di Indonesia, pemerintah setempat bersama-sama dengan warga, komunitas, dan para pencinta penyu berusaha keras agar kawanan penyu tetap lestari. Selain akibat perburuan, kepunahan penyu disebabkan oleh laut kotor, pembangunan pesisir, kerusakan pantai sehingga penyu tidak dapat bertelur, bencana lingkungan, dan tentu saja ulah nakal manusia.

Semua jenis penyu terancam punah dan membutuhkan pelindungan. Penyu memiliki paru-paru yang sesekali memerlukan naik ke permukaan laut. Ingat, sampah dapat membahayakan penyu, terutama kantong plastik. Tak jarang para penyu menyangkan jika kantung plastik adalah ubur-ubur, makanan mereka.

Penyu mengalami siklus bertelur 2-8 tahun sekali. Penyu jantan menghabiskan seluruh hidupnya di laut. Penyu betina mampir ke daratan untuk bertelur. Penyu betina menyukai pantai berpasir yang sepi. Dari ratusan butir telur yang dihasilkan, paling banyak hanya belasan bayi penyu yang berhasil sampai ke laut kembali dan tumbuh dewasa. Kura-kura hidup di berbagai tempat, mulai daerah gurun, padang rumput, hutan, rawa, sungai, dan laut. Kura-kura ada yang bersifat pemakan tumbuhan (herbivora), pemakan daging (karnivora) atau campuran (omnivora).

Tekanan yang tinggi dan terus-menerus ini, telah menurunkan banyak populasi kura-kura ke tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Apalagi kebanyakan habitat alaminya di sungai-sungai, rawa dan hutan juga telah turut rusak akibat aktivitas manusia. penangkapan penyu dan pengambilan telurnya masih juga berlangsung secara ilegal dan sulit dihentikan. Pada pihak lain, perkembangan populasi kura-kura amat lambat dan kebanyakan malah belum diketahui sifat-sifat dan kebiasaannya. Oleh sebab itu tindakan konservasi bagi hewan ini amat diperlukan.

Pemecahan Masalah dengan Multidisiplin ilmu

Dr. Taing N. You, menyatakan bahwa setiap masalah yang menyangkut lingkungan, maka akan masalah tersebut akan membawa dan mengkaitkan dengan masalah lainnya, namun keterkaitan masalah tersebut ada yang bersifat weakly-related dan ada juga yang bersifat strongly-related. Dengan demikian sudah barang tentu apabila sebuah masalah sudah menyangkut lingkungan berarti masalah tersebut harus diselesaikan oleh semua bidang disiplin ilmu terkait yang menghubungkannya dengan lingkungan itu sendiri, baik yang memiliki hubungan secara langsung ataupun tidak langsung.

Keterlibatan Pendidikan dalam Pemecahan Konservasi Alam

Istilah konservasi diambil dari bahasa Inggris yaitu Conservation yang searti dengan kata Preservation yang keduanya mempunyai arti yang sama dalam bahasa Indonesia yaitu pengawetan dan pelestarian. Pengertian konservasi dalam tulisan ini adalah konservasi sumber daya alam. Konservasi sumber daya alam adalah upaya pengelolaan sumber daya alam yang menjamin pemanfaatan secara bijaksana dan menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keragamannya (Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya).

Pendidikan konservasi tidak mesti diartikan sesuatu cabang dari ilmu pendidikan. Tujuan utamanya adalah pendekatan dan penginterpretasian “alam lingkungan hidup”. Akan tetapi pendidikan konservasi bukan hanya sekedar memberi pengetahuan kepada masyarakat tentang lingkungan hidupnya, tetapi lebih dari itu menunjukkan pada mereka “tempat sebenarnya” dimana mereka tinggal dan hubungan dengan sekelilingnya sehingga mereka tahu cara berperilaku yang benar / baik. Dengan demikian yang dimaksud dengan pendidikan konservasi adalah pendidikan yang mengharapkan adanya perubahan tingkah laku, sikap dan cara berpikir, terutama yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam dan ekosistemnya.

Integrasi Pendidikan Lingkungan Hidup di Sekolah

Upaya melestarikan penyu sudah banyak dilakukan, mulai dari penyuluhan pemerintah sampai dengan pembuatan reklamasi di beberapa tempat strategis yang diharapkan tercapainya target dan tujuan pelestarian hewan ini. Namun hal tersebut hanya menghasilkan kepedulian masyarakat yang tidak signifikan dengan usaha yang dilakukan pemerintah tersebut. Sehingga penulis berbendapat dalam institusi pendidikanlah ini harus mulai ditanamkan kepada peserta didik di sekolah. Bahkan diharapkan dengan pendidikan inilah masalah tersebut harus mampu ikut bekerjasama dalam segi penanaman moral konservasi sejak dini mulai dari pendidikan pra dasar sampai ke tingkat pendidikan yang berada di atasnya.

Namun nyatanya, tidak semua guru mampu ikut serta dalam pemecahan masalah ini. Hanya guru profesional yang terampil yang mampu mengintegrasikan pendidikan lingkungan hidup dengan mata pelajaran yang diampunya akan menjadi sosok penting dalam pengadaan pertolongan pertama terhadap kehancuran konservasi tersebut di atas. Diharapkan dengan segenap kemampuan guru akan melahirkan peserta didik yang perduli akan lingkungan dan memahami manfaat serta pentingnya kelestarian alam.

Sebelum berbicara lebih jauh tentang peningkatan profesionalisme guru, terlebih dulu saya akan mengetengahkan konsep mengajar, yang menjadi tugas utama guru di sekolah (Pasal 39 UU RI No. 20/2003). Menurut Raka Joni (1993) mengajar adalah menggugah dan membantu terjadinya gejala belajar di kalangan siswa. Pendapat senada dikemukakan oleh Brown (1994), yang mengatakan bahwa mengajar adalah memberikan bimbingan dan fasilitas yang memungkinkan siswa dapat belajar. Sementara itu, Bowden dan Ference (1998) mengatakan bahwa mengajar bukan berarti mentransfer pengetahuan kepada siswa, tetapi membantu siswa mengembangkan pengetahuan mereka. Tugas guru adalah merancang kesempatan belajar yang mampu menghadapkan siswa pada pelbagai persoalan yang menuntut mereka mengidentifikasi dan memanipulasi variabel-variabel kritis untuk dapat mencapai hasil yang diharapkan.

Pendapat para ahli tentang mengajar di atas mengandung dua implikasi utama, yaitu ;

  1. guru berperan hanya sebagai orang yang membantu siswa belajar
  1. siswa bertanggung jawab atas terjadinya kegiatan belajar

 Pertama, sebagai pengajar guru berperan hanya sebagai orang yang membantu siswa belajar. Bantuan tersebut berbentuk pemberian motivasi dan bimbingan belajar serta penyediaan fasilitas belajar. Pemberian motivasi berkenaan dengan upaya mendorong siswa untuk belajar, baik melalui penyadaran (motivasi intrinsik) maupun melalui sistem ganjaran dan hukuman (motivasi ekstrinsik). Pemberian bimbingan mengacu pada pemberian arah agar siswa dapat belajar secara benar. Ini dapat dilkukan antara lain dengan menjelaskan tujuan pelajaran, menjelaskan hakikat tugas (tasks) yang mereka kerjakan, dan menjelaskan strategi pengerjaan tugas tersebut. Penyediaan fasilitas belajar berkenaan dengan upaya guru mempermudah terjadinya kegiatan belajar. Ini mencakup kegiatan yang luas seperti merancang kesempatan belajar, menciptakan kondisi yang kondusif bagi terjadinya pemelajaran, dan menyediakan sarana belajar (Richards dan Rodgers, 2001).

Kedua, yang bertanggung jawab atas terjadinya kegiatan belajar adalah siswa. Meskipun guru aktif mengajar, proses pemelajaran tidak terjadi apabila siswa tidak mau belajar. Di sini siswa menjadi subjek pemelajaran yang aktif dan mandiri (auto nomous learner). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Cotteral dan Crabbe (1992) terhadap pembelajar bahasa menunjukkan bahwa pembelajar yang mandiri adalah pembelajar yang (1) merencanakan dan mengorganisasi sendiri pengalaman belajarnya, (2) mengetahui bidang-bidang yang menjadi fokus pembelajaran, (3) memantau sendiri kemajuan belajarnya, (4) mencari kesempatan untuk berlatih, (5) memiliki antusiasme terhadap bahasa dan belajar bahasa, dan (6) memiliki kepercayaan diri untuk menggunakan bahasa dan mencari bantuan apabila diperlukan.

Uraian tentang konsep mengajar di atas menyanggah pandangan tradisional yang mengatakan bahwa mengajar adalah menyalurkan pengetahuan kepada siswa. Siswa dianggap tabung kosong yang siap diisi oleh guru. Siswa duduk dengan tenang di bangku yang ditata berjajar sambil mendengarkan keterangan guru, sedangkan guru sibuk di depan kelas menyampaikan materi pelajaran. Konsep mengajar sebagaimana diuraian di atas juga mengakibatkan berubahnya peran guru, dari sebagai sumber informasi tunggal menjadi fasilitator pemelajaran.

Selanjutnya di bawah ini diuraikan konsep belajar yang terkait erat dengan konsep mengajar di atas. Menurut Raka Joni (1993) belajar berarti mengubah pengetahuan dan pemahaman secara terus menerus yang dilakukan oleh siswa melalui proses pemberian makna terhadap pengalamannya.

Kebermaknaan pengalaman tersebut memiliki dua sisi, yaitu sisi intelektual dan sisi emosional. Kebermaknaan intelektual dicapai melalui dua proses, yaitu proses kognisi dan proses meta-kognisi. Proses kognisi mengacu pada terasimilasikannya isi pengalaman ke dalam struktur kognitif yang telah ada atau termodifikasinya struktur kognitif untuk mengakomodasikan isi pengalaman yang baru. Proses asimilasi kognitif terjadi apabila struktur kognitif yang telah ada mampu menampung isi pengalaman yang baru, sedangkan struktur akomodasi terjadi apabila isi pengalaman yang baru tidak dapat ditampung dalam struktur kognitif yang telah ada. Sementara itu, proses meta-kognisi mengacu pada kesadaran siswa atas proses kognisi yang sedang dilakukannya serta kemampuannya mengendalikan proses kognisinya itu. Dengan kata lain, di samping menangkap pesan kegiatan belajar yang tengah dihayatinya, siswa juga membentuk kemampuan untuk belajar (learning how to learn).

Sisi emosional dari kebermaknaan pengalaman mengacu pada rasa memiliki pengalaman itu oleh siswa. Hal ini ditandai oleh kesadaran siswa bahwa isi pengalaman tersebut penting baginya, baik pada saat ia mengalaminya maupun untuk waktu-waktu yang akan datang. Penghayatan terhadap pentingnya isi pengalaman tersebut akan memotivasi siswa melakukan aktivitas yang merupakan bagian dari pengalaman belajarnya itu. Inilah yang dimaksud dengan motivasi intrinsik. Motivasi semacam itu menjadi landasan bagi terbentuknya kemampuan serta kebiasaan belajar secara mandiri (self-directed learning) (Raka Joni, 1993).

Guru yang Profesional

Istilah profesional dalam konteks ini digunakan menurut pandangan Richards and Lockhart (2000) di atas. Soedijarto (1993b) mengklasifikasikan kemampuan profesional ke dalam empat gugus, yaitu (1) merencanakan proses belajar mengajar, (2) melaksanakan dan memimpin proses belajar mengajar, (3) menilai kemajuan ; proses belajar mengajar, dan (4) menafsirkan serta memanfaatkan hasil penilaian kemajuan belajar mengajar dan informasi lainnya bagi penyempurnaan perencanaan dan pelaksanaan proses belajar mengajar. Menurut Soedijarto, keempat gugus kemampuan tersebut dianggap sebagai kemampuan profesional karena di samping memerlukan cara kerja yang tidak mekanistik, keempat gugus kemampuan itu memerlukan penguasaan yang memadai akan dasar-dasar pengetahuan, pengetahuan tentang hubungan dasar-dasar pengetahuan dengan pelaksanaan pekerjaan, dan cara kerja dengan dukungan cara berfikir yang kreatif dan imajinatif.

Untuk memberikan gambaran sekilas tentang keempat gugus kemampuan di atas, berikut ini diketengahkan penjelasn singkat tentang masing-masing kemampuan itu.

Yang pertama adalah merencanakan program belajar mengajar. Menurut Soedijarto (1993b), kegiatan itu meliputi langkah-langkah sebagai berikut: (1) merumuskan tujuan pembelajaran khusus, (2) menguraikan deskripsi satuan pelajaran, (3) merancang kegiatan belajar-mengajar, (4) memilih media dan sumber belajar untuk memberi¬kan fasilitas bagi dapat berlangsungnya proses belajar-mengajar, dan (5) menyusun instrumen untuk menilai pencapaian tujuan belajar yang telah ditetapkan. Untuk dapat melakukan kegiatan-kegiatan di atas, guru perlu menguasai berbagai pengetahuan dan kemampuan dasar yang berhubungan dengan (1) ilmu pengetahuan, yang merupakan sumber dari materi pelajaran suatu bidang studi; (2) pelajar, dengan segala karakteristiknya, terutama yang berhubungan dengan kemampuan kognitif dan pola tingkah lakunya; (3) teori dan model belajar baik umum maupun khusus; (4) media dan sumber-sumber belajar; dan (5) teknologi pendidikan.

Langkah kedua adalah melaksanakan dan memimpin proses-belajar mengajar. Dalam tahap pelaksanaan ini semua ketentuan yang telah ditetapkan dalam rencana dicoba dilaksanakan dengan berbagai modifikasi sesuai dengan keadaan atau perkembangan yang terjadi di lapangan. Dalam kaitan ini guru dituntut memiliki kecepatan dan ketepatan mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu dilakukan, seperti menghentikan kegiatan belajar karena diketemukannya kesalahan mendasar dari beberapa siswa dalam mengerjakan tugas; mengubah pola interaksi karena pola yang digunakan kurang efektif ; mengarahkan dan memotivasi siswa karena sebagian dari mereka kurang memiliki semangat belajar; dan berbagai tindakan yang sering terjadi di luar rencana yang ditetapkan. Menurut Soedijarto (1993b), kemampuan melaksa;nakan program memerlukan kemampuan menangkap perubahan, mengambil keputusan yang cepat dan tepat, memilih dan mengambil alternatif pemecahan dengan segera, dan berbagai kemampuan lapangan yang memerlukan kiat dan kemampuan taktis.

Langkah ketiga adalah menilai kemajuan proses belajar mengajar. Menurut Soedijarto (1993b), kegiatan ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara iluminatif-observatif dan secara struktural-objektif. Yang pertama dilakukan dengan pengamatan berkelanjutan tentang perubahan dan kemajuan yang diperlihatkan oleh siswa. Ini dapat dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan mengajar. Yang kedua antara lain berkaitan dengan pemberian nilai, penentuan kedudukan siswa, dan pemberian angka yang lazim dilakukan dalam rangka penilaian kemajuan belajar.

Langkah terakhir adalah memanfaatkan hasil penilaian kemajuan belajar dan informasi lainnya tentang pelajar bagi perbaikan program belajar mengajar. Setiap pekerja profesional tidak dapat bekerja sendiri dalam menyelesaikan pekerjaannya, terutama dalam kaitannya dengan pemerolehan informasi yang diperlukan. Hal ini juga berlaku bagi guru yang profesional. Seorang guru seyogyanya mengetahui jenis informasi yang diperlukan, misalnya apabila harus menghadapi siswa yang mengalami kesulitan belajar ; mengetahui sumber informasi yang sahih dan dapat dipercaya; dan mengetahui begaimana menafsirkan informasi yang diperoleh baik dari orang tua siswa, dokter, psikolog, dan sumber informasi lain (Soedijarto, 1993 b).

Dari uraian tentang gugus kemampuan profesional di atas dapat diketahui bahwa untuk dapat merealisasikan kemampuan-kemampuan tersebut, guru perlu memiliki sejumlah pengetahuan dan penguasaan teknik dasar profesional. Dalam kaitannya dengan masalah ini, Soedijarto (1993b) mengetengahkan enam belas jenis pengetahuan dan penguasaan yang dimaksud: (1) pengetahuan tentang disiplin ilmu pengetahuan sebagai sumber bahan studi; (2) peguasaan materi bidang studi sebagai objek belajar; (3) pengetahuan tentang berbagai teori belajar, baik umum maupun khusus; (4) pengetahuan serta penguasaan berbagai model proses belajar, baik umum maupun khusus; (5) pengetahuan tentang kharakteristik dan kondisi sosial, ekonomi, budaya, politik sebagai latar belakang dan konteks berlangsungnya proses belajar; (6) pengetahuan tentang proses sosialisasi dan kulturisasi; (7) pengetahuan dan penghayatan Pancasila sebagai pandangan hidup bagsa; (8) pengetahuan dan penguasaan berbagai media sumber belajar; (9) pengetahuan tentang berbagai jenis informasi kependidikan dan manfaatnya; (10) penguasaan teknik mengamati proses belajar mengajar; (11) penguasaan berbagai metode mengajar; (12) penguasaan teknik menyusun instrumen penilaian kemajuan belajar; (13) penguasaan teknik perencanaan dan pengembangan program belajar mengajar; (14) pengetahuan tentang dinamika hubungan interaksi antara manusia terutama dalam proses belajar mengajar; (15) pengetahuan tentang sistem pendidikan sebagai bagian terpadu dari sistem sosial negara-bangsa; dan (16) penguasaan teknik memperoleh informasi yang diperlukan untuk kepentingan proses pengambilan keputusan.

Deretan panjang pengetahuan dan penguasaan di atas menyadarkan orang bahwa menjadi guru yang profesional tidaklah mudah, sebagaimana dibayangkan oleh sementara kalangan. Ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi. Oleh karena itu calon guru perlu dibekali dengan pengetahuan filsafat, psikologi, sosiologi, antropologi, politik dan penelitian, di samping disiplin ilmu bidang studi (content) dan metodologi pengajaran.

Pengembangan Profesionalisme Guru

Secara tradisional, pengembangan profesionalisme guru dipahami sebagai pemerolehan pengetahuan bidang studi dan keterampilan mengajar. Hal itu lazimnya dilakukan melalui kegiatan-kegiatan seperti penataran dan lokakarya tanpa diikuti dengan kegiatan pembimbingan dan pendampingan dalam implementasinya di lapangan.

Seringkali, apa yang dilakukan dalam penataran dan lokakarya tersebut terpisah dari tugas-tugas keseharian sebagai guru yang mengajar di dalam kelas (Dewi Rochsantiningsih, 2004). Bahkan tidak jarang, apa yang direkomendasikan dalam penataran atau lokakarya tersebut tidak dapat diaplikasikan di sekolah karena faktor-faktor tertentu, seperti pemahaman kepala sekolah yang kurang memadai akan hakikat bidang kajian yang ditatarkan itu. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila tidak terdapat perbedaan kompetensi mengajar yang signifikan antara masa sebelum dan sesudah penataran atau lokakarya.

Akhir-akhir ini, pengembangan profesionalisme guru mencakupi perspektif yang lebih luas, yang meliputi keseluruhan pengalaman belajar, baik formal maupun informal, sepanjang karier seseorang dari pendidikan prajabatan hingga masa pensiun (Fullan dalam Dewi Rochsantiningsih, 2004). Pendapat tersebut senada dengan pendapat Richards and Lockhart (2000) bahwa pengembangan profesionalisme guru terletak pada kesediaan guru untuk mengkaji praktek pengajarannya sepanjang kariernya untuk menjadi pengajar yang makin lama makin baik.

Beberapa strategi yang efektif tentang pengembangan profesionalisme guru disarankan oleh Darling-Hammond (dalam Dewi Rochsantiningsih, 2004). Strategi yang dimaksud adalah sebagai berikut: (1) melibatkan guru dalam tugas mengajar keseharian yang nyata; (2) didasarkan pada permasalahan yang terjadi di lapangan; (3) bersifat kolaboratif, yang melibatkan pertukaran pemikiran beberapa guru; (4) terkait dengan pekerjaan guru dengan siswanya serta pengkajian terhadap bidang studi dan metode penyampaiannya; (5) intensif dan berkelanjutan, yang didukung oleh modeling, pendampingan, dan pemecahan masalah yang bersifat lokal dan kontekstual; dan (6) terkait dengan aspek-aspek lain tentang perubahan kebijakan di sekolah.

 

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Pelestarian penyu sudah saatnya dilakukan dan menjadi tanggung jawab bersama, termasuk upaya intansi pendidikan yang harus ikut bergabung bersamanya, mulai pendidikan pra-sekolah sampai ke jenjang berikutnya yang lebih tinggi. Karena dengan pendidikan yang di dalamnya ada sebuah pembelajaran pembiasaan, pembelajaran moral serta etika yang terus secara continuitas diberikan kepada peserta didik, sehingga diharapkan ketika peserta didik tersebut sudak terjun ke dalam masyarakat mereka sudah terbiasa dengan kebiasaan yang baik dan mampu bertanggungjawab atas kelestarian alam sekitar termasuk kelestarian penyu di daerahnya sekitar.

Dengan paradigma baru dan etika lingkungan yang dimiliki manusia, maka konservasi alam juga ikut teramankan dapat ditanggulangi dengan kepedulian yang menghasilkan kesadaran masyarakat di semua lapisan.

  1. Saran

Dukungan pemerintah dalam pelestarian ini sangat diperlukan, dengan membuat berbagai kebijakan yang mendukung atas pendidikan konservasi alam ini mampu teroptomalkan. Kerjasama pemerintah ini sangatlah diperlukan dengan pembuatan reklamasi-reklamasi konservasi di sekolah-sekolah yang membuat para siswa ini mampu terhipnotis dengan ajakan reklamasi tersebut.

Dengan melalui kegiatan sosial yang dikemas dengan lomba antar sekolah, seperti pembuatan puisi, mengarang, pidato dan sebagainya yang bertemakan pelestarian penyu di sekolah daerah pesisir pantai Sukabumi Selatan khususnya kecamatan Surade dan Kecamatan Ciracap.


 

BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut, Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Departemen Kelautan dan Perikanan RI, 2009, Pedoman Teknis Pengelolaan Konservasi Penyu, Jakarta, Departemen Kelautan dan Perikanan RI

Eugene P. Odum,Ph.D, fifth edition. 2005, Fundamentals of Ecology, Thomson Brooks Cole.

H.R Mulyanto, 2007, Ilmu Lingkungan, Semarang, Graha Ilmu

Karden Eddy Sontang manik, 2007,  Pengeolaan Lingkungan Hidup, Lampung, Djambatan

Otto Soemarwoto, 1983, Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Bandung, Djambatan

RE. Soeriaatmaja, 1997, Ilmu Lingkungan, ITB Bandung.

http://www.google.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s